Advertisement

Rupiah Tembus Rp17.000, Ekonom UMY Soroti Tekanan Global

Anisatul Umah
Sabtu, 02 Mei 2026 - 11:57 WIB
Sunartono
Rupiah Tembus Rp17.000, Ekonom UMY Soroti Tekanan Global Ilustrasi uang rupiah / Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS pada 2026 menjadi sorotan, seiring meningkatnya tekanan global dan domestik yang memicu ketidakpastian ekonomi Indonesia. Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Nano Prawoto, menilai pelemahan ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal.

Ia mengungkapkan, sejak awal 2026 rupiah mengalami tekanan dari kisaran Rp16.000 per dolar AS hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS. Salah satu pemicunya adalah kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve yang masih lebih menarik dibandingkan suku bunga Bank Indonesia.

Advertisement

"Sehingga cadangan dolar di Indonesia berkurang, terjadi capital outflow dan berakibat rupiah melemah," ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Selain faktor suku bunga, kondisi geopolitik global turut memberi tekanan. Kenaikan harga minyak dunia serta kecenderungan investor memilih obligasi berbasis dolar dengan imbal hasil lebih tinggi memperkuat arus keluar modal dari Indonesia.

Dari sisi domestik, Nano menjelaskan investor mulai melepas saham dan obligasi rupiah, kemudian beralih ke aset dolar. Kondisi ini diperparah oleh beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang meningkat akibat subsidi energi dan belanja sosial yang besar.

Ia menambahkan, kebutuhan pembiayaan proyek strategis yang tetap berjalan juga mendorong peningkatan utang, sehingga defisit fiskal melebar dan memengaruhi kepercayaan investor terhadap rupiah.

"Tentu melemahnya nilai rupiah terhadap dolar ini mengakibatkan target pertumbuhan ekonomi 5,4% tahun 2026 sedikit susah tercapai," jelasnya.

Dampak lanjutan dari pelemahan rupiah adalah potensi penurunan konsumsi masyarakat akibat sentimen pasar. Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, masyarakat cenderung menyimpan uang dalam bentuk tunai. Selain itu, risiko imported inflation juga meningkat akibat kenaikan harga energi global dan penguatan dolar.

Nano menyebut, sulit memprediksi kapan tekanan terhadap rupiah akan mereda. Hal ini sangat bergantung pada kondisi ekonomi global, konflik geopolitik seperti ketegangan AS-Israel dengan Iran, serta arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi.

Meski demikian, ia menilai posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar 148 miliar dolar AS masih cukup kuat untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menahan laju pelemahan.

"Namun demikian perkiraan kasar saya bahwa penurunan nilai rupiah di atas Rp17.300 per dolar ini relatif mempunyai durasi panjang bahkan sampai akhir tahun 2026," paparnya.

Untuk menahan tekanan, ia menyarankan pemerintah mendorong peningkatan ekspor melalui insentif fiskal yang lebih mudah dan kompetitif, serta memperkuat kepercayaan investor melalui perbaikan birokrasi dan kepastian kebijakan.

"BI sebagai otoritas moneter tetap menjaga nilai rupiah stabil pada level Rp17.300-an per dolar walaupun sedikit berat karena faktor eksternal memang pengaruhnya kuat sekali," lanjutnya.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate menunjukkan pada 30 April 2026 nilai tukar rupiah berada di level Rp17.378 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi 29 April 2026 sebesar Rp17.324 per dolar AS, mempertegas tekanan yang masih berlanjut di pasar keuangan nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

IKD Sleman Disorot, Perekaman KTP-el Nyaris Sempurna 99,8 Persen

IKD Sleman Disorot, Perekaman KTP-el Nyaris Sempurna 99,8 Persen

Sleman
| Sabtu, 02 Mei 2026, 09:37 WIB

Advertisement

Thailand Bakal Hapus Bebas Visa, Turis Wajib Verifikasi Saldo Keuangan

Thailand Bakal Hapus Bebas Visa, Turis Wajib Verifikasi Saldo Keuangan

Wisata
| Kamis, 30 April 2026, 15:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement