Ekspor & Investasi untuk Pulihkan Perekonomian

Ekspor & Investasi untuk Pulihkan PerekonomianIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
14 Juni 2018 05:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang tengah lesu sebagai akibat pelemahan rupiah terhadap dolar, kegiatan ekspor barang dan jasa, serta investasi perlu didorong. Upaya mendorong kedua sektor ini, tidak hanya di nasional, tetapi juga di DIY yang memiliki banyak potensi untuk mendongkrak kedua sektor tersebut. 

Pakar ekspor impor DIY Robby Kusumaharta menilai akhir-akhir ini, kedua sektor ini menunjukkan penurunan kinerja. Ditemui saat mengisi acara di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY belum lama ini, Robby menuturkan jika sajafree trade agreement dapat disahkan lebih cepat, maka percepatan pertumbuhan ekspor akan mampu meningkatkan kinerja ekspor nasional. 

"Tentunya kinerja ekspor Indonesia, tidak akan kalah dengan Thailand atau negara Asia lainnya. Apalagi demand dan kapasitas produksinya juga besar. Jadi ini pertama yang perlu diselesaikan," ujar Robby belum lama ini. 

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIY ini juga mengatakan turunnya kinerja ekspor nasional, beberapa tahun ini di bawah negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, Kamboja, Filipina yang akhirnya berdampak pada merosotnya pemasukan devisa. Untuk itu, upaya untuk mendongkrak kinerja ekspor perlu segera dilakukan. 

Bank Indonesia, kata Robby, bisa mengambil peranan tersebut. Bank sentral ini diharapkan tidak hanya berkutat pada instrumen moneter saja. Akan tetapi juga diharapkan dapat turut mengembangkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan lebih cepat. 

"Ekspor perlu didorong, dibuka sedikit akses permodalannya. Selain itu, berikan akses permodalan juga untuk investasi untuk mengganti substansi impor. Karena dolar kita selama ini habis untuk pembiayaan impor," kata Robby. 

Robby mencontohkan apabila 20 perusahaan dapat membuat industri investasi substansi impor, maka diperlukan treatment spesial yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. 

Lebih lanjut Robby memaparkan sejumlah hambatan yang dihadapi dalam upaya mendongkrak kedua sektor tersebut. Secara umum hambatan yang ditemui antara lain infrastruktur yang mana dinilai biaya logistik masih mahal hingga 17%. 

"Selain itu, pelayanan dan perizinan. Easy doing business rank masih kalah dengan beberapa negara ASEAN lain. Skill labour dari sisi SDM juga masih lemah," kata Robby. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, kinerja ekspor DIY pada April 2018 menunjukkan penurunan sebesar 4,30% dibandingkan bulan sebelumnya. Kepala BPS DIY, JB Priyono mengungkapkan dibandingkan setahun lalu, kumulatif Januari-April 2018, nilai ekspor meningkat sebesar 16,57%. 

"Hanya saja selama April lalu mengalami penurunan sebesar 4,30 persen dengan nilai US$36,73 juta. Sementara untuk impor naik 7,65 persen dengan nilai mencapai US$419.880," ujar Priyono.