Tenang ... Ekonomi Indonesia Diprediksi Akan Tetap Stabil

Tenang ... Ekonomi Indonesia Diprediksi Akan Tetap StabilIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
21 September 2018 08:30 WIB Hadijah Alaydrus Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—World Bank memperkirakan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun ini akan tetap stabil di kisaran 5,2%. Pertumbuhan ekonomi tahun ini masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga.

Proyeksi ini tidak berubah dari proyeksi terakhir yang dirilis World Bank pada Juni 2018. Dalam laporan ekonomi kuartalan yang dirilis, Kamis (20/9), pertumbuhan ekonomi tahun ini masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Chief Economies World Bank Frederico Gil Sander mengatakan permintaan domestik diperkirakan berlanjut sebagai motor pertumbuhan ke depannya.

"Akselerasi kecil di dalam konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tetap berlanjut seiring dengan inflasi yang stabil, kuatnya pasar tenaga kerja dan rendah suku bunga kredit di dalam negeri," ungkap Gil, Kamis (20/09).

Selain itu, konsumsi pemerintah diperkirakan tetap kuat dengan pertumbuhan penerimaan yang mampu menciptakan ruang untuk konsolidasi fiskal dan tambahan belanja. "Pertumbuhan investasi tetap kuat seiring dengan momentum investasi di sektor publik dan pertambangan dan bahkan ke depannya dengan berkurangnya ketidakpastian politik pasca Pilkada," kata Gil.

Sementara itu, World Bank melihat defisit transaksi berjalan Indonesia dapat mencapai 2,4% pada tahun ini. Menurut Gil, defisit transaksi berjalan tidak selamanya buruk. Dalam konteks Indonesia, defisit transaksi berjalan lebih disebabkan oleh dua hal. Pertama, peningkatan harga minyak mentah. Kedua, peningkatan pertumbuhan impor bahan modal bagi kebutuhan investasi.

Faktor kedua, kata Gil, bukan sesuatu hal yang buruk karena Indonesia butuh pembangunan infrastruktur. Gap infrastruktur Indonesia cukup besar yakni US$1,5 triliun [Rp22.266 triliun]. "Saat ini mungkin akan mengarah ke defisit transaksi berjalan, tetapi ke depannya ini akan meningkatkan kapasitas produksi ekonomi sehingga Indonesia bisa lebih banyak melakukan ekspor dan memproduksi barang sendiri hingga mengurangi impor," ujar Gil.

Menurutnya, kondisi defisit transaksi berjalan ini harus dilihat secara menyeluruh ke depannya. World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Tanah Air akan stagnan di kisaran 5,2% tahun depan. 

Alasan utama dari proyeksi tersebut adalah pengetatan suku bunga moneter yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. "Sama halnya dengan belanja pemerintah yang kami lihat akan mengalami deakselerasi," kata Gil.

Pasalnya, pemerintah tidak memperluas belanja yang lebih besar pada tahun depan. Sementara itu, faktor pelemahan nilai tukar juga akan berpengaruh, terutama kepada laju inflasi.

Kendati masih sesuai target BI dan pemerintah, Gil melihat inflasi dapat sedikit menahan laju pertumbuhan konsumsi pada tahun depan.

Faktor lain, dia mengungkapkan ada baseline effect yang akan memengaruhi laju inflasi pada tahun depan. "Tahun ini basisnya cukup rendah karena pemerintah tetap memberikan subsidi sehingga harga-harga sangat stabil, tetapi ke depannya harga pangan akan meningkat dari tahun ini yang basisnya cukup rendah," paparnya.

Kendati ada tekanan inflasi, Gil melihat angka pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap stabil pada tahun depan. Sama halnya dengan investasi. Tahun politik akan membuat investor wait and see. Jika Pemilu sudah selesai, dia yakin investasi akan kembali marak di akhir tahun depan.

Sumber : Bisnis Indonesia