Soetta Sambut Airbus A380 Emirates untuk Chelsea vs AC Milan
Bandara Soekarno-Hatta siap melayani operasional perdana Airbus A380 Emirates pada 8 Agustus 2026 untuk mendukung laga Chelsea vs AC Milan.
Silicon Valley Bank SVB/JIBI-Bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA—Runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) pada pekan lalu dinilai bisa memicu resesi global.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan adanya naiknya potensi resesi global setelah tumbangnya Silicon Valley Bank (SVB).
Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menyampaikan resesi global yang baru saja mendapatkan angin segar dengan berbagai lembaga internasional meningkatkan optimismenya jauh dari resesi setelah China membuka ekonominya. Kini kekhawatiran tersebut muncul lagi karena menyangkut sektor keuangan.
“Dengan kejadian ini yang dipicu oleh sektor keuangan, saya rasa ini bisa memicu resesi kalau nggak ditangani. Hari ini kami mendengar sudah merambat ke Eropa,” ujarnya dalam diskusi publik Indef, Kamis (16/3/2023).
Setelah The Fed memicu langkah agresif dalam menaikkan suku bunga, negara lain mengimbangi suku bunga masing-masing. Hal tersebut dilakukan untuk mengendalikan inflasi dan mencegah capital outflow.
Melihat inflasi di negara-negara besar seperti Amerika dan Eropa yang masih cukup tinggi, di mana mengandalkan suku bunga acuan dalam pengendaliannya, menjadikan potensi resesi semakin tinggi.
“Kalau kemudian terus menerus menaikkan suku bunga, ya tidak bisa dihandari resesi global,” jelasnya.
Sebelum runtuhnya SVB, The Fed memberikan sinyal masih akan melakukan langkah agresif dalam suku bunga. Sementara banyak ekonom memproyeksikan dengan runtuhnya SVB diikuti Siganture Bank, akan membuat The Fed menahan diri.
“Karena sudah ada bank yang jatuh, saya rasa The Fed kemungkinan tidak akan agresif ke depan, sampai situasi bank bisa confidence dan bisa adaptasi kepada kebijakan AS,” tambahnya.
Padahal, SVB dapat dikatakan sebagai bank yang tidak terlalu besar dan kalau pun ditutup, tidak ada dampak langsung yang dirasakan.
Peneliti di Center of Indutry, Trade, and Investment Indef Ahmad Heri Firdaus melaporkan dari hasil perhitungan nilai aset SVB dengan bank lainnya di AS, SVB hanya berkontribusi 1-2 persen.
Mengingat SVB memiliki kekhususan dalam mendanai perusahaan rintisan atau startup, hal tersebut lah yang menyulut kekhawatiran berlebih.
“Sebenarnya yang bikin berdampak buruk itu adalah karena ketakutannya. Panik dan khawatir berlebihan, sentimen pasar yang terlalu berlebihan meresponnya, ini yang justru menimbulkan dampak buruk,” katanya.
Bahkan, untuk Indonesia sendiri dengan gejolak ekonomi AS tersebut tidak berdampak banyak, justru menjadi kabar baik bagi rupiah.
Setelah dua bank di AS ambruk, kini Credit Suisse di Eropa berada pada ambang kebangkrutan, namun kabarnya akan menarik pinjaman US$54 miliar dari Bank Sentral Swiss untuk bertahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Bandara Soekarno-Hatta siap melayani operasional perdana Airbus A380 Emirates pada 8 Agustus 2026 untuk mendukung laga Chelsea vs AC Milan.
Honda dikabarkan menyiapkan SUV Rp160 jutaan untuk India. Mesin Horse Powertrain dan produksi 2028 masih dalam tahap evaluasi.
Tu-95 Rusia jatuh saat penerbangan latihan di Amur. Enam awak tewas, satu lainnya terluka dan penyebab kecelakaan masih diselidiki.
Aldila/Christopher menang 6-1, 6-1 atas Nepal di Asian Games 2026. Rifqi Fitriadi juga melaju ke putaran ketiga.
FIFA menuduh UEFA melakukan pelecehan terhadap Gianni Infantino dan mencoba memengaruhi pemilihan presiden FIFA lewat sengketa FFE.
Thailand lolos ke final FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menang 2-0 atas Vietnam. Indonesia masih berebut tiket final dari Grup A.