Tol Jogja-Solo: Exit Toll Bokoharjo Ditarget Fungsional Lebaran 2027
Pembangunan Tol Jogja-Solo mencapai 98%. Jasa Marga menambah akses exit Tol Purwomartani menuju Bokoharjo yang ditargetkan fungsional saat Lebaran 2027.
Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati./Harian Jogja-Anisatul Umah
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menanggapi terkait turunnya kelas menengah yang sedang banyak diperbincangkan.
Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati mengatakan sampai saat ini penurunan kelas menengah belum dibedah secara regional DIY.
Menurutnya secara nasional sudah dibedah di mana konsumsi masyarakat untuk non makanan cenderung turun. Mengindikasikan daya beli kelas menengah turun.
"Antara pendapatan dengan kenaikan-kenaikan harga itu gak seimbang juga, harga naik mungkin pendapatan gak begitu naik," paparnya, Sabtu (14/9/2024).
BACA JUGA: Jogja Kembali Diguncang Gempa M4,9, Rentetan Gempa Susulan Masih Terjadi hingga Siang Ini
Herum mengatakan untuk melihat kondisi objektif di DIY perlu dibedah terlebih dahulu secara detail. Ia menyebut isu kelas menengah baru mengemuka belakangan ini. "Jadi kami belum bedah."
Wakil Ketua Apindo DIY Bidang Ketenagakerjaan, Timotius Apriyanto mengatakan untuk menaikkan kelas menengah cukup sulit. Ia menyebut saat ini ada upaya pengetatan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, di mana BBM subsidi banyak dikonsumsi kelas menengah.
Di sisi lain ada rencana kenaikan PPN menjadi 12%. Dari sisi pekerja menurutnya mereka menyampaikan aspirasi tentang listrik yang mahal.
"Ekonomi makro Indonesia dan DIY sedang tidak baik-baik saja, deflasi 4 kali, apalagi didorong penurunan kelas menengah," tuturnya.
BACA JUGA: Larangan Jual Tembakau Alternatif di Medsos Rugikan UMKM
Ia mengaku khawatir jika pemerintah tidak serius memberikan insentif kebijakan kepada kelas menengah dampaknya akan memburuk. Di mana insentif juga diberikan kepada kelas atas lewat pajak dan bantuan sosial untuk kelas bawah.
Sebelumnya, BPS mencatat jumlah penduduk kelas menengah selama lima tahun terakhir terus menurun. Di mana pada 2024 sebanyak 47,85 juta penduduk, lebih rendah dibandingkan 2019 sebanyak 57,33 juta penduduk. Penduduk kategori menuju kelas menengah atau aspiring middle class mencapai 137,5 juta jiwa pada 2024, sementara pada 2019 jumlahnya 128,85 juta jiwa. (Anisatul Umah)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan Tol Jogja-Solo mencapai 98%. Jasa Marga menambah akses exit Tol Purwomartani menuju Bokoharjo yang ditargetkan fungsional saat Lebaran 2027.
BMKG memprakirakan mayoritas wilayah di DIY cerah pada Kamis 13 Agustus 2026. Bantul berpotensi berawan, sementara Kota Jogja terpanas.
Kiper 16 tahun Athaullah Daib motoran dari Gunungkidul ke Jogja demi latihan PSIM setelah dipromosikan dari EPA U-16 ke tim senior.
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dari Yogyakarta ke Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN meminta makanan MBG yang tidak layak tidak dikonsumsi dan segera dikembalikan ke SPPG untuk diperiksa dan diinvestigasi.