Nasib Tol Getaci Dievaluasi, Pemerintah Cari Formula Baru
Pemerintah merestrukturisasi proyek Tol Getaci setelah dua kali lelang gagal menarik investor. Evaluasi ditargetkan selesai pada 2027.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggenggam tabel yang menunjukkan bahwa Indonesia membebankan tarif impor sebesar 64% untuk komoditas barang dari Amerika, Kamis (3/4/2025) ist/bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA – Kebijakan tarif timbal balik (resiprokal) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bakal berdampak pada negara-negara di Asia. Indonesia bahkan termasuk 10 besar negara yang bakal terimbas banyak.
Trump mengumumkan bakal menambah bea masuk produk ekspor Indonesia dengan tarif timbal balik sebesar 32% pada hari ini, Kamis (3/4/2025).
BACA JUGA: Istana Klaim Antisipasi Dampak Kebijakan Tarif Impor 32 Persen Trump
Melansir dari Bloomberg, pungutan baru ini bersifat tambahan terhadap tarif yang telah berlaku sebelumnya, termasuk pajak 20% terhadap barang-barang China yang terkait dengan fentanil.
Selain itu, pengecualian untuk barang-barang jangka pendek juga telah dicabut. Bila ditelisik, Trump mengerek pengenaan tarif timbal balik pada sejumlah negara yang dinilai selama ini telah meraup keuntungan dari hubungan perdagangan dengan AS.
Di mana, Indonesia sendiri memang mencatatkan surplus dagang dengan Amerika. Pada akhir Februari 2025 saja, Indonesia mencatat surplus dagang dengan AS tembus US$3,14 miliar.
Bahkan, surplus tersebut jauh lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu, yang kala itu senilai US$2,65 miliar. Tidak hanya itu, Trump juga sempat memberi sinyal bahwa penetapan tarif timbal balik disandarkan dengan pengenaan tarif impor yang ditetapkan sejumlah negara kepada Amerika.
Saat menyampaikan pidatonya, Trump menggenggam tabel yang menunjukkan bahwa Indonesia membebankan tarif impor sebesar 64% untuk komoditas barang dari Amerika.
Alhasil, Indonesia masuk ke dalam daftar 10 besar negara yang menanggung tarif Trump paling jumbo di Asia. Pengenaan tarif baru AS untuk Indonesia bahkan tak jauh berbeda dengan China yang merupakan lawan dagang paling kompetitif untuk AS sebesar 34%.
1. Kamboja: 49%
2. Laos: 48%
3. Vietnam 46%
4. Myanmar: 44%
5. Sri Lanka: 44%
6. Bangladesh: 37%
7. Thailand: 36%
8. China: 34%
9. Indonesia: 32%
10. Taiwan: 32%
11. Pakistan: 29%
12. India: 26%
13. Korea Selatan: 25%
14. Brunei Darussalam: 24%
15. Jepang: 24%
16. Malaysia: 24%
17. Filipina: 17%
18. Singapura: 10%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pemerintah merestrukturisasi proyek Tol Getaci setelah dua kali lelang gagal menarik investor. Evaluasi ditargetkan selesai pada 2027.
UGM mendorong penguatan blue food sebagai solusi ketahanan pangan nasional di tengah proyeksi kenaikan kebutuhan protein hingga 67% pada 2050.
Bea Cukai Kudus menerapkan ultimum remidium terhadap tujuh kasus rokok ilegal dengan total denda Rp582,71 juta sepanjang semester I/2026.
PDIP memperingati 30 tahun Kudatuli dengan aksi teatrikal, ritual adat, dan pembacaan puisi di Gedung DPP PDIP di Jakarta.
Sebanyak 11 SPPG di Sleman menghentikan operasional sementara akibat kendala renovasi, IPAL, dan administrasi.
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp5 miliar untuk memperbaiki tiga ruas jalan pada 2026. Dua proyek sudah memasuki tahap kontrak.