Rupiah Cetak Rekor Terlemah Pasar Waspadai Tembus Rp18.120

Akbar Maulana
Akbar Maulana Jum'at, 05 Juni 2026 09:17 WIB
Rupiah Cetak Rekor Terlemah Pasar Waspadai Tembus Rp18.120

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA -- Rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (5/6/2026) setelah sehari sebelumnya ditutup di level terendah sepanjang sejarah. Pelaku pasar kini mengantisipasi kemungkinan pelemahan lanjutan hingga menyentuh kisaran Rp18.120 per dolar AS.

Pergerakan rupiah menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari biaya impor, harga bahan baku industri, hingga tekanan terhadap inflasi. Kondisi tersebut juga menjadi sinyal yang terus dicermati investor di tengah ketidakpastian global dan domestik.

Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 82 poin atau 0,46% ke posisi Rp18.049 per dolar AS. Angka tersebut menjadi level penutupan terendah yang pernah dicatat mata uang Indonesia.

Menariknya, pelemahan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS justru tercatat turun 0,10% ke level 99,42. Situasi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari pergerakan dolar, tetapi juga dipengaruhi sentimen lain yang berkembang di pasar.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut pada perdagangan hari ini.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.050 sampai Rp18.120 per dolar AS,” ujar Ibrahim, Kamis (4/6/2026).

Salah satu faktor yang masih membebani pasar adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, investor dinilai masih menunggu kepastian implementasi kesepakatan tersebut.

Pasar menilai risiko belum sepenuhnya mereda karena penghentian konflik bergantung pada pelaksanaan komitmen dari berbagai pihak yang terlibat. Selain itu, pasukan Israel dilaporkan masih memperluas operasi militer di wilayah Lebanon selatan dalam beberapa hari terakhir.

Ketidakpastian tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Selain faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat. Data non-farm payroll (NFP) menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Sebelumnya, laporan perusahaan pemroses penggajian ADP menunjukkan sektor swasta Amerika Serikat menambah 122.000 lapangan kerja pada Mei. Capaian tersebut melampaui ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Data tenaga kerja yang solid berpotensi memperkuat pandangan bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut biasanya memberikan dukungan terhadap dolar AS dan menambah tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, investor juga mencermati sejumlah faktor yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memperbesar tekanan terhadap fiskal pemerintah apabila berlangsung dalam periode yang panjang.

Pasar juga memperhatikan kemungkinan meningkatnya intervensi pemerintah dalam pengelolaan komoditas serta ketidakpastian terkait evaluasi status pasar modal Indonesia oleh MSCI yang hingga kini belum menghasilkan keputusan resmi.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, sebelumnya memproyeksikan dua skenario pergerakan rupiah sepanjang 2026.

Dalam skenario optimistis, rupiah berpotensi menguat hingga berada di level Rp17.089 per dolar AS. Skenario tersebut ditopang oleh intervensi Bank Indonesia yang agresif, kebijakan moneter yang kredibel, terjaganya independensi BI, disiplin fiskal pemerintah, serta masuknya aliran modal asing ke pasar obligasi dan saham.

Sebaliknya, dalam skenario pesimistis, rupiah diproyeksikan melemah hingga Rp17.834 per dolar AS apabila tekanan eksternal dan domestik semakin besar.

“Skenario negatif untuk rupiah adalah adanya intervensi politik ke Bank Indonesia, melebarnya defisit transaksi berjalan, kebijakan hawkish The Fed, konflik geopolitik, dan capital outflow dari pasar obligasi maupun saham,” kata Nafan.

Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan akan sangat dipengaruhi perkembangan data ekonomi global, arah kebijakan The Fed, dinamika geopolitik, serta respons otoritas moneter domestik dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online