Rupiah Melemah, Harga Gadget hingga Tiket Pesawat Terancam Naik

Gaida Salsabila
Gaida Salsabila Jum'at, 05 Juni 2026 13:27 WIB
Rupiah Melemah, Harga Gadget hingga Tiket Pesawat Terancam Naik

Foto ilustrasi uang rupiah - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi perhatian setelah bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,71% atau turun 125,50 poin ke posisi Rp17.966 per dolar AS, sementara indeks dolar AS menguat ke level 99,30.

Tekanan terhadap mata uang Garuda berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Iran, Amerika Serikat, serta sejumlah negara di kawasan Teluk.

Kondisi di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia turut memunculkan kekhawatiran terhadap rantai pasok global dan stabilitas pasar keuangan.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati kenaikan inflasi Mei 2026 yang mencapai 0,28% secara bulanan. Selain itu, meski Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, surplus pada April 2026 mengalami penyusutan yang cukup signifikan sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan sektor eksternal.

Mengapa Dolar Menguat Bisa Memicu Kenaikan Harga?

Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat karena perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk memperoleh jumlah dolar yang sama.

Sebagai ilustrasi, pembayaran impor senilai US$1 juta membutuhkan dana Rp16 miliar saat kurs berada di level Rp16.000 per dolar AS. Namun ketika kurs naik menjadi Rp18.000 per dolar AS, kebutuhan dana melonjak menjadi Rp18 miliar.

Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya dapat diteruskan ke konsumen melalui penyesuaian harga jual. Dampaknya akan lebih terasa pada sektor yang masih bergantung pada bahan baku, komponen, maupun mesin impor.

Daftar Barang yang Berpotensi Naik Harga

1. Smartphone dan Gadget

Industri elektronik menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah. Mayoritas smartphone masih menggunakan komponen impor seperti chipset, layar, kamera, baterai, hingga memori.

Meski sebagian perangkat dirakit di Indonesia, komponen utama tetap dibeli menggunakan dolar AS. Akibatnya, harga ponsel baru maupun aksesori elektronik berpotensi meningkat apabila pelemahan rupiah berlangsung lama.

2. Laptop dan Komputer

Komponen seperti prosesor, kartu grafis, RAM, SSD, motherboard, hingga monitor sebagian besar diproduksi di luar negeri.

Jika nilai tukar rupiah terus melemah, harga laptop, komputer rakitan, maupun perangkat pendukung teknologi lainnya berpotensi mengalami penyesuaian.

3. Mobil dan Motor

Industri otomotif nasional masih mengandalkan sejumlah komponen impor, mulai dari sensor elektronik hingga teknologi kendaraan modern.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi kendaraan sekaligus mendorong kenaikan harga suku cadang, servis, dan biaya perawatan.

4. Produk Pangan Berbahan Impor

Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas penting seperti gandum, kedelai, dan gula mentah.

Jika dolar menguat, biaya impor bahan baku tersebut ikut naik dan berpotensi memengaruhi harga berbagai produk konsumsi, antara lain:

  • Mi instan
  • Roti
  • Biskuit
  • Kue dan pastry
  • Produk berbahan tepung terigu
  • Tahu dan tempe berbahan kedelai impor

5. Susu dan Produk Olahan Susu

Banyak produsen susu masih mengandalkan bahan baku impor berupa susu bubuk.

Kondisi tersebut membuat sejumlah produk berpotensi terdampak, seperti:

  • Susu formula
  • Susu bubuk
  • Keju
  • Yoghurt
  • Mentega
  • Minuman berbasis susu

6. Obat-obatan dan Alat Kesehatan

Sebagian besar bahan baku farmasi masih didatangkan dari luar negeri.

Selain obat-obatan, harga alat kesehatan seperti perangkat laboratorium, alat diagnostik, hingga perlengkapan rumah sakit juga berpotensi meningkat jika pelemahan rupiah berlanjut.

7. Tiket Pesawat

Industri penerbangan memiliki banyak komponen biaya berbasis dolar AS, mulai dari leasing pesawat, suku cadang, perawatan, hingga asuransi.

Ketika kurs dolar naik, biaya operasional maskapai ikut meningkat dan dapat berujung pada penyesuaian tarif penerbangan.

8. Elektronik Rumah Tangga

Produk seperti televisi, kulkas, mesin cuci, AC, microwave, dan vacuum cleaner juga rentan terdampak karena masih menggunakan banyak komponen impor.

Kenaikan biaya impor dapat mendorong produsen maupun distributor menyesuaikan harga jual.

9. Produk Fashion dan Barang Mewah

Barang-barang gaya hidup seperti sepatu olahraga internasional, tas bermerek, jam tangan premium, kosmetik impor, hingga pakaian dari merek luar negeri diperdagangkan menggunakan mata uang asing.

Saat dolar menguat, harga jual produk-produk tersebut berpotensi ikut meningkat.

Tidak Semua Harga Langsung Naik

Meski pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor, tidak semua barang otomatis mengalami kenaikan harga dalam waktu singkat.

Beberapa faktor yang dapat menahan kenaikan harga antara lain:

  • Perusahaan masih memiliki stok lama yang dibeli saat kurs lebih rendah.
  • Persaingan pasar membuat pelaku usaha menahan kenaikan harga.
  • Efisiensi biaya produksi yang dilakukan perusahaan.
  • Kebijakan pemerintah melalui subsidi atau pengendalian pasokan.

Karena itu, dampak pelemahan rupiah biasanya terjadi secara bertahap dan berbeda pada setiap sektor.

Daya Beli Masyarakat Terancam

Jika dolar bertahan di kisaran Rp18.000 per dolar AS atau bahkan lebih tinggi dalam jangka panjang, tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat adalah penurunan daya beli.

Kenaikan biaya impor dapat mendorong inflasi lebih tinggi, sementara pendapatan masyarakat belum tentu meningkat pada kecepatan yang sama.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat perlu lebih selektif mengatur pengeluaran, terutama untuk kebutuhan yang sangat bergantung pada produk impor.

Pelemahan rupiah bukan hanya menjadi isu di pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi biaya hidup sehari-hari. Karena itu, pergerakan kurs dolar menjadi salah satu indikator penting yang perlu dicermati oleh pelaku usaha maupun masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online