IHSG Menguat 2,3 Persen, Investor Sambut Positif Langkah BI

Newswire
Newswire Rabu, 10 Juni 2026 12:27 WIB
IHSG Menguat 2,3 Persen, Investor Sambut Positif Langkah BI

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona hijau pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Penguatan IHSG didorong respons positif pelaku pasar terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI), termasuk kenaikan suku bunga acuan serta langkah stabilisasi pasar modal yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat terkoreksi 2,59 poin atau 0,05% ke level 5.744,06. Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Hingga pukul 09.35 WIB, indeks berbalik menguat 132,84 poin atau 2,31% dan bertengger di posisi 5.879,49.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan reli yang terjadi saat ini berhasil meredakan kepanikan pasar untuk sementara waktu. Meski demikian, sejumlah faktor yang sebelumnya menekan pasar dinilai masih belum sepenuhnya hilang.

“Kiwoom Research menilai reli ini berhasil menghentikan kepanikan pasar untuk sementara, namun faktor-faktor yang memicu tekanan sebelumnya seperti arus keluar dana asing, meningkatnya sovereign risk premium, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal belum sepenuhnya hilang. Kebangkitan IHSG akan jumpai tantangan terdekat di sekitar 5.900 (Resistance MA10) dan support 5.550,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Penguatan IHSG terjadi setelah indeks mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan sehari sebelumnya. Pada Selasa (9/6/2026), IHSG melesat 404 poin atau 7,57% ke level 5.722 setelah sebelumnya menyentuh titik terendah sepanjang tahun 2026 di level 5.317.

Menurut Liza, pemulihan tersebut dipicu sejumlah sentimen domestik, termasuk pertemuan pemerintah dengan para CEO BUMN untuk mendorong aksi buyback saham. Selain itu, pasar juga merespons positif keputusan Bank Indonesia yang secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.

“Pemulihan terjadi setelah pemerintah menggelar pertemuan dengan para CEO BUMN untuk mendorong aksi buyback saham, serta langkah mengejutkan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,50 persen di luar jadwal rapat reguler, setelah Gubernur BI mengakui pelemahan Rupiah terjadi lebih cepat dan lebih dalam dari perkiraan,” ujar Liza.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto juga menerima laporan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan mengenai perkembangan ekonomi nasional. Laporan tersebut mencakup evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), percepatan integrasi GovTech berbasis kecerdasan buatan (AI), serta kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Selat Hormuz.

Pasar juga mencermati kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik 32% dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 meningkat 31,7% dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Adapun Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan pada harga sebelumnya.

Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada perkembangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta rilis data inflasi Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Harapan pasar terhadap meredanya ketegangan sempat meningkat setelah Iran dan Israel menghentikan serangan pada Senin (8/6/2026). Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut pembahasan kesepakatan nuklir Iran telah memasuki tahap akhir dan membuka peluang Selat Hormuz kembali normal dalam beberapa hari.

Namun situasi kembali memanas setelah Trump menyatakan Iran menembak jatuh helikopter Apache milik AS di kawasan Selat Hormuz. Meski kedua pilot dilaporkan selamat, Presiden AS menegaskan negaranya akan memberikan respons atas insiden tersebut.

Tak lama berselang, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi dimulainya serangan balasan terhadap target di Iran. Perkembangan itu kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Di saat yang sama, investor global juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 yang dijadwalkan terbit pada Rabu (10/6/2026) serta Producer Price Index (PPI) pada Kamis (11/6/2026).

Kuatnya data ketenagakerjaan AS dan lonjakan harga energi membuat pasar semakin yakin Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama. Probabilitas kenaikan suku bunga tambahan tahun ini bahkan diperkirakan mencapai sekitar 69%.

Pada perdagangan sebelumnya, mayoritas bursa saham Eropa bergerak melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 0,24%, FTSE 100 Inggris terkoreksi 1,41%, DAX Jerman melemah 0,74%, sementara CAC 40 Prancis menguat tipis 0,04%.

Tren pelemahan juga terjadi di Wall Street. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,17%, sedangkan S&P 500 turun 0,26% dan Nasdaq Composite terkoreksi 1,12%.

Sementara itu, mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini juga bergerak di zona merah. Indeks Nikkei turun 1,14% ke level 64.663,00, Shanghai Composite melemah 0,76% menjadi 3.979,65, Hang Seng terkoreksi 1,12% ke 24.300,00, sedangkan Strait Times turun 1,09% ke posisi 4.967,43. Pergerakan bursa global tersebut masih menjadi faktor yang akan memengaruhi arah IHSG dalam perdagangan selanjutnya, di tengah perhatian investor terhadap kebijakan moneter, kondisi fiskal, serta perkembangan geopolitik internasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online