Rupiah Bangkit ke Rp17.950 per Dolar AS, Keluar dari Level Rp18.000

Jumali
Jumali Rabu, 10 Juni 2026 17:37 WIB
Rupiah Bangkit ke Rp17.950 per Dolar AS, Keluar dari Level Rp18.000

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Penguatan ini membuat mata uang Garuda kembali keluar dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang sempat ditembus pada pekan lalu.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,55% ke posisi Rp17.950 per dolar AS. Capaian tersebut menandai pemulihan setelah rupiah sempat berada di atas level Rp18.000 per dolar AS sejak 4 Juni 2026.

Sepanjang perdagangan, rupiah sebenarnya dibuka lebih kuat di level Rp17.875 per dolar AS atau terapresiasi sekitar 0,97%. Meski sempat bergerak fluktuatif, mata uang domestik tetap mampu mempertahankan tren penguatan hingga penutupan pasar.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis. Hingga pukul 15.00 WIB, DXY berada di level 99,882 atau turun 0,03%.

Ditopang Kenaikan BI Rate

Penguatan rupiah masih dipengaruhi respons positif pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.

Kebijakan yang diumumkan sehari sebelumnya tersebut berada di luar ekspektasi sebagian pelaku pasar dan dinilai sebagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Kenaikan suku bunga biasanya meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sehingga mendorong aliran modal masuk dan menopang penguatan mata uang.

Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Menguatnya rupiah membawa sejumlah dampak positif bagi perekonomian. Harga barang impor seperti produk elektronik, kendaraan bermotor, hingga bahan baku industri berpotensi menjadi lebih murah karena biaya pembelian dalam dolar AS menurun.

Selain itu, perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam mata uang dolar juga dapat memperoleh manfaat berupa berkurangnya beban pembayaran ketika dikonversi ke rupiah.

Namun di sisi lain, penguatan rupiah dapat menjadi tantangan bagi eksportir. Sebab, pendapatan yang diterima dalam dolar AS akan menghasilkan nilai tukar rupiah yang lebih rendah dibanding saat kurs dolar berada di level lebih tinggi.

Sentimen Pasar Masih Dinamis

Meski berhasil menguat, pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, perkembangan ekonomi Amerika Serikat, hingga dinamika geopolitik dan arus modal internasional.

Pelaku pasar juga akan mencermati efektivitas kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mengendalikan inflasi domestik.

Penguatan rupiah ke level Rp17.950 per dolar AS menjadi sinyal positif setelah sempat tertekan di atas Rp18.000. Kenaikan BI Rate menjadi 5,50% menjadi katalis utama yang mengembalikan kepercayaan pasar terhadap mata uang domestik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online