IHSG Dibuka Melemah, Konflik Timur Tengah Bayangi Pergerakan Pasar

Newswire
Newswire Kamis, 11 Juni 2026 10:57 WIB
IHSG Dibuka Melemah, Konflik Timur Tengah Bayangi Pergerakan Pasar

Foto ilustrasi. Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Harianjogja.com, JAKARTA—Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi berlangsung fluktuatif pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sentimen utama yang memengaruhi psikologi investor dan arah pasar saham global, termasuk Indonesia.

Pada awal perdagangan, IHSG tercatat dibuka melemah 3,11 poin atau 0,05% ke level 5.899,27. Di sisi lain, indeks saham unggulan LQ45 justru menguat tipis 0,83 poin atau 0,14% ke posisi 590,31.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan perhatian pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan baru terhadap Iran atas instruksi Presiden AS Donald Trump.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Iran menegaskan akan memberikan respons terhadap setiap ancaman maupun serangan yang diterimanya, sementara Amerika Serikat kembali mendesak tercapainya kesepakatan damai.

Memasuki bulan keempat konflik, risiko terhadap rantai pasok energi dunia dinilai semakin meningkat. Salah satu perhatian utama pasar adalah Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak global.

Trump bahkan mengklaim AS menjalankan operasi khusus untuk membantu lebih dari 200 kapal komersial melintasi Selat Hormuz dan menyalurkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar dunia. Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Menteri Energi AS Chris Wright yang mengaku tidak mengetahui adanya operasi dimaksud.

Sentimen Suku Bunga Global Masih Membayangi

Dari sisi kebijakan moneter, Bank of Canada memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Sementara itu, pelaku pasar menilai lonjakan harga energi akibat konflik Iran berpotensi membuat bank sentral utama dunia mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Berdasarkan CME FedWatch, mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun kini meningkat menjadi sekitar 43%.

Kondisi tersebut turut tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,55%, sedangkan yield tenor 30 tahun kembali menembus level 5%.

Optimisme Konsumen Indonesia Masih Terjaga

Di dalam negeri, Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap berada pada level optimistis. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 tercatat sebesar 120,9, ditopang oleh Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mencapai 129,7.

Meski demikian, persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini mulai menunjukkan pelemahan. Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) turun menjadi 112,2 pada Mei 2026 dibandingkan 116,5 pada April 2026. Data tersebut mengindikasikan masyarakat masih percaya terhadap prospek ekonomi ke depan, namun mulai lebih berhati-hati dalam menghadapi kondisi saat ini.

Sementara itu, posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat perbaikan pada kuartal I 2026. Kewajiban neto turun menjadi 227,6 miliar dolar AS dari sebelumnya 273,4 miliar dolar AS pada kuartal IV 2025.

Penurunan tersebut terutama dipicu oleh berkurangnya kewajiban finansial luar negeri yang lebih besar dibandingkan penurunan aset finansial luar negeri. Dampaknya, rasio kewajiban neto terhadap produk domestik bruto (PDB) membaik menjadi 15,5% dari sebelumnya 18,9%.

Selain mencermati perkembangan global, investor juga menunggu rilis data penjualan ritel April 2026 yang dinilai penting untuk mengukur kekuatan daya beli masyarakat sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Bursa Global Kompak Tertekan

Tekanan juga terlihat di pasar saham global. Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), indeks Euro Stoxx 50 turun 0,62%, DAX Jerman terkoreksi 0,97%, dan CAC 40 Prancis melemah 0,51%. Sementara FTSE 100 Inggris masih mampu menguat 0,27%.

Di Wall Street, ketiga indeks utama ditutup di zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 1,87%, S&P 500 terkoreksi 1,62%, dan Nasdaq Composite melemah 1,98%.

Adapun bursa Asia pada perdagangan pagi ini juga bergerak negatif. Indeks Nikkei turun 0,86%, Shanghai Composite melemah 0,64%, Hang Seng terkoreksi 1,12%, dan Strait Times turun 0,19%. Kondisi tersebut memperkuat tekanan eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG sepanjang perdagangan hari ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online