Kereta Cepat Johor-Singapura Bakal Gerus Belanja Singapura Rp4 Triliun

Jumali
Jumali Jum'at, 17 Juli 2026 09:07 WIB
Kereta Cepat Johor-Singapura Bakal Gerus Belanja Singapura Rp4 Triliun

Kereta Cepat - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Rencana pengoperasian Johor Bahru-Singapore Rapid Transit System (RTS) Link pada Januari 2027 mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha ritel dan restoran Singapura. Jalur kereta cepat yang akan menghubungkan Singapura dengan Johor Bahru itu diperkirakan mendorong lonjakan belanja masyarakat ke Malaysia dan berpotensi mengurangi transaksi di dalam negeri.

Berdasarkan studi yang dirilis Singapore Business Federation (SBF), Singapore Retailers Association, dan Restaurant Association of Singapore yang dilihat Jumat (17/7/2026), Singapura diproyeksikan mengalami defisit belanja lintas batas sekitar S$290 juta atau setara Rp4 triliun per tahun.

Nilai tersebut setara dengan sekitar 0,4% dari total penjualan sektor ritel dan makanan-minuman (F&B) Singapura sepanjang 2025. Defisit terjadi karena pengeluaran warga Singapura di Johor Bahru diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan belanja warga Malaysia di Singapura.

Dalam laporan tersebut disebutkan, tambahan pengeluaran masyarakat Singapura di Johor Bahru berpotensi mencapai S$1,05 miliar per tahun. Sebaliknya, warga Johor Bahru diperkirakan hanya menambah pengeluaran sekitar S$756 juta per tahun ketika berkunjung ke Singapura.

Kehadiran RTS Link juga diyakini akan meningkatkan mobilitas masyarakat secara signifikan. Saat ini terdapat sekitar 19,4 juta perjalanan pulang-pergi setiap tahun dari Singapura menuju Johor Bahru menggunakan berbagai moda transportasi yang tersedia.

Setelah RTS Link beroperasi, jumlah perjalanan tersebut diprediksi melonjak hingga 51% atau bertambah sekitar 11,2 juta perjalanan pulang-pergi per tahun. Adapun perjalanan dari Johor Bahru menuju Singapura diperkirakan meningkat sekitar 3,3 juta perjalanan setiap tahun atau setara rata-rata 39.700 perjalanan per hari.

Kebutuhan pokok menjadi sektor yang paling berpotensi menyedot belanja warga Singapura ke Johor Bahru. Selain produk sehari-hari, kategori lain yang diperkirakan mendapat manfaat besar adalah toko obat, restoran, serta layanan kecantikan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi pelaku usaha Singapura yang saat ini sudah menghadapi berbagai tekanan biaya operasional. Persaingan harga dengan Malaysia dinilai akan semakin sulit karena perbedaan biaya hidup dan operasional di kedua negara.

Chief Executive Officer SBF, Kok Ping Soon, mengatakan pelaku usaha kini harus menghadapi tekanan berlapis mulai dari biaya tenaga kerja, sewa tempat usaha, hingga biaya operasional yang terus meningkat.

Menurutnya, operasional RTS Link berpotensi menciptakan tekanan persaingan yang bersifat struktural, khususnya bagi bisnis yang mengandalkan pelanggan lokal di kawasan permukiman.

Dari sisi wilayah, kawasan pinggiran Singapura diprediksi mengalami dampak terbesar. Wilayah barat diperkirakan kehilangan arus belanja bersih sekitar S$104 juta, disusul wilayah timur laut sebesar S$103 juta, wilayah utara S$82 juta, dan wilayah timur sekitar S$25 juta.

Sebaliknya, pusat kota Singapura justru diproyeksikan memperoleh tambahan belanja sekitar S$25 juta. Kawasan ini dinilai masih memiliki daya tarik kuat berkat keberadaan pusat perbelanjaan premium, hotel, restoran, dan destinasi hiburan yang menjadi magnet wisatawan.

Menghadapi perubahan pola konsumsi tersebut, para pelaku usaha dinilai tidak bisa lagi mengandalkan strategi perang harga semata. Studi merekomendasikan peningkatan kualitas layanan, pengalaman pelanggan yang lebih baik, serta diferensiasi produk agar tetap kompetitif.

Selain itu, pemerintah juga didorong untuk memberikan dukungan melalui berbagai insentif, termasuk program voucher, penguatan daya tarik pariwisata domestik, hingga kebijakan yang dapat mengurangi tekanan biaya operasional bagi sektor ritel dan F&B.

Dengan semakin dekatnya operasional RTS Link, persaingan ekonomi antara Singapura dan Johor Bahru diperkirakan akan memasuki babak baru. Bagi konsumen, konektivitas yang lebih baik membuka lebih banyak pilihan. Namun bagi pelaku usaha Singapura, kondisi ini menjadi ujian untuk beradaptasi di tengah perubahan perilaku belanja masyarakat yang kian dinamis.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online