Deflasi Kembali Terjadi, IHK Juli 2026 Turun Jadi 111,73

Dany Saputra
Dany Saputra Senin, 03 Agustus 2026 11:47 WIB
Deflasi Kembali Terjadi, IHK Juli 2026 Turun Jadi 111,73

Deflasi. - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month to month/MtM) pada Juli 2026. Capaian tersebut menandai pembalikan arah setelah pada bulan sebelumnya Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,44%.

Selain deflasi bulanan, BPS juga mencatat inflasi secara tahunan (year on year/YoY) sebesar 2,88%, sementara inflasi tahun kalender (year to date/YtD) mencapai 1,65%.

Indeks Harga Konsumen Turun pada Juli

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan penurunan harga tercermin dari menurunnya Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026.

“Terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026,” ujar Ateng dalam rilis Berita Resmi Statistik, Senin (3/8/2026).

Data tersebut menunjukkan tekanan harga konsumen mulai mereda dibandingkan bulan sebelumnya.

Deflasi Lebih Dalam dari Proyeksi Mayoritas Ekonom

Sebelum data resmi dirilis, mayoritas ekonom memperkirakan inflasi pada Juli mulai melambat setelah sempat meningkat pada Juni.

Hasil BIG Consensus Insights yang disusun DataIndonesia, bagian dari riset Bisnis Indonesia Group (BIG), berdasarkan proyeksi 10 ekonom dan analis memperkirakan inflasi Juli sebesar 0,17% secara bulanan.

Secara tahunan, median proyeksi inflasi berada di level 3,21%, sedangkan inflasi tahun berjalan diperkirakan mencapai 1,97%.

Realisasi BPS menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan proyeksi tersebut, bahkan Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14%.

Harga Pangan Diperkirakan Menjadi Penahan Inflasi

Sebelumnya, perlambatan inflasi diperkirakan ditopang oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan yang selama ini menjadi penyumbang utama gejolak harga.

Komoditas seperti bawang, cabai, dan telur diperkirakan mengalami koreksi harga sehingga membantu menekan inflasi selama Juli.

Meski demikian, pelemahan nilai tukar rupiah dan potensi El Nino masih dipandang sebagai faktor risiko yang dapat meningkatkan tekanan inflasi pada paruh kedua 2026.

Proyeksi Ekonom Beragam

Team Leader Macroeconomic Research, Econometric Modelling & Analytics at OCE BRI, Ramadani Partama, memperkirakan inflasi Juli turun menjadi 3,21% secara tahunan dari 3,34% pada Juni.

Menurutnya, penurunan tersebut didukung mulai melandainya harga sejumlah komoditas pangan utama, terutama bawang dan cabai.

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memproyeksikan inflasi bulanan hanya 0,08% dengan inflasi tahunan 3,11%, seiring melemahnya harga bahan pokok dan relatif stabilnya harga emas maupun kelompok harga yang diatur pemerintah.

Di sisi lain, Economic Researcher BTN, Myrdal Gunarto, menjadi ekonom dengan proyeksi inflasi tertinggi, yakni 0,39% secara bulanan dan 3,43% secara tahunan.

Sebaliknya, Head of Research KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memperkirakan Indonesia justru mengalami deflasi 0,18% secara bulanan sehingga inflasi tahunan turun menjadi 2,84%.

Rupiah Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi

Menjelang pengumuman data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia, nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, Senin (3/8/2026), rupiah menguat 0,26% ke level Rp17.975 per dolar AS.

Penguatan juga terjadi terhadap mayoritas mata uang Asia. Won Korea mencatat apresiasi terbesar terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 0,76%, disusul yen Jepang yang menguat 0,62%.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online