59,6 Persen Pekerja Migran Indonesia Berpendidikan SMA ke Bawah

Jumali
Jumali Senin, 24 Agustus 2026 20:47 WIB
59,6 Persen Pekerja Migran Indonesia Berpendidikan SMA ke Bawah

Ilustrasi pekerja migran - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Bekerja di luar negeri masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat Indonesia untuk mendapatkan penghasilan dan peluang kerja yang lebih besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia yang pernah berangkat bekerja ke luar negeri terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam publikasi Analisis Mobilitas Tenaga Kerja Hasil Sakernas 2025, BPS mencatat jumlah penduduk yang pernah berangkat bekerja ke luar negeri meningkat dari 3,17 juta orang pada 2021 menjadi 4,43 juta orang pada 2025.

Dari jumlah tersebut, terdapat 315 ribu orang yang tercatat pernah berangkat bekerja ke luar negeri dalam lima tahun terakhir. Data ini menunjukkan pasar kerja internasional masih menjadi salah satu pilihan bagi tenaga kerja Indonesia.

Mobilitas tenaga kerja lintas negara dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pekerja dan keluarganya. Penghasilan yang diperoleh di negara tujuan dapat menjadi sumber pendapatan keluarga maupun dikirimkan dalam bentuk remitansi.

Namun, peningkatan mobilitas pekerja Indonesia ke luar negeri juga memperlihatkan tantangan dari sisi kualitas sumber daya manusia.

BPS mencatat mayoritas pekerja yang berangkat ke luar negeri dalam lima tahun terakhir masih memiliki tingkat pendidikan SMA ke bawah.

59,6 Persen Pekerja Berpendidikan SMA ke Bawah

Dari 315 ribu penduduk yang pernah bekerja di luar negeri dalam lima tahun terakhir, sebanyak 187,8 ribu orang atau 59,6 persen memiliki pendidikan SMA ke bawah.

Angka tersebut menunjukkan lebih dari separuh pekerja migran dalam kelompok tersebut memiliki latar belakang pendidikan yang relatif rendah.

Tingkat pendidikan dapat memengaruhi jenis pekerjaan yang dapat diakses pekerja di negara tujuan. Pekerja dengan pendidikan dan keterampilan terbatas cenderung memiliki pilihan pekerjaan yang lebih sempit dibandingkan mereka yang memiliki kompetensi khusus.

Kondisi itu terlihat pada sejumlah negara tujuan utama pekerja Indonesia.

Di Malaysia, misalnya, terdapat 159,4 ribu pekerja Indonesia yang pernah bekerja di negara tersebut dalam lima tahun terakhir. Dari jumlah itu, sekitar 103,9 ribu orang atau hampir dua pertiga memiliki pendidikan di bawah SMA.

Komposisi tersebut menunjukkan kuatnya karakteristik pekerjaan yang dapat dimasuki pekerja dengan tingkat pendidikan tersebut.

Sektor seperti perkebunan, konstruksi, serta pekerjaan rumah tangga selama ini menjadi bagian dari lapangan pekerjaan yang banyak diisi pekerja migran Indonesia.

Jepang Tunjukkan Pola Berbeda

Jepang memperlihatkan karakteristik yang berbeda dibandingkan sejumlah negara tujuan utama lainnya.

BPS mencatat terdapat 10,6 ribu pekerja Indonesia yang pernah bekerja di Jepang dalam lima tahun terakhir. Seluruh pekerja dalam kelompok tersebut tercatat memiliki pendidikan SMA ke atas.

Kondisi ini memperlihatkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan, keterampilan, dan akses terhadap pasar kerja tertentu di luar negeri.

Jepang memiliki kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan kompetensi yang relatif lebih spesifik. Karena itu, pekerja Indonesia yang dapat memasuki pasar kerja negara tersebut cenderung memiliki kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi.

Perbedaan antara Jepang dan Malaysia menjadi gambaran bahwa pendidikan dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan jenis peluang kerja yang tersedia bagi pekerja migran Indonesia.

Semakin tinggi pendidikan dan keterampilan yang dimiliki, semakin besar peluang pekerja untuk mengakses pekerjaan dengan persyaratan kompetensi tertentu.

Jawa Barat Jadi Salah Satu Pengirim Terbesar

Dari sisi daerah asal, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Jawa Timur menjadi tiga provinsi dengan jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang memiliki pengalaman bekerja di luar negeri sekaligus mengalami keberangkatan atau kepulangan dalam lima tahun terakhir terbanyak.

Tingginya mobilitas dari ketiga provinsi tersebut tidak terlepas dari kondisi pasar kerja daerah, kebutuhan ekonomi rumah tangga, serta jaringan migrasi yang telah terbentuk dalam waktu lama.

Jaringan tersebut dapat memudahkan calon pekerja memperoleh informasi mengenai pekerjaan di luar negeri maupun proses keberangkatan.

Di sisi lain, tingginya jumlah pekerja migran dari suatu daerah juga menunjukkan pentingnya pemerintah daerah memberikan pembekalan yang memadai sebelum masyarakat bekerja di negara tujuan.

Malaysia Masih Jadi Negara Tujuan Utama

Malaysia menjadi negara tujuan terbesar bagi pekerja Indonesia berdasarkan data BPS tersebut.

Dari 315 ribu penduduk yang pernah bekerja di luar negeri dalam lima tahun terakhir, sebanyak 159,4 ribu orang atau 50,6 persen tercatat pernah bekerja di Malaysia.

Arab Saudi berada di posisi berikutnya dengan 48,6 ribu orang atau 15,4 persen.

Kemudian Taiwan mencatat 25,1 ribu orang atau 8 persen, Singapura sebanyak 16,2 ribu orang atau 5,1 persen, serta Jepang sebanyak 10,6 ribu orang atau 3,4 persen.

Negara Tujuan Pekerja Indonesia

  1. Malaysia: 159,4 ribu orang atau 50,6 persen
  2. Arab Saudi: 48,6 ribu orang atau 15,4 persen
  3. Taiwan: 25,1 ribu orang atau 8 persen
  4. Singapura: 16,2 ribu orang atau 5,1 persen
  5. Jepang: 10,6 ribu orang atau 3,4 persen

Malaysia menjadi tujuan dominan karena memiliki kedekatan geografis dengan Indonesia serta hubungan ekonomi dan migrasi yang telah berlangsung lama.

Sementara itu, Arab Saudi tetap menjadi salah satu tujuan utama pekerja Indonesia, terutama karena kebutuhan tenaga kerja pada sektor tertentu.

Pendidikan Jadi Modal Bersaing di Pasar Global

Data BPS tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah pekerja Indonesia di luar negeri perlu diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pekerja dengan pendidikan terbatas menghadapi risiko memiliki pilihan pekerjaan yang lebih sempit. Kondisi tersebut dapat memengaruhi tingkat pendapatan, kesempatan peningkatan karier, hingga akses terhadap perlindungan kerja.

Karena itu, pendidikan formal perlu dilengkapi dengan pelatihan keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar kerja internasional.

Penguasaan bahasa asing juga dapat menjadi nilai tambah bagi calon pekerja migran. Kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat dan pemberi kerja di negara tujuan dapat membantu pekerja beradaptasi sekaligus memperluas pilihan pekerjaan.

Sertifikasi kompetensi juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.

Negara dengan standar tenaga kerja tinggi seperti Jepang dan Korea Selatan membutuhkan pekerja yang memiliki kemampuan sesuai bidang pekerjaan yang ditawarkan.

Dengan bekal pendidikan, keterampilan, sertifikasi, dan kemampuan bahasa yang lebih baik, pekerja Indonesia berpeluang masuk ke sektor pekerjaan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Bagi calon pekerja migran, bekerja ke luar negeri bukan hanya soal mendapatkan penghasilan lebih besar. Persiapan sebelum keberangkatan juga menentukan kemampuan mereka memperoleh pekerjaan yang layak dan memahami hak-hak sebagai pekerja.

Data BPS akhirnya memberikan gambaran bahwa pasar kerja internasional masih terbuka bagi tenaga kerja Indonesia. Tantangannya adalah memastikan semakin banyak pekerja memiliki kualitas dan keterampilan yang memungkinkan mereka memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online