Gen Z Dinilai Kurang Soft Skill, Ini Alasan Perusahaan Ragu Rekrut Fresh Graduate

Jumali
Jumali Senin, 31 Agustus 2026 12:27 WIB
Gen Z Dinilai Kurang Soft Skill, Ini Alasan Perusahaan Ragu Rekrut Fresh Graduate

Generasi Z - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Generasi Z menghadapi tantangan yang tidak ringan ketika mulai memasuki dunia kerja. Persaingan mendapatkan pekerjaan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan akademik atau keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan profesional.

Survei terbaru General Assembly mengungkap lebih dari seperempat eksekutif mengaku tidak akan merekrut fresh graduate saat ini. Persoalannya bukan karena lulusan baru tidak mampu mengerjakan pekerjaan teknis, melainkan karena sebagian perusahaan menilai mereka belum cukup memiliki keterampilan interpersonal atau soft skills.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena soft skills justru banyak digunakan dalam aktivitas sehari-hari di tempat kerja. Kemampuan menyampaikan gagasan, menerima kritik, bernegosiasi, bekerja dalam tim, hingga menyelesaikan konflik menjadi bagian penting dari perjalanan karier.

Soft Skills Jadi Tantangan Fresh Graduate

Keterampilan interpersonal yang dibutuhkan dunia kerja mencakup komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, hingga penyelesaian konflik.

Berbeda dengan hard skills yang dapat dipelajari melalui pelatihan teknis, soft skills sering kali berkembang melalui pengalaman langsung. Interaksi dengan rekan kerja, presentasi, organisasi, proyek kelompok, magang, maupun pengalaman menghadapi persoalan nyata dapat membantu seseorang mengasah kemampuan tersebut.

Laporan General Assembly menyebut minimnya soft skills membuat sejumlah perusahaan mengurangi perekrutan lulusan baru. Kondisi tersebut pada akhirnya turut memberikan dampak terhadap pasar tenaga kerja Amerika Serikat.

Masalahnya tidak berhenti pada proses perekrutan. Ketika pekerja baru belum memiliki kemampuan interpersonal yang memadai, manajer dapat membutuhkan lebih banyak waktu untuk memberikan arahan, pendampingan, dan evaluasi.

Lebih dari Separuh Lulusan S1 Mengalami Underemployment

Persoalan kesiapan kerja Gen Z juga terlihat dari kondisi lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Laporan Strada Institute for the Future of Work dan Burning Glass Institute mencatat lebih dari separuh lulusan sarjana di AS mengalami underemployment, atau bekerja pada posisi yang berada di bawah kualifikasi mereka, setahun setelah lulus.

Situasi tersebut dapat menjadi persoalan tersendiri bagi perusahaan maupun pekerja. Bagi lulusan, pekerjaan yang tidak sesuai kualifikasi dapat memperlambat perkembangan karier. Sementara bagi perusahaan, kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan pekerja baru dapat menambah beban manajemen.

Tekanan tersebut semakin terasa setelah banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja di level manajemen menengah.

Riset Intelligent.com bahkan mencatat satu dari lima manajer pernah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena stres mengelola pekerja Gen Z. Sebanyak 75% manajer juga mengaku pekerja Gen Z membutuhkan lebih banyak waktu dan sumber daya dibandingkan karyawan dari generasi lainnya.

Pandemi Ikut Memengaruhi Kesiapan Gen Z

Salah satu faktor yang disebut berpengaruh terhadap kondisi tersebut adalah pandemi Covid-19.

Laporan Gartner menunjukkan 46% pekerja Gen Z mengaku pandemi membuat pencapaian tujuan pendidikan atau karier menjadi lebih sulit.

Generasi ini melewati masa pendidikan dalam situasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Banyak dari mereka menjalani pembelajaran secara daring ketika pandemi berlangsung.

Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial melalui interaksi langsung. Padahal, kemampuan seperti bernegosiasi, membangun jaringan, berbicara di depan umum, serta beradaptasi dengan lingkungan kerja merupakan pengalaman yang sulit sepenuhnya digantikan pembelajaran daring.

Pengalaman bekerja secara langsung di kantor juga menjadi bagian yang tidak mudah diperoleh selama periode tersebut.

Hard Skills Saja Tidak Cukup

Kemampuan teknis tetap menjadi modal penting dalam dunia kerja. Seorang programmer, misalnya, harus mampu menulis kode, sedangkan pekerja di bidang pengembangan produk membutuhkan kemampuan teknis sesuai pekerjaannya.

Namun, hard skills tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang dapat bekerja secara efektif.

Pekerja yang memiliki kemampuan teknis tinggi tetap membutuhkan komunikasi yang baik ketika harus berkoordinasi dengan tim lain. Mereka juga perlu mampu menyampaikan gagasan kepada atasan, memahami kebutuhan rekan kerja, serta mencari solusi ketika terjadi persoalan dalam proyek.

Karena itu, kemampuan teknis dan soft skills seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang saling menggantikan. Keduanya justru perlu berjalan bersama.

Perusahaan Tidak Bisa Sekadar Menutup Pintu untuk Gen Z

Meski terdapat berbagai keluhan mengenai kesiapan pekerja muda, mengabaikan talenta Gen Z bukan solusi jangka panjang bagi perusahaan.

Generasi ini dikenal memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi, adaptif terhadap perubahan, inovatif, berani mencoba pendekatan baru, serta membawa perspektif yang lebih segar dan beragam ke lingkungan kerja.

Alih-alih mengurangi perekrutan fresh graduate, perusahaan dapat memberikan ruang bagi pekerja muda untuk mengembangkan kemampuan interpersonal mereka.

Salah satu caranya adalah menyediakan pelatihan soft skills sejak awal masa kerja.

Survei ResumeBuilder menunjukkan 45% perusahaan telah menawarkan kelas soft skills bagi karyawan Gen Z. Dari perusahaan yang menjalankan program tersebut, dua pertiganya mengaku pelatihan itu memberikan hasil yang sangat baik.

Kampus Juga Punya Peran Penting

Penguatan soft skills sebenarnya tidak harus menunggu seseorang mendapatkan pekerjaan.

Pembentukan kemampuan tersebut dapat dimulai sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah. Laporan Learning Policy Institute menekankan pentingnya kurikulum pendidikan yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi efektif, kemandirian belajar, serta sikap akademis yang positif.

Sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat mulai merespons kebutuhan tersebut dengan membuat program khusus.

Salah satunya adalah Business Power Skills Conference di Belmont University, Nashville. Program tersebut memberikan pembelajaran mengenai kemampuan komunikasi dan kepemimpinan kepada mahasiswa sebagai bekal sebelum memasuki dunia profesional.

Langkah seperti ini dapat mempersempit kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan perusahaan.

Tanggung Jawab Tidak Hanya di Pundak Gen Z

Persoalan soft skills pada pekerja muda tidak seharusnya hanya dibebankan kepada Gen Z.

Perusahaan, institusi pendidikan, dan generasi yang lebih senior juga memiliki peran dalam mempersiapkan lulusan baru menghadapi dunia kerja.

Forbes menekankan bahwa perusahaan tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Gen Z ketika mereka belum memiliki keterampilan yang memang belum pernah dilatih secara memadai.

Program pelatihan di tempat kerja, mentoring, dan proses onboarding yang secara khusus memperkuat soft skills dapat menjadi bagian dari solusinya.

Pada akhirnya, tantangan yang dihadapi Gen Z di pasar kerja bukan sekadar persoalan apakah mereka mampu mengerjakan tugas teknis. Dunia profesional juga menuntut kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah.

Jika perusahaan mampu memberikan ruang pembelajaran yang tepat, fresh graduate bukan hanya dapat menjadi pekerja yang lebih siap, tetapi juga berpotensi membawa energi, inovasi, dan perspektif baru yang dibutuhkan dunia kerja.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online