Prabowo Dorong Danantara-RDIF Biayai Proyek Investasi Indonesia-Rusia

Akbar Evandio
Akbar Evandio Kamis, 03 September 2026 20:47 WIB
Prabowo Dorong Danantara-RDIF Biayai Proyek Investasi Indonesia-Rusia

Prabowo mendorong Danantara dan RDIF membiayai proyek investasi Indonesia-Rusia serta meminta I-EAEU FTA segera berlaku. /Bisnis.

Harianjogja.com, VLADIVOSTOK— Presiden Prabowo Subianto mendorong kerja sama investasi bilateral antara Indonesia dan Rusia tidak berhenti pada tahap penjajakan peluang. Melalui Danantara dan Dana Investasi Langsung Rusia atau Russian Direct Investment Fund (RDIF), Prabowo menginginkan kedua negara mulai bergerak menuju pembiayaan proyek yang layak secara komersial.

Dorongan tersebut disampaikan Prabowo ketika berpidato dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). Dalam forum yang dihadiri Presiden Putin dan kepala negara mitra tersebut, Prabowo menempatkan Danantara sebagai salah satu penghubung antara pasar modal Indonesia dan Rusia.

Presiden Prabowo mengatakan Danantara yang baru didirikan Indonesia memiliki aset kelolaan sekitar 1 triliun dolar AS. Menurut dia, lembaga tersebut dapat menjadi jembatan bagi pasar modal kedua negara sekaligus mempertemukan tujuan strategis Indonesia dan Rusia.

"Danantara dapat bertindak sebagai jembatan di mana pasar modal Rusia dan Indonesia serta tujuan strategis dapat bertemu," ujar Prabowo di hadapan Presiden Putin dan kepala negara mitra yang hadir di EEF ke-11.

Danantara-RDIF Didorong Masuk ke Pembiayaan Proyek

Prabowo menilai hubungan antara Danantara dan RDIF perlu diarahkan lebih jauh. Kerja sama kedua lembaga tersebut tidak cukup hanya digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan investasi, tetapi harus dapat berlanjut ke pembiayaan proyek yang memenuhi kelayakan perbankan.

"Danantara dan dana kekayaan berdaulat Rusia, Dana Investasi Langsung Rusia, dapat bergerak dari mengidentifikasi kemungkinan menuju pembiayaan proyek-proyek yang layak secara bank, bankable projects," kata Presiden Prabowo.

Dengan arah tersebut, kerja sama investasi Indonesia-Rusia diharapkan menghasilkan proyek konkret. Pembiayaan dan pelaksanaan proyek juga diharapkan memiliki target yang jelas sehingga kesepakatan yang dibuat kedua negara tidak berhenti sebagai rencana investasi.

Prabowo menekankan setiap kesepakatan kerja sama yang diumumkan harus memiliki target yang jelas dan dapat diukur. Karena itu, setiap perjanjian menurut dia perlu mencantumkan secara rinci tonggak pencapaian, skema pembiayaan, serta tahapan pelaksanaan proyek.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari dorongan Prabowo agar kerja sama investasi Indonesia-Rusia memiliki ukuran keberhasilan yang konkret. Dengan adanya tahapan dan skema pembiayaan yang jelas, proyek yang disepakati diharapkan dapat bergerak dari tahap identifikasi peluang menuju pelaksanaan.

Prabowo Minta I-EAEU FTA Segera Berlaku

Selain membahas investasi, Prabowo dalam forum ekonomi di Vladivostok juga berharap perdagangan bebas Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA) segera berlaku.

Prabowo menuturkan Indonesia dapat menjadi pintu masuk alami bagi dunia usaha dari benua Eurasia menuju kawasan Asean atau Asia Tenggara.

"Kami adalah pasar terbesar di kawasan ini dan merupakan pusat dari Regional Comprehensive Economic Partnership [RCEP], dan kini menjadi mitra perdagangan bebas.

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung tantangan yang pernah dihadapi Asia Tenggara. Menurut dia, kawasan tersebut tidak selalu berada dalam kondisi damai karena pernah mengalami konflik, ketegangan, dan perbedaan yang mendalam.

Namun, para pemimpin Asean disebut menyadari adanya persoalan yang lebih besar yang harus dihadapi bersama. Tantangan itu mencakup kemiskinan, keterbatasan layanan kesehatan dan pendidikan, infrastruktur yang tidak memadai, serta kebutuhan menciptakan kesempatan.

"Maka, ASEAN memilih konsultasi daripada konfrontasi, kerja sama daripada perpecahan," jelas Prabowo.

Indonesia Ingin Hubungkan Eurasia dan Asia Tenggara

Prabowo kemudian menegaskan Indonesia mengundang Rusia bersama seluruh anggota EAEU untuk membantu memperluas dividen perdamaian dengan mempererat hubungan antara Eurasia dan Asia Tenggara.

Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-EAEU sebelumnya ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025. Penandatanganan tersebut melibatkan Indonesia, Uni tersebut, lima negara anggotanya—Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia—serta Eurasian Economic Commission.

Melalui perjanjian tersebut, Indonesia dan EAEU berkomitmen menghapus atau mengurangi bea masuk untuk 11.882 pos tarif. Jumlah itu mencakup lebih dari 90% dari seluruh barang yang diperdagangkan.

Indonesia juga telah menyelesaikan persetujuan parlemen terhadap I-EAEU FTA. Pada Juli 2025, Prabowo bahkan telah menandatangani peraturan presiden mengenai ratifikasinya.

Karena itu, Prabowo meminta negara-negara anggota EAEU segera menyelesaikan prosedur internal masing-masing. Langkah tersebut dinilai diperlukan agar perjanjian dapat segera dimanfaatkan setelah proses pertukaran notifikasi memungkinkan.

"Izinkan saya menyampaikan niat kita secara terus terang: Indonesia ingin perjanjian ini segera berlaku dan digunakan segera setelah pertukaran notifikasi memungkinkan. Saya dengan hormat meminta setiap negara anggota EAEU untuk menyelesaikan prosedur internal masing-masing agar kita dapat memanfaatkan perjanjian ini sesegera mungkin," tutur Prabowo.

Dorongan tersebut memperlihatkan dua agenda yang dibawa Prabowo dalam forum ekonomi di Vladivostok, yakni memperkuat jalur investasi bilateral Indonesia-Rusia melalui Danantara dan RDIF serta mempercepat berlakunya perjanjian perdagangan bebas Indonesia-EAEU.

Bagi Indonesia, kerja sama tersebut diarahkan bukan hanya untuk membuka peluang investasi dan perdagangan, tetapi juga menghubungkan kepentingan ekonomi Indonesia dengan kawasan Eurasia dan Asia Tenggara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online