Jejak Rusal di RI, Raksasa Aluminium Rusia Pernah Gandeng Antam

Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika Jum'at, 04 September 2026 19:07 WIB
Jejak Rusal di RI, Raksasa Aluminium Rusia Pernah Gandeng Antam

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, Federasi Rusia, pada Kamis, 3 September 2026. Foto: BPMI Setpres\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Raksasa aluminium asal Rusia, United Company Rusal (UC Rusal), kembali mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencana perusahaan tersebut berinvestasi besar-besaran di Indonesia. Rusal disebut akan membangun fasilitas pengolahan bersama sejumlah kelompok usaha Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menjadi pembicara dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

“Kami juga telah melangkah sangat jauh di bidang pemrosesan misalnya, pertambangan, seperti kami bekerja sama dengan perusahaan besar, saya pikir entitas aluminium terbesar di dunia, Rusal. Rusal akan hadir besar-besaran di Indonesia, membangun fasilitas pengolahan bersama grup-grup Indonesia,” ujar Prabowo, dikutip Jumat (4/9/2026).

Rencana tersebut sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperkuat hilirisasi mineral sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.

Profil Rusal

Mengutip laman resmi perusahaan, Rusal merupakan salah satu produsen aluminium terbesar di dunia dengan bisnis yang terintegrasi, mulai dari penambangan bauksit, pengolahan alumina, peleburan aluminium, hingga produksi berbagai produk aluminium bernilai tambah.

Berdasarkan data perusahaan, Rusal memproduksi 3,918 juta metrik ton aluminium pada 2025. Jumlah itu setara dengan sekitar 5,3% produksi aluminium dunia.

Pada tahun yang sama, produksi alumina Rusal mencapai 6,858 juta metrik ton atau sekitar 4,7% produksi global.

Basis operasinya juga tersebar luas. Rusal menyebut saat ini memiliki 45 fasilitas yang berada di lima benua.

Portofolio perusahaan tidak hanya mencakup aluminium dan alumina. Produk Rusal antara lain aluminium primer, paduan aluminium, bilet ekstrusi, slab canai, wire rod, aluminium dengan kemurnian tinggi, hingga produk foil dan kemasan.

Rusal mengklaim rantai produksi terintegrasi yang dimilikinya memberikan kendali atas kualitas produk, mulai dari tahap ekstraksi bauksit hingga menghasilkan produk akhir.

Berdiri Sejak 2000

Pembentukan Rusal bermula pada 2000 ketika Siberian Aluminium dan Millhouse Capital mengumumkan penggabungan aset dan membentuk Rusal.

Perusahaan kemudian berkembang menjadi pemain global melalui penggabungan Rusal, Siberian-Urals Aluminium Company (SUAL), dan aset sektor alumina milik Glencore pada 2007.

Merger tersebut melahirkan United Company Rusal yang kala itu menjadi produsen aluminium terbesar dunia sebelum kemudian digeser oleh Aluminum Corporation of China Limited (Chinalco) dan China Hongqiao Group Limited.

Dalam perkembangannya, Rusal membangun portofolio aset di berbagai negara. Aset tersebut mencakup tambang bauksit, kilang alumina, smelter aluminium, fasilitas pengolahan lanjutan, serta pembangkit listrik.

Jejak operasional Rusal tercatat telah tersebar di sejumlah negara, antara lain Rusia, Guinea, Jamaika, Irlandia, Kazakhstan, Australia, India, Nigeria dan Swedia.

Rusal dan Antam Pernah Berencana Bangun Smelter

Rencana investasi Rusal di Indonesia sebenarnya bukan kali pertama muncul. Jejak perusahaan tersebut di Tanah Air sebelumnya sempat tercatat pada 2007 dan kembali muncul pada 2014.

Berdasarkan catatan Bisnis, pada 26 Februari 2014, Rusal menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan PT Arbaya Energi, bagian dari Satmarindo Group, untuk kemitraan strategis dalam eksplorasi dan pertambangan bauksit serta produksi alumina di Kalimantan Barat, Indonesia.

Perjanjian tersebut ditandatangani di Jakarta oleh Oleg Deripaska, yang kala itu menjabat sebagai CEO UC Rusal, dan Suryo B. Sulisto, Chairman PT Arbaya Energi. Penandatanganan dilakukan dalam kerangka Komisi Bersama Antarpemerintah Indonesia – Rusia tentang Perdagangan, Kerjasama Ekonomi dan Teknik.

Berdasarkan ketentuan MOU itu, kedua pihak akan masuk perjanjian strategis untuk bekerja sama dalam mengembangkan sumber daya yang tepat dan investasi infrastruktur. Proyek-proyek nyata akan diidentifikasi pada waktunya dan disepakati oleh kedua perusahaan.

Deripaska saat itu mengatakan senang mendapat kesempatan bermitra dengan PT Arbaya Energi dalam eksplorasi dan pertambangan bauksit serta produksi alumina di Indonesia.

“Kami telah lama menyatakan keinginan untuk memperluas ke pasar penting Asia Tenggara yang tentu semakin meningkat dan menonjol di panggung pertambangan global. Ini adalah tonggak penting bagi bisnis kami secara global," katanya kala itu.

Sebelumnya, pada 2007, Rusal juga sempat menandatangani kesepakatan kerja sama (memorandum of understanding/MoU) dengan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam untuk pembangunan smelter bauksit menjadi alumina di Tayan, Kalimantan Barat.

Dalam kesepakatan tersebut, Rusal dan Antam berencana membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV). Rusal akan memegang 51% saham, sedangkan Antam memiliki 49% saham sisanya.

Namun, lantaran terjadi krisis, perjanjian tersebut tidak dilanjutkan.

Kini, setelah Prabowo mengungkapkan rencana Rusal untuk hadir besar-besaran di Indonesia dan membangun fasilitas pengolahan bersama grup-grup Indonesia, nama perusahaan aluminium asal Rusia tersebut kembali menjadi perhatian dalam agenda hilirisasi mineral di Tanah Air.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online