Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.211,8 Triliun per Juli 2026, Ini Rinciannya

Surya Dua Artha Simanjuntak
Surya Dua Artha Simanjuntak Selasa, 15 September 2026 14:17 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.211,8 Triliun per Juli 2026, Ini Rinciannya

Ilustrasi utang Indonesia - StockCake

Harianjogja.com, JAKARTA—Utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$453,4 miliar atau sekitar Rp8.211,8 triliun per Juli 2026. Posisi tersebut tumbuh 4,9% secara tahunan (year on year/YoY), berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI).

Nilai rupiah tersebut menggunakan kurs JISDOR pada 30 Juli 2026 sebesar Rp18.058 per dolar AS. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Indrayana mengatakan kenaikan ULN terutama dipengaruhi peningkatan utang luar negeri publik, sementara ULN swasta justru mengalami penurunan.

"Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik di tengah penurunan ULN swasta," jelas Denny dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).

ULN Publik Tumbuh 3,2%

Secara terperinci, ULN publik tercatat US$218,4 miliar per Juli 2026. Nilai tersebut tumbuh 3,2% YoY, dengan perkembangan utang terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

BI menyebut ULN publik diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif. Berdasarkan sektornya, ULN pemerintah paling banyak digunakan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang porsinya mencapai 22% dari total ULN pemerintah.

Berikutnya, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib menyumbang 20,7%; Jasa Pendidikan 16,2%; Konstruksi 11,5%; serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5%.

Bank sentral menilai posisi ULN pemerintah masih relatif aman dan terkendali. Salah satu pertimbangannya, hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang dengan jangka panjang.

"Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal," paparnya.

ULN Swasta Justru Turun

Berbeda dengan ULN publik, utang luar negeri swasta tercatat US$194,6 miliar atau mengalami kontraksi 1,2% YoY.

Denny menjelaskan penurunan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya ULN pada kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) sebesar 1,4% YoY dan kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) sebesar 0,4% YoY.

Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian. Keempat sektor tersebut memiliki pangsa 80,6% dari total ULN swasta.

Denny menyatakan ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang.

Rasio ULN terhadap PDB 30,7%

Di tengah perkembangan tersebut, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar 30,7% per Juli 2026. Struktur ULN juga didominasi oleh utang jangka panjang, meski angka pastinya tidak disebutkan.

Bank Indonesia bersama pemerintah terus melakukan koordinasi untuk memantau perkembangan utang luar negeri. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga agar struktur ULN Indonesia tetap sehat.

"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," kata Denny.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online