Singapura Jadi Kreditor Terbesar Indonesia, Utang Tembus Rp8.046,9 Triliun

Jumali
Jumali Rabu, 16 September 2026 11:17 WIB
Singapura Jadi Kreditor Terbesar Indonesia, Utang Tembus Rp8.046,9 Triliun

Ilustrasi utang Indonesia - StockCake

Harianjogja.com, JOGJA— Utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$454,8 miliar pada Juli 2026. Jika dikonversikan menggunakan kurs Rp17.692 per dolar AS, jumlah tersebut setara sekitar Rp8.046,9 triliun.

Lantas, kepada siapa saja Indonesia memiliki utang tersebut?

Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi September 2026 menunjukkan sejumlah negara dan organisasi internasional tercatat sebagai kreditor Indonesia. Dari kelompok negara, Singapura memiliki posisi ULN Indonesia terbesar, disusul Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Hong Kong.

SULNI merupakan publikasi Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan dengan periode data hingga Juli 2026.

Singapura Jadi Negara Kreditor Terbesar

Berdasarkan negara kreditor, posisi ULN Indonesia kepada Singapura pada Juli 2026 mencapai US$51,269 miliar. Dengan kurs Rp17.692 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp907 triliun.

Amerika Serikat berada di posisi berikutnya. Utang Indonesia kepada negara tersebut tercatat sebesar US$29,476 miliar, atau sekitar Rp521,5 triliun.

Selanjutnya, posisi ULN Indonesia kepada Tiongkok mencapai US$25,778 miliar, setara sekitar Rp456,1 triliun.

Jepang tercatat memiliki posisi utang sebesar US$20,495 miliar atau sekitar Rp362,6 triliun. Sementara itu, posisi ULN Indonesia kepada Hong Kong mencapai US$20,114 miliar, setara sekitar Rp355,9 triliun.

Berikut lima negara dengan posisi ULN Indonesia terbesar pada Juli 2026:

Negara kreditorPosisi ULNPerkiraan nilai rupiah
SingapuraUS$51,269 miliarRp907 triliun
Amerika SerikatUS$29,476 miliarRp521,5 triliun
TiongkokUS$25,778 miliarRp456,1 triliun
JepangUS$20,495 miliarRp362,6 triliun
Hong KongUS$20,114 miliarRp355,9 triliun

Perlu dicatat, angka tersebut menunjukkan posisi ULN berdasarkan negara kreditor. Data tersebut tidak berarti seluruh utang kepada suatu negara berasal dari satu perusahaan atau satu lembaga tertentu.

Utang kepada Negara Kreditor Capai Rp3.712 Triliun

Jika dilihat berdasarkan kelompok kreditor, posisi ULN Indonesia kepada negara-negara kreditor pada Juli 2026 mencapai US$209,770 miliar.

Dengan kurs Rp17.692 per dolar AS, jumlah itu setara sekitar Rp3.712,1 triliun.

Kelompok tersebut mencakup Singapura, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, Perancis, Jerman, Inggris, dan sejumlah negara lainnya.

Selain negara, Indonesia juga memiliki utang kepada organisasi internasional. Posisi ULN kepada kelompok ini tercatat sebesar US$46,799 miliar, atau sekitar Rp828,1 triliun.

Sementara itu, kelompok kreditor yang masuk kategori “lainnya” mencapai US$198,191 miliar atau sekitar Rp3.506,6 triliun.

Pembagian ini penting karena kelompok “lainnya” tidak dapat langsung disamakan dengan utang kepada satu negara tertentu. Artinya, besarnya angka tersebut merupakan bagian dari klasifikasi kreditor dalam statistik ULN, bukan menunjukkan satu negara sebagai pemberi utang.

IBRD, ADB, dan IMF Masuk Daftar Kreditor

Indonesia juga memiliki kewajiban kepada berbagai organisasi internasional. Pada Juli 2026, total posisi ULN kepada kelompok organisasi internasional mencapai US$46,799 miliar.

Beberapa organisasi yang tercantum dalam data tersebut antara lain:

  • International Bank for Reconstruction and Development (IBRD);
  • Asian Development Bank (ADB);
  • International Monetary Fund (IMF);
  • International Development Association (IDA);
  • Inter-American Development Bank (IDB);
  • International Fund for Agricultural Development (IFAD);
  • Nordic Investment Bank (NIB); dan
  • European Investment Bank (EIB).

Dari sejumlah organisasi tersebut, posisi ULN Indonesia kepada IBRD mencapai US$21,223 miliar, atau sekitar Rp375,4 triliun.

ADB berada berikutnya dengan posisi utang sebesar US$12,307 miliar, setara sekitar Rp217,8 triliun. Sementara itu, posisi ULN Indonesia kepada IMF mencapai US$8,757 miliar atau sekitar Rp155 triliun.

Adapun posisi utang kepada IDA tercatat sekitar US$1 juta. Sedangkan posisi ULN kepada IDB mencapai US$1,336 miliar, atau sekitar Rp23,6 triliun.

Pemerintah dan Swasta Punya Porsi ULN Berbeda

Besarnya ULN Indonesia juga dapat dilihat dari kelompok peminjamnya. Pada Juli 2026, posisi ULN pemerintah mencapai US$218,4 miliar, atau sekitar Rp3.863,9 triliun.

Secara tahunan, ULN pemerintah tumbuh 3,2%.

Menurut BI, perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Kondisi tersebut, menurut BI, mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada SBN internasional.

Di sisi lain, posisi ULN swasta pada Juli 2026 mencapai US$194,5 miliar. Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi 1,2%.

ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut memiliki pangsa 80,6% dari total ULN swasta.

BI: Struktur Utang Luar Negeri Tetap Sehat

Di tengah posisi ULN yang mencapai US$454,8 miliar, BI menyatakan struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat.

Salah satu indikator yang disebut BI adalah rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 30,7% pada Juli 2026. ULN Indonesia juga didominasi utang berjangka panjang.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” kata Ramdan.

BI bersama Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN.

Menurut BI, pemanfaatan ULN akan terus dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Pengelolaan tersebut dilakukan dengan tetap meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online