Belanja Makin Otomatis Pakai AI, 6 Bank Global Soroti Risiko Keamanannya

Jumali
Jumali Rabu, 23 September 2026 20:47 WIB
Belanja Makin Otomatis Pakai AI, 6 Bank Global Soroti Risiko Keamanannya

Ilustrasi bank. Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan agentic commerce atau belanja dengan bantuan agen kecerdasan artifisial (AI) mulai mendapat perhatian serius dari sektor perbankan global. Enam bank besar dunia menerbitkan prinsip bersama untuk membangun sistem transaksi berbasis agen AI yang lebih aman dan dapat dipercaya.

Enam bank tersebut adalah ASB Bank, Bank of America, Capital One, Commonwealth Bank of Australia, ING, dan NatWest Group. Mereka menerbitkan dokumen bertajuk Building Trust in Agentic Commerce pada Selasa (22/9/2026).

Dalam dokumen tersebut, para bank menyoroti lima aspek yang dinilai penting dalam perkembangan perdagangan berbasis agen AI, yakni transparansi, keselamatan, privasi dan data, kebebasan memilih konsumen, serta interoperabilitas.

Menurut mereka, kebutuhan terhadap perlindungan tersebut akan semakin besar ketika agen AI memperoleh kewenangan lebih luas untuk bertindak atas nama pengguna, termasuk mencari produk, menentukan pilihan, hingga membantu menyelesaikan pembayaran.

Risiko Belanja Diserahkan ke AI

Agentic commerce memungkinkan pengguna memberikan instruksi kepada agen AI untuk mengerjakan berbagai aktivitas perdagangan digital. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mencari barang atau jasa, membandingkan pilihan, melakukan pemesanan, hingga menjalankan proses pembayaran.

Persoalannya, semakin besar kewenangan yang diberikan kepada agen, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan pengguna tetap mengetahui dan mengendalikan tindakan yang dilakukan sistem.

Enam bank tersebut menilai konsumen harus dapat memahami apa yang dilakukan agen AI, data apa yang digunakan, kewenangan apa yang diberikan, serta bagaimana transaksi dapat dipertanggungjawabkan jika terjadi masalah.

Risiko yang mereka soroti antara lain meningkatnya potensi penipuan, kecurangan dan sengketa transaksi. Masalah juga dapat muncul ketika terjadi ketidaksesuaian antara keinginan konsumen, keputusan agen AI, dan barang atau layanan yang akhirnya diberikan pedagang.

Salah satu persoalan penting adalah siapa yang bertanggung jawab apabila agen AI melakukan transaksi di luar maksud atau kewenangan yang diberikan pengguna.

Karena itu, kelompok bank tersebut mendorong adanya jejak transaksi yang dapat diaudit. Catatan tersebut setidaknya perlu menunjukkan instruksi konsumen, otorisasi yang diberikan, proses autentikasi, keputusan transaksi, hingga hasil akhirnya.

Potensi Konflik Kepentingan

Perdagangan berbasis agen AI juga menghadirkan persoalan mengenai bagaimana agen menentukan pilihan ketika tersedia banyak produk, pedagang, maupun metode pembayaran.

Dokumen enam bank tersebut menekankan pentingnya transparansi dan kebebasan memilih. Prinsip tersebut diperlukan agar konsumen tetap memiliki kendali atas keputusan yang dibuat agen, termasuk ketika sistem berinteraksi dengan pedagang dan penyedia layanan pembayaran.

Risiko lainnya berkaitan dengan perlindungan pembayaran. Kelompok bank menyoroti kemungkinan munculnya praktik yang tidak aman, seperti agen atau penyedia layanan yang meminta konsumen memberikan informasi kartu secara langsung atau mengarahkan transaksi ke metode pembayaran dengan tingkat perlindungan yang lebih rendah.

Dengan semakin banyaknya layanan yang harus saling terhubung, interoperabilitas juga menjadi persoalan. Agen AI perlu dapat berinteraksi dengan berbagai penyedia layanan tanpa menghilangkan standar keamanan dan kontrol pengguna.

Kasus Meta Muse dan Amazon

Perdebatan mengenai keamanan dan kontrol dalam agentic shopping muncul bersamaan dengan perselisihan antara Meta dan Amazon.

Amazon pada September 2026 memblokir akses agen AI milik Meta, Muse, untuk melakukan aktivitas belanja di situsnya. Amazon mengatakan Meta sebelumnya diminta untuk mengecualikan situs Amazon dari pengalaman belanja Muse, tetapi permintaan tersebut tidak dipenuhi.

Amazon juga menyatakan aplikasi pihak ketiga yang melakukan pembelian atas nama konsumen dari bisnis lain seharusnya beroperasi secara terbuka dan menghormati keputusan penyedia layanan mengenai apakah mereka ingin berpartisipasi.

Pengguna Muse yang mencoba berbelanja di Amazon kemudian mendapatkan pemberitahuan bahwa akses agen AI tersebut dianggap melanggar ketentuan penggunaan Amazon.

Kasus tersebut menunjukkan salah satu persoalan yang kemungkinan akan semakin sering muncul dalam agentic commerce: siapa yang memiliki kendali ketika agen AI bertindak sebagai perantara antara konsumen dan platform perdagangan.

Enam Bank Tak Menutup Masa Depan Agentic Commerce

Meski menyoroti berbagai risiko, enam bank tersebut tidak menyatakan bahwa perkembangan agentic commerce harus dihentikan.

Sebaliknya, mereka menyebut teknologi ini memiliki potensi membuat aktivitas perdagangan lebih sederhana dan intuitif bagi konsumen maupun pelaku usaha. Namun, kepercayaan perlu dibangun bersamaan dengan perkembangan teknologinya.

Karena itu, keenam bank mengajak pelaku industri lain, termasuk pedagang, perusahaan teknologi, dan institusi keuangan, untuk ikut menerapkan prinsip tersebut dan membantu membentuk standar yang dapat digunakan secara lebih luas.

Lima prinsip yang mereka soroti—transparansi, keselamatan, privasi dan perlindungan data, pilihan konsumen, serta interoperabilitas—diharapkan menjadi dasar bagi perkembangan perdagangan berbasis agen AI yang tetap menempatkan konsumen dalam kendali.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online