Industri Manufaktur RI Tumbuh 5,87%, Furnitur Paling Kencang

Rizqi Rajendra
Rizqi Rajendra Minggu, 08 November 2026 09:57 WIB
Industri Manufaktur RI Tumbuh 5,87%, Furnitur Paling Kencang

Aktivitas karyawan di salah satu pabrik pembuatan komponen otomotif yang ada di Jakarta, belum lama ini. Bisnis/Nurul Hidayat\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Industri pengolahan Indonesia mencatat pertumbuhan 5,87% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III/2026. Capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,47% pada periode yang sama.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut kinerja tersebut menjadi capaian penting bagi sektor industri nasional. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, pertumbuhan industri pengolahan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

“Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, pertumbuhan sektor industri crossing dengan pertumbuhan ekonomi, kita di atas,” ujar Sarmuji dalam Media Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Jawa Barat, Jumat (6/11/2026).

Industri pengolahan juga memberikan kontribusi sebesar 19,22% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional atau setara Rp1.168,99 triliun.

Dari sisi ketenagakerjaan, sektor tersebut menyerap 19,98 juta tenaga kerja hingga Mei 2026. Sementara itu, realisasi investasi industri pengolahan pada kuartal III/2026 mencapai Rp246,9 triliun atau berkontribusi 46,7%.

Kontribusi industri pengolahan terhadap ekspor nasional juga tercatat besar. Sepanjang Januari-September 2026, ekspor sektor ini mencapai 82,64% dengan nilai US$182,83 miliar.

Industri Furnitur Tumbuh Paling Tinggi

Meski secara keseluruhan tumbuh di atas ekonomi nasional, kinerja industri pengolahan masih bervariasi antar-subsektor. Industri furnitur menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 12,68%.

Posisi berikutnya ditempati industri logam dasar yang tumbuh 9,94%, serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sebesar 9,75%.

Sejumlah subsektor lain juga mencatat pertumbuhan di atas rata-rata industri pengolahan yang sebesar 5,87%. Berikut rinciannya:

  • Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,10%.

  • Industri makanan dan minuman tumbuh 7,09%.

  • Industri pengolahan lainnya tumbuh 7,01%.

  • Industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,22%.

  • Industri alat angkutan tumbuh 6,14%.

Sementara itu, beberapa subsektor masih tumbuh di bawah rata-rata industri. Industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan 4,33%, industri kayu dan barang dari kayu 3,12%, serta industri kertas dan barang dari kertas 3,08%.

Industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik tumbuh 2,33%. Adapun industri barang galian bukan logam tumbuh 2,16%, sedangkan industri pengolahan tembakau hanya tumbuh 0,67%.

Di antara subsektor tersebut, industri karet, barang dari karet, dan plastik menjadi satu-satunya yang mengalami kontraksi. Pertumbuhannya tercatat minus 7,96%.

PMI Manufaktur Indonesia Capai 54 pada Oktober 2026

Selain pertumbuhan ekonomi dan investasi, aktivitas manufaktur juga tercermin dari indikator Purchasing Managers' Index (PMI). Pada Oktober 2026, PMI manufaktur Indonesia berada di level 54,0.

Posisi tersebut menempatkan Indonesia di bawah Taiwan yang mencatatkan PMI 54,9 dan Thailand sebesar 54,8.

Meski demikian, aktivitas manufaktur Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik. Jepang mencatat PMI 53,3, Vietnam 52,3, China 52,0, dan Korea Selatan 51,3.

Sementara itu, PMI manufaktur Malaysia berada di level 51,0 dan Australia 49,6.

Data tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur Indonesia berada di atas sejumlah negara pembanding, meskipun masih terdapat perbedaan kinerja antar-subsektor industri di dalam negeri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online