Shopee hingga TikTok Shop Berpotensi Masuk Risiko Tinggi PP Tunas

Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari Minggu, 27 September 2026 11:37 WIB
Shopee hingga TikTok Shop Berpotensi Masuk Risiko Tinggi PP Tunas

TikTok - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA— Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai Shopee, Tokopedia, dan TikTok semestinya juga masuk dalam kategori platform berprofil risiko tinggi seperti Lazada dan Blibli dalam implementasi PP Tunas.

Menurut Huda, Shopee dan TikTok Shop memiliki fitur live streaming yang perlu mendapat perhatian serta pengawasan orang tua ketika digunakan anak. Sementara itu, Tokopedia dinilai akan mengikuti risiko TikTok Shop karena kedua platform berada dalam satu ekosistem.

Namun, Huda mengingatkan bahwa masuk dalam kategori risiko tinggi PP Tunas bukan berarti sebuah platform merupakan layanan yang buruk. Status tersebut menunjukkan bahwa platform tersebut dinilai kurang ramah untuk digunakan oleh anak.

“Artinya, secara risiko, platform ecommerce memiliki risiko yang tinggi, baik berupa penipuan daring ataupun pembayarannya. Orang tua juga harus mendampingi anak ketika transaksi di ecommerce,” kata Huda kepada Bisnis, Minggu (27/9/2026).

Huda mempertanyakan apabila platform e-commerce yang berada di pasar sama justru memperoleh kategori risiko berbeda. Terlebih, menurut dia, Shopee dan TikTok memiliki fitur live streaming yang dapat menghadirkan risiko lebih tinggi bagi anak.

“Live streaming ini menurut saya harus ada pembatasan untuk anak-anak, karena konten-konten yang dipertontonkan bisa berbahaya bagi anak-anak,” katanya.

Daftar Platform Risiko Tinggi Bertambah

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan sejumlah platform digital masuk kategori berisiko tinggi dalam implementasi PP Tunas. Platform tersebut antara lain Telegram serta platform e-commerce seperti Lazada dan Blibli.

Penetapan itu menambah daftar platform yang sebelumnya telah dikategorikan berisiko tinggi, yakni YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan hingga 6 September 2026, Komdigi telah menetapkan dan memverifikasi 60 Produk, Layanan, dan Fitur (PLF) yang melakukan self-assessment.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 PLF memiliki profil risiko tinggi, sedangkan 38 PLF masuk dalam kategori risiko rendah.

“Untuk profil risiko tinggi yang berarti dilarang memberikan akses kepada akun anak di bawah 16 tahun atau tidak aman bagi anak,” kata Meutya dalam konferensi pers progres PP Tunas di Kantor Komdigi, Senin (14/9/2026).

Menurut Meutya, sejumlah platform yang masuk kategori risiko tinggi antara lain platform komunikasi dan percakapan seperti Telegram dan Discord.

Pinterest dan SnackVideo termasuk dalam kategori platform media sosial berisiko tinggi. Sementara pada kategori aplikasi gim, beberapa platform yang ditetapkan berisiko tinggi antara lain Hago App, Soul Mahjong, Age of Empires Mobile, dan Valorant.

Di sektor e-commerce, Lazada dan Blibli juga masuk dalam kategori berprofil risiko tinggi. Adapun WeTV dan Vidio masuk dalam kategori layanan streaming berisiko tinggi.

Meutya menegaskan penetapan profil risiko tersebut merupakan hasil self-assessment yang dilakukan oleh masing-masing platform. Dengan demikian, penilaian tersebut tidak sepenuhnya berasal dari pemerintah, tetapi juga mempertimbangkan masukan dari platform.

Dia juga mengingatkan platform yang belum melakukan self-assessment untuk segera menyelesaikan kewajiban tersebut.

Komdigi masih memberikan waktu hingga akhir tahun setelah memperpanjang batas waktu dengan mempertimbangkan kesiapan platform. Apabila platform tetap tidak melakukan self-assessment hingga batas waktu yang ditentukan, pemerintah dapat menetapkan sendiri profil risiko masing-masing platform.

“Mudah-mudahan ini dapat dipahami tidak hanya oleh publik tapi bagi para platform untuk terus melakukan upaya-upaya untuk mematuhi aturan dan regulasi yang ada di tanah air selama ingin memberikan layanannya di Indonesia,” kata Meutya.

Daftar 42 PLF yang Telah Ditetapkan

Sebanyak 42 PLF telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital.

Dari jumlah tersebut, 28 PLF memiliki profil risiko rendah, yaitu:

Apple Arcade
Lapak Gaming
Itemku
App Store
Apple Books
Situs Web Lazada Service
OPPO Official Website
Game Center & Games
Google Shopping
Livin’ Next-G
Eidupay
DANA
UniPin
Livin’ by Mandiri
Netflix Kids Profile
FaceTime
iMessage
Google Messages
Gmail
Canva Pendidikan
iCloud Drive & Photos
Siri
YouTube Kids
Google Maps
Gemini
Apple Maps
Apple Invites
Google Classroom

Sementara itu, sebanyak 14 PLF telah ditetapkan sebagai PLF berprofil risiko tinggi, yaitu:

Aplikasi Lazada
Situs Web Lazada
Blibli
BMoney
Vidio
Hago App
Pinterest
SnackVideo
X
Sola Mahjong
Goddess of Victory: NIKKE
Age of Empires Mobile
Valorant
Teamfight Tactics Mobile

18 PLF Masih dalam Proses Penetapan

Selain 42 PLF yang telah ditetapkan, terdapat 18 PLF yang telah memperoleh hasil verifikasi dan sedang dalam proses penetapan melalui penyusunan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital.

Dari jumlah tersebut, 10 PLF memiliki hasil verifikasi berprofil risiko rendah, yaitu:

Google Play
PlayStation
Apple Music
Apple TV
Spotify
Ruangguru App dan Ruangguru Web-based
Google Workspace
Google Search
Safari
Google Photos

Sementara itu, delapan PLF lainnya memiliki hasil verifikasi berprofil risiko tinggi, yaitu:

Apple Podcasts
WeTV (Layanan Streaming)
MAXStream TV
Discord
Telegram
Messenger
YouTube
Ludo World–Ludo Superstar
Crossfire: Legends

Adapun daftar profil risiko masih dapat bertambah seiring proses self-assessment dan verifikasi yang dilakukan Komdigi.

Kondisi tersebut juga menjadi konteks bagi platform e-commerce lainnya, termasuk TikTok Shop, Shopee, dan Tokopedia. Status profil risiko ketiga platform tersebut masih perlu dikonfirmasi berdasarkan proses self-assessment dan verifikasi masing-masing platform.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online