Kisah Hermanto Tanoko Akuisisi Taman Dayu Usai Istri Dilarang Foto

Nabilla Ilmi
Nabilla Ilmi Sabtu, 10 Oktober 2026 11:37 WIB
Kisah Hermanto Tanoko Akuisisi Taman Dayu Usai Istri Dilarang Foto

Hermanto Tanoko mengakuisisi Taman Dayu melalui Tancorp dan Tanrise Property. Simak kisah istri ditegur satpam hingga strategi bisnisnya.

Harianjogja.com, JAKARTA— Kisah istri Hermanto Tanoko yang ditegur satpam saat hendak berfoto di kawasan Taman Dayu menjadi cerita di balik keputusan konglomerat tersebut mengakuisisi kawasan properti itu. Melalui Tancorp Group, Hermanto kemudian mengambil alih Taman Dayu bersama Tanrise Property, dengan kepemilikan saham masing-masing sebesar 55% dan 45%.

Cerita tersebut kembali dibagikan Hermanto melalui akun media sosialnya. Ia mengungkapkan pengalaman sang istri, Sanderawati Joesoef, ketika ingin mengabadikan pemandangan di kawasan Taman Dayu yang dikenal memiliki lanskap hijau.

Peristiwa itu berujung teguran dari petugas keamanan yang berjaga. Mendengar pengalaman tersebut, Hermanto mengaku kesal dan memutuskan untuk membeli kawasan Taman Dayu.

"Dulu Istri saya dilarang foto sama satpam, sekarang kami beli Taman Dayu!" tulis Hermanto melalui laman TikTok pribadinya, dikutip Jumat (9/10/2026).

Di balik cerita tersebut, akuisisi Taman Dayu merupakan bagian dari strategi bisnis Tancorp Group untuk mengembangkan potensi kawasan properti. Transaksi itu sendiri telah diselesaikan pada Desember 2023 melalui PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk atau Tanrise Property (RISE).

Taman Dayu Memiliki Lahan Sekitar 600 Hektare

Taman Dayu merupakan kawasan terpadu yang mencakup Taman Dayu Golf Club and Resort. Kawasan ini memiliki lapangan golf yang dikenal sebagai salah satu lapangan golf terbaik dan tercantik di Indonesia, yakni the Jack Nicklaus Signature Course at Taman Dayu.

Secara keseluruhan, kawasan resor tersebut terintegrasi dalam lahan Taman Dayu seluas sekitar 600 hektare. Potensi pengembangan kawasan itulah yang menjadi salah satu pertimbangan Hermanto Tanoko dalam mengambil keputusan bisnis.

Hermanto, yang menjabat sebagai Komisaris Utama Tanrise Property sekaligus CEO Tancorp Group, menilai Taman Dayu memiliki peluang pengembangan yang besar.

"Saat pertama kali saya mengunjungi Taman Dayu, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, melihat potensinya yang luar biasa," katanya dalam siaran pers, Kamis (28/12/2023).

Menurut Hermanto, akuisisi tersebut menjadi langkah strategis Tanrise Property untuk meningkatkan pencapaian di industri properti, memperkuat posisi di pasar, serta memberikan nilai tambah kepada konsumen dan pemangku kepentingan.

Proses Akuisisi Taman Dayu Rampung pada Desember 2023

Tancorp Group melalui PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk atau Tanrise Property mengakuisisi PT Taman Dayu beserta entitas anaknya, PT Golf Taman Dayu. Sebelum transaksi tersebut, Taman Dayu dimiliki oleh PT HM Sampoerna Tbk dan PT Wahana Sampoerna.

Proses akuisisi diawali dengan penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat pada November 2023. Acara tersebut berlangsung di kantor pusat PT HM Sampoerna Tbk di Surabaya dan dihadiri jajaran direksi Tanrise Property serta jajaran direksi HM Sampoerna.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, penyelesaian transaksi jual beli saham dilaksanakan pada 27 Desember 2023.

Setelah transaksi selesai, Tancorp Group dan Tanrise Property masing-masing memiliki 55% dan 45% saham di Taman Dayu.

Akuisisi ini memperkuat portofolio bisnis properti kelompok usaha Hermanto Tanoko. Tancorp sendiri memiliki unit usaha di berbagai sektor, mulai dari barang konsumsi, bahan baku, hingga properti.

Hermanto Tanoko, Konglomerat dengan Kekayaan US$1,5 Miliar

Hermanto Tanoko merupakan salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Berdasarkan data Forbes per Agustus 2026 yang dikutip dalam laporan Bisnis.com, kekayaannya mencapai US$1,5 miliar.

Nilai tersebut meningkat US$23 juta dari data terakhir yang disebutkan dalam laporan tersebut. Hermanto berada di peringkat ke-25 orang terkaya di Indonesia dan menempati urutan ke-2.600 dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes.

Di bawah Tancorp Group, Hermanto mengendalikan sejumlah perusahaan, termasuk emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Beberapa di antaranya adalah PT Avia Avian Tbk. (AVIA), PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE).

Portofolio tersebut memperlihatkan ekspansi bisnis Hermanto yang mencakup industri cat, minuman, serta properti.

Perjalanan Bisnis Hermanto Tanoko dari Keluarga hingga Konglomerasi

Perjalanan bisnis Hermanto tidak terlepas dari pengalaman hidupnya sejak kecil. Berdasarkan catatan Bisnis.com pada 27 November 2023, Hermanto lahir di Malang, Jawa Timur, pada 17 September 1962.

Ia dan keluarganya pernah menghadapi tekanan akibat sentimen terhadap keturunan Tionghoa yang disebut harus dipulangkan ke China dan tidak boleh berdagang di Indonesia. Situasi tersebut membuat keluarganya harus berpindah-pindah tempat tinggal dan tidak memiliki tempat tinggal tetap.

Orang tua Hermanto awalnya bekerja sebagai petani palawija sebelum beralih membuka toko cat. Pada usia 14 tahun, Hermanto sudah dipercaya mengelola sebuah apotek sendiri.

Perkembangan usaha yang dijalaninya membantu membiayai pendidikan hingga perguruan tinggi. Setelah lulus kuliah, ia kembali bergabung dengan perusahaan milik ayahnya.

Setahun kemudian, kakaknya, Wijono Tanoko, turut bergabung. Keduanya kemudian mengembangkan usaha cat keluarga hingga menjadi PT Avia Avian.

Perusahaan yang berdiri sejak 1978 tersebut terus berkembang dalam hal keuntungan, jaringan distribusi, dan inovasi produk. Pada semester I/2026, PT Avia Avian Tbk. berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp938 miliar.

Kini, Hermanto mengembangkan bisnis melalui Tancorp Group dengan portofolio lintas sektor. Akuisisi Taman Dayu menjadi salah satu langkah ekspansi yang memperkuat posisi kelompok usahanya di industri properti Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online