Penumpang KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 600 Juta pada 2036

Newswire
Newswire Kamis, 15 Oktober 2026 10:27 WIB
Penumpang KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 600 Juta pada 2036

Suasana dalam gerbong KRL./ Harian Jogja - Ujang Hasanudin

Harianjogja.com, JAKARTA—PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI diminta menyusun peta jalan transformasi perkeretaapian untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang KRL Jabodetabek. Jumlah pengguna layanan tersebut diproyeksikan mendekati 600 juta orang per tahun pada 2036 sehingga peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan perlu direncanakan secara terintegrasi.

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan penyusunan masterplan diperlukan agar pengembangan layanan kereta api memiliki arah yang jelas dalam jangka panjang.

“Saya minta nanti dibikinin roadmap, master plan mengenai transformasi publik kereta api ini,” ujar Dony dalam keterangannya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Kamis.

Peta jalan tersebut akan mencakup kebutuhan sarana dan prasarana, peningkatan kapasitas jaringan, hingga perbaikan pengalaman pelanggan. Dengan perencanaan itu, KAI diharapkan dapat menyesuaikan pengembangan layanan dengan pertumbuhan jumlah penumpang.

Penumpang KRL Diproyeksikan Tembus 375 Juta pada 2026

Berdasarkan proyeksi KAI, jumlah penumpang KRL Jabodetabek pada 2026 diperkirakan mencapai 375 juta orang. Angka tersebut melampaui target awal sebanyak 369 juta penumpang.

Hingga September 2026, jumlah penumpang tercatat mencapai 271 juta orang. Dalam jangka panjang, volume pengguna KRL Jabodetabek diperkirakan mendekati 600 juta orang per tahun pada 2036.

Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan rencana pengembangan layanan. KAI perlu menyiapkan kapasitas angkut, fasilitas stasiun, dan sistem pendukung operasional agar dapat mengakomodasi peningkatan kebutuhan perjalanan masyarakat.

KAI Siapkan Rangkaian SF-12 dan Perpendek Jarak Perjalanan

Untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang, KAI menyiapkan peningkatan kapasitas layanan melalui pemendekan jarak antarperjalanan serta penambahan kapasitas rangkaian kereta.

Pada lintas Green Line menuju Serpong dan Rangkasbitung, jarak antarperjalanan ditargetkan menjadi kurang dari 10 menit dengan penggunaan rangkaian SF-12.

Sementara itu, peningkatan kapasitas menggunakan rangkaian SF-12 pada lintas Cikarang dan Bogor ditargetkan siap pada 2028–2029.

Selain penambahan kapasitas rangkaian, masterplan transformasi perkeretaapian juga akan mencakup pembenahan berbagai aspek operasional. Hal itu meliputi optimalisasi jumlah rangkaian kereta, peningkatan kapasitas stasiun dan peron, penguatan sistem komunikasi, serta penanganan titik-titik dengan kepadatan lalu lintas kereta tertinggi.

Dony mengatakan perencanaan perlu mencakup seluruh komponen pendukung agar kapasitas jaringan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.

“Jadi semua, semua pilarnya itu dirapihin, stasiunnya, bangun master plan-nya, termasuk jumlah keretanya, stasiunnya, alat komunikasinya, titik trafik yang tertingginya, berapa kapasitas stasiun di situ,” ujar Dony.

Melalui penyusunan masterplan yang menyeluruh, BP BUMN dan Danantara mendorong KAI mengintegrasikan pengembangan sarana, prasarana, dan operasional perkeretaapian. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut sekaligus menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih nyaman, efisien, dan andal bagi masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online