PLN Merger Dua Anak Usaha, Begini Kondisi Pegawainya

Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova Senin, 26 Oktober 2026 09:07 WIB
PLN Merger Dua Anak Usaha, Begini Kondisi Pegawainya

Tim PDKB PLN./Ist

Harianjogja.com, JAKARTA—PT PLN (Persero) menggabungkan dua anak usahanya, PT PLN Electricity Services (PLN ES) dan PT PLN Nusa Daya (PLN ND), menjadi subholding PLN Services. Penggabungan yang diresmikan di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (23/10/2026), dilakukan untuk memperkuat layanan operasi dan pemeliharaan kelistrikan sekaligus meningkatkan efisiensi bisnis.

Langkah konsolidasi tersebut merupakan bagian dari penataan portofolio PLN Group sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto melalui Danantara Asset Management (DAM). Integrasi kedua perusahaan diharapkan dapat menyatukan kompetensi, sumber daya, dan jaringan layanan yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun.

Direktur Utama PLN, Suroso Isnandar, mengatakan penggabungan tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat sinergi bisnis operasi dan pemeliharaan atau operation and maintenance (O&M). Melalui struktur baru ini, PLN Services diharapkan menjadi garda terdepan layanan PLN kepada masyarakat.

"Ini adalah bukti implementasi nyata dari arahan yang disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo melalui Danantara Asset Management, di mana kami akan merampingkan BUMN-BUMN yang ada. Kami akan melakukan streamlining dengan harapan, dapat membangun organisasi yang lebih lean, lebih kokoh, dan juga efisien. Bisnis yang sejenis kami satukan, kompetensi yang ada kita perkuat, dan sumber daya yang kita optimalkan untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar," ujar Suroso, dikutip dari siaran pers, Senin (26/10/2026).

Menurut Suroso, kedua perusahaan memiliki pengalaman dan wilayah layanan yang saling melengkapi. PLN Electricity Services telah melayani wilayah Indonesia bagian barat selama 15 tahun, mencakup Sumatra, Jawa, dan Bali. Sementara itu, PLN Nusa Daya memiliki pengalaman 23 tahun melayani Indonesia bagian timur, dari Kalimantan hingga Papua.

“Kedua perusahaan ini, di mana Electricity Services telah melayani 15 tahun untuk Indonesia bagian barat, Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusadaya sudah 23 tahun melayani Indonesia bagian timur, yaitu daerah Kalimantan hingga Papua, dan sistemnya sudah sungguh teruji. Masing-masing mempunyai keunggulan yang luar biasa,” imbuh Suroso.

Merger PLN Tanpa PHK

Suroso memastikan penggabungan dua anak usaha tersebut tidak disertai pemutusan hubungan kerja (PHK). Seluruh pegawai akan beralih ke struktur baru tanpa pengurangan status dan hak.

Setelah konsolidasi, PLN Services akan ditopang dua pilar utama. Pilar pertama adalah Generation Services, yang berfokus pada operasi, pemeliharaan, dan perbaikan pembangkit listrik, termasuk penyediaan suku cadang.

Pilar kedua, Business Enablement Services, akan menangani layanan penunjang operasional. Cakupannya meliputi penyediaan tenaga kerja, pengamanan, dan fasilitas.

Kedua pilar tersebut dirancang untuk memperkuat layanan kepada PLN Group sekaligus membuka peluang pengembangan pasar di luar lingkungan perusahaan. Sektor yang dibidik antara lain industri, pembangkit listrik di luar PLN, energi baru terbarukan, serta pasar nasional dan regional.

PLN Services juga akan mengembangkan layanan berbasis teknologi, termasuk digitalisasi, pemeliharaan prediktif, dan manajemen aset. Pengembangan tersebut diharapkan mendukung peningkatan efisiensi sekaligus menjaga keandalan operasional pembangkitan, transmisi, dan distribusi tenaga listrik.

“Ini bagian dari upaya PLN untuk terus memperkuat bisnis, mengoptimalkan kompetensi, meningkatkan efisiensi, dan membangun layanan ketenagalistrikan yang semakin terintegrasi dari hulu hingga hilir. Tidak hanya sekadar menyatukan kompetensi dan layanan, penggabungan ini juga meningkatkan dan membuat suatu value creation, di mana konsolidasi ini akan menghasilkan nilai tambah yang sangat nyata di PLN Group,” kata Suroso.

Danantara Tekankan Penciptaan Nilai

Senior Director Business Performance & Asset Optimization Danantara Asset Management, Bhimo Aryanto, mengatakan penataan perusahaan di lingkungan badan usaha milik negara (BUMN) dilakukan untuk memperjelas peran dan fokus setiap entitas. Upaya tersebut, menurut dia, sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2026 tentang Percepatan Program Penataan BUMN dan/atau Anak Usaha BUMN.

Bhimo menegaskan penggabungan perusahaan bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Keberhasilan transformasi tidak cukup diukur dari berkurangnya jumlah entitas, tetapi juga dari keberlanjutan bisnis dan kemampuan perusahaan menjaga keandalan layanan.

“Merger hari ini adalah fondasi pertama menuju supporting O&M services PLN. Namun, di sini saya ingin menekankan satu hal sejak awal, merger bukan tujuan akhir. Merger adalah instrumen untuk menciptakan value yang lebih besar. Keberhasilan transformasi tidak diukur dari berkurangnya jumlah entitas. Itu adalah cara, itu adalah metode dari kalkulasi yang hati-hati, yang diharapkan PLN bisa sustain. Karena PLN ini, kita paham, dituntut bukan hanya profitability, tapi reliability,” ujar Bhimo.

Dia menjelaskan terdapat empat sasaran utama dalam program penataan BUMN dan anak usahanya.

Pertama, menyederhanakan struktur korporasi untuk mengurangi duplikasi fungsi, proses bisnis, dan struktur organisasi. Kedua, meningkatkan efisiensi operasional melalui optimalisasi biaya, pemanfaatan sumber daya, serta standardisasi proses, sistem, dan tata kelola.

Ketiga, meningkatkan daya saing melalui skala ekonomi yang lebih besar serta penerapan standar profesional dan komersial yang lebih kompetitif. Keempat, mengoptimalkan alokasi modal dengan memprioritaskan investasi bernilai tinggi, menghindari belanja modal yang tumpang tindih, dan memastikan setiap investasi memiliki dasar kelayakan serta hasil yang sepadan dengan risikonya.

Bhimo menambahkan reformasi BUMN diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas daripada kepentingan perusahaan. Penataan yang tepat, disiplin alokasi modal, dan penciptaan nilai berkelanjutan diharapkan dapat mengoptimalkan aset negara untuk menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online