Mataram Legacy Run 2026 Ajak Pelari Susuri Gang Bersejarah Kotagede, Ini Jadwalnya
Mataram Legacy Run digelar 22 November 2026 di Kotagede, mengajak pelari menyusuri kawasan bersejarah sambil menikmati kuliner dan kerajinan lokal.
Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Jumlah kelas menengah Indonesia terus menjadi sorotan seiring tekanan biaya hidup yang menggerus kemampuan masyarakat untuk menabung dan merencanakan masa depan. Pada 2025, sebanyak 1,2 juta orang dilaporkan turun ke kelompok ekonomi yang lebih rendah, sementara proporsi kelas menengah terhadap total penduduk menyusut menjadi 16,6%.
Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan tingkat pendapatan. Kenaikan biaya perumahan, pendidikan, dan transportasi, di tengah upah yang relatif stagnan, turut mempersempit ruang keuangan rumah tangga.
Dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor, mulai dari ritel dan pusat perbelanjaan, fesyen, makanan dan minuman, hingga pariwisata, perhotelan, manufaktur, dan jasa. Perubahan pola belanja juga dapat menjadi salah satu petunjuk ketika masyarakat mulai mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak mendesak.
Gaji Tak Seimbang dengan Kebutuhan
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menjelaskan kelas menengah umumnya merujuk pada kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menabung dan merencanakan masa depan.
Namun, menurut Wisnu, kelompok kelas menengah Indonesia secara data relatif sedikit dan rata-rata berada di batas bawah atau lower middle class. Kondisi tersebut membuat sebagian rumah tangga rentan mengalami penurunan kelas ekonomi ketika menghadapi guncangan, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) atau kenaikan cicilan.
Salah satu persoalan mendasarnya adalah penghasilan yang tidak sebanding dengan kebutuhan. Wisnu menilai, banyak lapangan kerja baru bersifat survival-based, yakni hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi belum memadai untuk mendorong mobilitas ekonomi.
Tekanan tersebut terlihat ketika upah riil kelas menengah bawah relatif stagnan, sedangkan pengeluaran untuk perumahan, pendidikan, dan transportasi meningkat. Situasi ini memicu income squeeze atau tekanan pendapatan yang mengurangi kemampuan rumah tangga untuk menabung dan menyiapkan kebutuhan masa depan.
Masalah lain yang disoroti Wisnu ialah meningkatnya pekerjaan rentan berbasis rumah tangga yang tidak disertai jaminan sosial. Tanpa perlindungan yang memadai, guncangan pendapatan dapat membuat kondisi keuangan keluarga semakin sulit dipulihkan.
Wisnu juga menilai Indonesia belum memiliki peredam kejut atau shock absorber yang memadai bagi kelompok kelas menengah. Kebijakan sosial selama ini berfokus pada kelompok miskin, sedangkan kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class berada dalam posisi rentan karena tidak cukup miskin untuk menerima bantuan, tetapi belum cukup aman secara ekonomi untuk mandiri sepenuhnya.
Ia menyebut risiko kondisi tersebut sebagai aspiration without mobility, yaitu keadaan ketika masyarakat memiliki harapan untuk meningkatkan taraf hidup, tetapi tidak mempunyai jalur struktural yang memadai untuk naik kelas secara ekonomi.
Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi melemahkan fondasi konsumsi dan basis pajak. Transformasi Indonesia menuju negara maju pun dapat kehilangan salah satu kelompok pendukung utamanya.
Lima Tanda Kondisi Keuangan Kelas Menengah Tertekan
Dilansir dari New Trader U, terdapat sejumlah indikator yang dapat menggambarkan tekanan finansial pada rumah tangga kelas menengah. Indikator ini bukan klasifikasi resmi kelas ekonomi, melainkan gambaran kondisi keuangan yang perlu diperhatikan.
Biaya perumahan melebihi 40% pendapatan. Porsi pengeluaran tempat tinggal yang terlalu besar dapat mengurangi kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan lain dan menjaga kestabilan keuangan.
Tidak memiliki dana darurat. Ketiadaan tabungan cadangan membuat rumah tangga lebih rentan ketika menghadapi PHK, kebutuhan mendadak, atau guncangan keuangan lainnya.
Menunda pengobatan karena biaya. Ketika biaya kesehatan menjadi pertimbangan utama untuk mencari pertolongan medis, rumah tangga dapat menghadapi pilihan sulit antara kebutuhan kesehatan dan pengeluaran lain.
Pendidikan anak mengharuskan utang berlebihan. Biaya kuliah yang meningkat dapat membuat keluarga mengandalkan pinjaman. Beban utang pendidikan yang besar juga dapat menjadi tantangan bagi lulusan baru ketika penghasilan awal belum memadai.
Tidak lagi mampu merencanakan liburan tahunan. Ketika seluruh pendapatan yang dapat dibelanjakan terserap untuk kebutuhan pokok, pengeluaran rekreasi menjadi salah satu pos yang terpaksa dikurangi.
Indikator tersebut perlu dibaca bersama kondisi keuangan secara menyeluruh. Satu tanda saja tidak otomatis membuktikan seseorang telah turun kelas ekonomi.
Data Kelas Menengah Indonesia Berubah
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia pada 2019 mencapai 57,33 juta orang atau 21,45% dari total penduduk. Pada 2024, jumlah tersebut tercatat turun menjadi 47,85 juta orang atau 17,13%.
Data BPS untuk September 2024 juga mencatat jumlah kelas menengah sekitar 48,41 juta orang. Sementara itu, kelompok menuju kelas menengah mencapai 138,31 juta orang.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya populasi yang berada pada kelompok menuju kelas menengah. Namun, kelompok ini perlu dibedakan dari kelas menengah karena kategori ekonomi yang digunakan tidak sama.
Sementara itu, laporan Mandiri Institute bertajuk Mandiri Institute Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah di 2025, yang dirilis pada Februari 2026, mencatat sebanyak 1,2 juta orang turun dari kelas menengah ke kelompok ekonomi yang lebih rendah sepanjang 2025.
Laporan tersebut menyebut proporsi kelas menengah terhadap total penduduk turun menjadi 16,6% pada 2025, dari 17,1% pada 2024.
Pada periode yang sama, kelompok calon kelas menengah bertambah 4,5 juta orang menjadi 142 juta jiwa, dari 137,5 juta jiwa pada 2024.
Di sisi lain, jumlah penduduk miskin dilaporkan berkurang 1,4 juta orang, dari 25,2 juta pada 2024 menjadi 23,9 juta pada 2025. Kelompok kelas atas juga bertambah sekitar 100.000 orang, dari 1,1 juta menjadi 1,2 juta.
Sumatra Selatan Catat Penurunan Terbesar
Perubahan jumlah kelas menengah juga berbeda antardaerah. Berdasarkan laporan Mandiri Institute tersebut, Sumatra Selatan mencatat penurunan terbesar, yakni 693.000 jiwa.
Penurunan juga terjadi di sejumlah provinsi lain, antara lain:
Banten sebanyak 268.000 jiwa.
Jawa Tengah sebanyak 161.000 jiwa.
DKI Jakarta sebanyak 119.000 jiwa.
Sebaliknya, beberapa provinsi mencatat penambahan jumlah kelas menengah. Jawa Barat memimpin dengan kenaikan 358.000 jiwa, disusul Jawa Timur sebanyak 152.000 jiwa.
Daerah Istimewa Jogja juga mencatat penambahan 63.000 jiwa, sedangkan Kalimantan Barat bertambah 55.000 jiwa.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa dinamika kelas menengah tidak berlangsung seragam di setiap wilayah. Meski demikian, perubahan jumlah penduduk dalam kategori tertentu tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebabnya, sehingga perlu dibaca bersama kondisi ekonomi dan metode pengelompokan yang digunakan.
Konsumsi Nonmakanan Masih Tumbuh
Di tengah tekanan ekonomi, laporan Mandiri Institute juga mencatat pengeluaran kelas menengah untuk kebutuhan nonmakanan tumbuh 6,4% pada 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 3,2% pada 2024.
Untuk barang tahan lama, pembelian telepon seluler mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 31,2%. Pertumbuhan berikutnya tercatat pada barang elektronik sebesar 26,2%, perhiasan 25%, alat olahraga 23,9%, furnitur 23,6%, kendaraan 16,7%, peralatan 12,1%, dan kategori lainnya 6,6%.
Data pertumbuhan konsumsi tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak serta-merta membuat seluruh jenis pengeluaran kelas menengah menyusut. Namun, angka pertumbuhan saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa daya beli seluruh kelompok kelas menengah telah pulih.
Perkembangan kelas menengah pada akhirnya berkaitan dengan kemampuan rumah tangga mempertahankan pendapatan, memenuhi kebutuhan dasar, menghadapi guncangan, serta menyisihkan uang untuk masa depan. Ketika ruang keuangan semakin sempit, kemampuan untuk mempertahankan atau meningkatkan taraf hidup ikut menghadapi tantangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Mataram Legacy Run digelar 22 November 2026 di Kotagede, mengajak pelari menyusuri kawasan bersejarah sambil menikmati kuliner dan kerajinan lokal.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengingatkan peserta TKA SMA menerapkan 3M, mulai dari menguasai materi hingga menjaga mental dan mengatur waktu.
Bandara King Khalid di Riyadh kembali melayani sebagian penerbangan setelah ditutup dua pekan. Houthi kembali memperingatkan maskapai dan penumpang.
Febrie Adriansyah dan dua terdakwa lain menjalani sidang putusan sela dalam perkara dugaan pemerasan dan pencucian uang.
Sebanyak 1,2 juta warga Indonesia turun dari kelas menengah pada 2025. Simak penyebab, data terbaru, dan tanda tekanan finansial.
Mahasiswa asing UGM melihat koleksi naskah kuno DPAD DIY, termasuk manuskrip 1816 beraksara Jawa dan berbahasa Belanda.