Wamenkeu Juda Agung Sebut RI Punya 10-15 Tahun Kejar Ekonomi 8 Persen

Newswire
Newswire Selasa, 13 Oktober 2026 14:47 WIB
Wamenkeu Juda Agung Sebut RI Punya 10-15 Tahun Kejar Ekonomi 8 Persen

Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Indonesia memiliki waktu sekitar 10-15 tahun untuk memanfaatkan bonus demografi sebelum memasuki fase penuaan penduduk. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menilai momentum tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi Indonesia untuk mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

Menurut Juda, peluang itu perlu dimanfaatkan melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta penciptaan lapangan kerja. Besarnya jumlah penduduk usia produktif harus diimbangi dengan keterampilan yang sesuai dan kesempatan kerja yang memadai agar memberikan manfaat ekonomi.

“Indonesia sedang menghadapi peluang demografi yang tidak akan terulang atau tidak akan terbuka selamanya. Dalam sekitar 10-15 tahun ke depan, Indonesia masih memiliki peluang memanfaatkan bonus demografi dengan angkatan kerja besar, generasi muda yang semakin terhubung dengan teknologi serta pasar domestik yang luas,” kata Juda dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa.

Pertumbuhan Ekonomi 8% untuk Manfaatkan Bonus Demografi

Juda mengingatkan bahwa besarnya populasi usia produktif tidak otomatis menjadi keuntungan bagi perekonomian. Jika penciptaan lapangan kerja tertinggal, keterampilan tenaga kerja tidak sesuai kebutuhan industri, dan produktivitas berjalan lambat, Indonesia berisiko kehilangan momentum tersebut.

"Kita tidak boleh menjadi negara yang menua sebelum menjadi negara yang kaya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan perkembangan rasio ketergantungan atau dependency ratio di Indonesia. Rasio tersebut diperkirakan meningkat dari 46,5 pada 2025 menjadi 46,8 pada 2030, kemudian naik menjadi 59,7 pada 2045.

Peningkatan rasio ketergantungan menunjukkan bertambahnya jumlah penduduk usia nonproduktif dibandingkan penduduk usia produktif. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memaksimalkan potensi demografi sebelum memasuki fase penuaan penduduk.

Karena itu, Juda menekankan perlunya upaya bersama dari pemerintah dan sektor swasta untuk memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Target pertumbuhan ekonomi 8% dinilai perlu mendapat perhatian serius agar Indonesia tidak kehilangan peluang yang berasal dari besarnya jumlah penduduk usia produktif.

“Kalau sense of urgency 8 persen tidak kita lakukan secara bersama baik negara maupun swasta, maka kesempatan ini akan hilang,” kata Juda.

Indonesia Perlu Tingkatkan Nilai Tambah Industri

Selain memanfaatkan bonus demografi, Juda menyebut Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada aktivitas ekonomi yang menghasilkan nilai tambah rendah. Salah satu upaya yang diperlukan ialah mengembangkan industri yang lebih kompleks, mendorong inovasi, serta memperkuat keterkaitan antara pendidikan, riset, teknologi, dan kegiatan produksi.

Menurut dia, Indonesia juga perlu meningkatkan kemampuan mengolah sumber daya alam (SDA) menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Dengan demikian, perekonomian tidak hanya bergantung pada kepemilikan sumber daya, tetapi juga pada kemampuan mengembangkan produk dan teknologi.

"Kita harus bergerak dari sekadar memiliki sumber daya alam menjadi menguasai kemampuan mengolahnya. Dari memproduksi barang menjadi merancang dan mengembangkan produk bernilai tambah tinggi. Dari sekedar menjadi pasar bagi produk-produk global menjadi bagian penting dari rantai nilai global," kata Juda.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online