Menperin Ungkap Kinerja Industri RI, Ekspor Capai US$159,55 Miliar

Newswire
Newswire Jum'at, 30 Oktober 2026 22:17 WIB
Menperin Ungkap Kinerja Industri RI, Ekspor Capai US$159,55 Miliar

Aktivitas karyawan di salah satu pabrik pembuatan komponen otomotif yang ada di Jakarta, belum lama ini. Bisnis/Nurul Hidayat\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menepis anggapan sektor industri manufaktur Indonesia sedang mengalami pelemahan atau kontraksi. Sebaliknya, industri pengolahan nonmigas mencatatkan pertumbuhan 5,32% pada kuartal II/2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29%.

Capaian tersebut menunjukkan industri manufaktur masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Kinerja positif itu juga terlihat dari kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), investasi, ekspor, hingga penyerapan tenaga kerja.

Dalam paparannya di hadapan para pengusaha pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026, Jumat (30/10/2026), Sarmuji menjelaskan pertumbuhan industri pengolahan telah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional dalam dua periode terakhir.

Dia menyebut kondisi tersebut menjadi perkembangan penting karena selama ini pertumbuhan sektor industri umumnya berada sedikit di bawah laju ekonomi nasional.

"Ini agak konsisten, di tahun 2025 secara keseluruhan industri pengolahan itu tumbuh 5,3%, sementara secara agregat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11%. Ini sebenarnya crossing pertama kali sejak 12 tahun yang lalu, di mana biasanya sektor industri itu sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional," urai Sarmuji di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Kontribusi Industri Manufaktur terhadap PDB dan Investasi
Selain pertumbuhan ekonomi, kekuatan sektor manufaktur juga tercermin dari kontribusinya terhadap berbagai indikator makroekonomi nasional.

Industri pengolahan mencatatkan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp1.102,88 triliun. Sektor ini juga menyumbang 38,98% terhadap total realisasi investasi nasional.

Besarnya kontribusi tersebut memperlihatkan posisi industri pengolahan dalam menopang aktivitas ekonomi sekaligus menarik penanaman modal di Indonesia.

Dari sisi perdagangan internasional, ekspor industri pengolahan pada Agustus 2026 mencapai US$159,55 miliar. Nilai tersebut setara dengan 82,40% dari keseluruhan ekspor nasional Indonesia.

Sementara itu, sektor manufaktur juga berperan besar dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Hingga Mei 2026, industri pengolahan tercatat menyerap tenaga kerja sebanyak 19,98 juta orang.

Indeks Kepercayaan Industri dan PMI Masih Ekspansi
Untuk memperkuat pernyataan bahwa industri manufaktur tidak sedang mengalami kontraksi, Sarmuji turut memaparkan perkembangan sejumlah indikator aktivitas industri.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 tercatat berada di level 53,77. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi September 2026 yang mencapai 51,9.

Menurut Sarmuji, nilai IKI di atas 50 menunjukkan aktivitas industri berada dalam fase ekspansi atau pertumbuhan.

"Kalau di atas 50 itu sebenarnya levelnya level ekspansi. Adapun Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan September 2026 juga terus berada dalam fase ekspansi dengan indeks 52,1," tegasnya.

Selain IKI, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 juga berada di level 52,1. Indikator tersebut turut menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam zona ekspansi.

Pasar Domestik Jadi Penopang Ketahanan Industri Nasional
Sarmuji menilai kemampuan industri nasional bertahan di tengah gejolak dan disrupsi ekonomi global tidak terlepas dari kuatnya fundamental pasar domestik.

Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dengan jumlah penduduk mencapai 287,2 juta jiwa. Selain itu, konsumsi rumah tangga pada 2025 tercatat sebesar Rp12.834,8 triliun.

Besarnya jumlah penduduk dan konsumsi masyarakat tersebut menjadi sumber permintaan domestik bagi berbagai produk manufaktur nasional.

Menurut Sarmuji, kekuatan permintaan dalam negeri berperan penting dalam menjaga keberlangsungan industri. Pasar domestik juga menjadi penopang ketika permintaan dari pasar internasional mengalami ketidakstabilan.

Dengan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32%, kontribusi ekspor mencapai 82,40% dari total ekspor nasional, serta penyerapan tenaga kerja hampir 20 juta orang, sektor manufaktur menunjukkan peran strategis dalam perekonomian Indonesia.

Pemerintah menilai kekuatan pasar domestik menjadi salah satu faktor penting yang menjaga resiliensi industri nasional di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online