MBG Prasmanan Diuji Coba di 2 Sekolah DIY, Sisa Makanan Capai 3,3 Kg
BGN menguji coba MBG prasmanan di dua sekolah DIY dengan 106 siswa. Kepuasan siswa dan guru mencapai 5/5, sisa makanan 3,3 kg.
Suasana Malioboro Mall yang berada di Jalan Malioboro, Jogja./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih relatif stabil sepanjang 2026. Namun, perilaku belanja konsumen mulai bergeser melalui fenomena downgrade, yakni memilih produk yang lebih terjangkau dan membatasi pengeluaran di luar kebutuhan utama.
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DIY, Surya Ananta, mengatakan perubahan perilaku tersebut terjadi di tingkat regional maupun nasional. Konsumen kini memiliki lebih banyak alternatif selain merek kelas atas, termasuk produk lokal dan nasional yang menawarkan kualitas semakin baik dengan harga lebih terjangkau.
"Konsumen di DIY yang didominasi oleh segmen keluarga muda, pekerja, dan mahasiswa tetap memanfaatkan mal sebagai ruang publik untuk hiburan, namun lebih selektif dalam membelanjakan uangnya," ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Surya menjelaskan volume kunjungan ke pusat perbelanjaan di DIY secara umum tetap terjaga hingga Oktober 2026. Bahkan, jumlah pengunjung sempat meningkat dua digit pada periode puncak libur Lebaran, libur kembali ke sekolah atau back to school, kedatangan mahasiswa baru, serta penyelenggaraan Indonesia Shopping Festival (ISF).
Selain itu, kegiatan komunitas, pameran, dan kunjungan wisatawan saat libur panjang turut mendukung jumlah pengunjung mal.
"Menjadi penopang utama lalu lintas kunjungan di mal-mal di Jogja," jelasnya.
Meski jumlah pengunjung relatif tinggi, konsumen semakin mempertimbangkan kesesuaian harga dan kualitas sebelum memutuskan berbelanja. Pembelian barang di luar kebutuhan pokok mulai dibatasi, sementara pengeluaran lebih banyak diarahkan pada jajanan ringan, makanan ekonomis, dan produk yang sedang menawarkan diskon.
"Jumlah lalu lintas (footfall) pengunjung tetap tinggi, total nominal uang yang dikeluarkan per kepala mengalami penurunan," jelasnya.
Tenant Fesyen dan Elektronik Lebih Terdampak
Surya mengatakan fenomena downgrade lebih terlihat pada pembelian barang sekunder dan tersier dibandingkan sektor kuliner serta hiburan yang relatif terjangkau. Pakaian bermerek premium dan produk tanpa penawaran diskon cenderung tidak menjadi pilihan utama konsumen.
Untuk memenuhi kebutuhan fesyen, konsumen lebih memilih produk fast fashion, pakaian dasar atau basic dengan harga terjangkau, serta berbelanja melalui platform perdagangan elektronik atau e-commerce.
Konsumen juga cenderung menunda pembelian barang elektronik, gawai, dan furnitur baru. Barang yang masih dimiliki digunakan lebih lama karena penggantiannya dianggap belum mendesak.
Menurut Surya, penjualan department store konvensional cenderung melambat karena konsumen, terutama dari kalangan menengah ke bawah, semakin selektif dalam mengalokasikan pengeluaran.
Sebaliknya, tenant makanan dan minuman dengan harga terjangkau masih ramai dikunjungi. Segmen tersebut mencakup restoran cepat saji, gerai minuman, serta tempat makan yang menawarkan paket hemat.
"Area hiburan dan bermain anak tetap diminati oleh segmen keluarga karena dianggap sebagai kebutuhan rekreasi prioritas," jelasnya.
APPBI Pantau Nilai Belanja dan Rasio Transaksi
Untuk membaca dinamika daya beli pengunjung, APPBI DIY menggunakan sejumlah indikator. Salah satunya adalah rata-rata nilai belanja per pengunjung, yang mengukur uang yang dikeluarkan dalam satu kali transaksi di tenant atau gerai mal.
Indikator kedua adalah perbandingan jumlah pengunjung dengan jumlah transaksi. Data tersebut digunakan untuk melihat seberapa banyak orang yang datang ke pusat perbelanjaan benar-benar melakukan pembelian.
Apabila jumlah pengunjung tinggi, tetapi transaksi relatif sedikit, kondisi itu dapat menunjukkan banyak pengunjung yang hanya melihat-lihat barang tanpa membeli.
"Jika footfall tinggi tetapi conversion rate rendah, ini mengindikasikan dominasi fenomena window shopping," paparnya.
Indikator lainnya adalah kinerja penjualan berdasarkan kategori tenant. APPBI memantau omzet bulanan dari berbagai sektor usaha di pusat perbelanjaan, termasuk makanan dan minuman, fesyen, elektronik, serta hiburan.
"Memantau laporan omzet bulanan dari masing-masing kategori," lanjutnya.
Melalui indikator tersebut, perubahan jumlah kunjungan dapat dibandingkan dengan aktivitas transaksi dan perkembangan penjualan di setiap kategori usaha. Dengan demikian, tingginya kunjungan tidak serta-merta diartikan sebagai peningkatan nilai belanja konsumen.
Downgrading Jadi Respons terhadap Ketidakpastian Ekonomi
Sebelumnya, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, menilai fenomena downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan semata-mata pilihan gaya hidup.
Menurut Wisnu, rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan, dengan mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel atau bersifat tersier ketika pendapatan mengalami tekanan maupun ketidakpastian.
"Downgrading atau dikenal juga sebagai sachetization, downsizing ini saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup," ujarnya dalam keterangan resminya.
Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai consumption smoothing, yakni upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti tetap relatif stabil dengan mengurangi konsumsi yang lebih fleksibel.
Wisnu menjelaskan masyarakat melakukan penyesuaian bukan semata-mata karena ingin berhemat, melainkan karena ruang untuk mengatur pengeluaran semakin terbatas.
Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada praktik downgrading, tetapi pada skala dan kelompok masyarakat yang menjalankannya. Jika hanya dilakukan sebagian kecil masyarakat, penyesuaian itu masih dapat bersifat sementara.
Namun, apabila meluas hingga kelompok kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, fenomena tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah.
"Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BGN menguji coba MBG prasmanan di dua sekolah DIY dengan 106 siswa. Kepuasan siswa dan guru mencapai 5/5, sisa makanan 3,3 kg.
ICRC memperingatkan eskalasi konflik Timur Tengah dapat menjadi bencana bagi puluhan juta orang dan mendesak perlindungan warga sipil.
Hashim Djojohadikusumo menyebut ekonomi abu-abu RI mencapai 30–40% ekonomi nasional dan menyoroti potensi penerimaan negara yang hilang.
BPJS Ketenagakerjaan Jateng-DIY menyalurkan manfaat JKK Rp310,67 miliar untuk 139.082 kasus kecelakaan kerja sepanjang Januari-September 2026.
BNPB menghormati proses hukum KPK terkait OTT di lingkungannya, berkomitmen kooperatif, serta melakukan penelusuran internal dan pengamanan dokumen.
Kunjungan mal di DIY tetap stabil sepanjang 2026, tetapi konsumen makin selektif dan beralih ke produk terjangkau di tengah ketidakpastian ekonomi.