Mensos: 45 Persen Data Penerima PKH dan Sembako Tak Tepat Sasaran
Mensos Gus Ipul mengajak RT/RW dan pemda memperbaiki data bansos. Evaluasi Kemensos menyebut sekitar 45 persen data penerima PKH dan sembako tidak tepat sasaran
Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia/Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia melarang ekspor sumber daya alam (SDA) Indonesia transit di negara lain. Dia meminta pengiriman komoditas, termasuk mineral dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), dilakukan langsung dari Indonesia ke negara tujuan.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat membuka Minerba Convex 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026). Dalam kesempatan itu, dia juga meminta Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno melaksanakan arahan tersebut.
Bahlil menjelaskan, kebijakan itu diperlukan untuk mencegah negara lain mengklaim ekspor sumber daya alam Indonesia sebagai komoditas yang berasal dari negara mereka. Menurut dia, praktik transit dapat membuat negara perantara seolah-olah menjadi negara asal barang setelah memberikan stempel baru.
"Enggak boleh lagi sumber daya alam kita dari sektor ESDM. Kalau kita mau kirim barang ke Cina, ya dari Jakarta langsung ke Cina. Tidak boleh dari negara yang itu ya, hanya stempel baru dia bilang ini ekspor by negara dia. Dari mana barang kau?" tutur Bahlil.
Meski menyampaikan larangan tersebut, Bahlil tidak menyebut secara terbuka negara yang dimaksud. Dia hanya menyampaikan bahwa masyarakat sudah mengetahui negara yang menjadi perhatiannya.
"Kalau ditanya negara mana, yang kamu tahu dalam hati. Kalian sudah itu," kata Bahlil.
Bahlil Minta Ekspor LNG Langsung ke Negara Tujuan
Selain ekspor mineral dan batu bara, Bahlil juga menyoroti pengiriman gas alam cair. Dia mengaku telah memerintahkan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto agar ekspor LNG dilakukan langsung menuju negara pembeli, tanpa melalui negara perantara.
Bahlil mencontohkan pengiriman LNG ke Jepang dan Korea. Menurut dia, Indonesia tidak perlu menggunakan negara lain sebagai jalur transit karena praktik tersebut berpotensi memberikan keuntungan ekonomi kepada negara perantara, termasuk dari sisi pajak dan neraca perdagangan.
"Kalau kita mau kirim LNG, contoh ke Jepang atau ke Korea, langsung saja. Kenapa harus pakai negara lain? Mereka dapat pajak, mereka yang mempunyai neraca perdagangan," katanya.
Dia menegaskan Indonesia merupakan negara berdaulat sehingga tidak ingin pengelolaan maupun perdagangan sumber daya alamnya diatur oleh negara lain.
"Kita kirim langsung, tidak boleh lewat negara-negara perantara. Indonesia ini negara berdaulat. Bukan negara yang bisa diatur-atur oleh siapapun, enggak boleh," tutur Bahlil.
Bahlil Soroti Perdagangan LNG Indonesia ke Singapura
Pernyataan Bahlil tersebut berkaitan dengan sorotannya terhadap ekspor LNG Indonesia ke Singapura. Sebelumnya, dia menduga tidak seluruh gas yang dikirim ke negara tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Sebagian LNG, menurut dugaannya, diperdagangkan kembali ke negara lain.
Bahlil mengungkapkan Indonesia mengirimkan 148 kargo LNG ke Singapura atau setara dengan 1.480 MMSCFD. Dia menduga sebagian dari volume tersebut digunakan untuk kegiatan perdagangan atau trading, bukan hanya untuk konsumsi dalam negeri Singapura.
"148 kargo [LNG] itu setara dengan 1.480 MM. Itu yang kita kirim. Tapi keyakinan saya bahwa pengiriman 148 kargo itu tidak semuanya itu dipakai untuk kepentingan Singapura, tapi sebagian dijadikan sebagai trading, untuk kemudian diekspor lagi ke negara lain. Tapi ada sebagian pasti untuk konsumsi mereka," ujar Bahlil seusai menghadap Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
METI Singapura Beri Penjelasan soal Perdagangan LNG
Menanggapi pernyataan tersebut, Kementerian Energi, Perdagangan, dan Industri (METI) Singapura menjelaskan bahwa LNG yang diperdagangkan perusahaan berbasis di Singapura umumnya dikirim langsung dari negara asal menuju negara tujuan. Dengan demikian, kargo LNG tersebut biasanya tidak melewati wilayah Singapura secara fisik.
Juru bicara METI menjelaskan Singapura merupakan pusat perdagangan internasional, termasuk untuk komoditas LNG. Lebih dari 50 perusahaan yang berbasis di Singapura membeli, memasarkan, dan memperdagangkan LNG dari berbagai pasar global, termasuk Indonesia.
METI juga menyebut sejumlah negara yang menjadi sumber utama LNG bagi perusahaan-perusahaan tersebut, antara lain Amerika Serikat (AS), Australia, dan Malaysia.
"Meskipun pedagang yang berbasis di Singapura mengambil keputusan komersial terkait kargo tersebut, kargo LNG yang sebenarnya biasanya bergerak langsung dari negara asal ke negara tujuan dan tidak melewati Singapura secara fisik," ujar pihak METI dilansir dari Channel News Asia, Minggu (1/11/2026).
Selain menjelaskan mekanisme perdagangan LNG, METI menegaskan bahwa gas alam yang diimpor dari Indonesia melalui jaringan pipa digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik Singapura. Gas tersebut, menurut METI, bukan untuk diekspor kembali ke negara lain.
"Gas alam yang diimpor dari Indonesia melalui pipa ditujukan untuk penggunaan domestik, bukan untuk diekspor kembali," kata pihak METI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Mensos Gus Ipul mengajak RT/RW dan pemda memperbaiki data bansos. Evaluasi Kemensos menyebut sekitar 45 persen data penerima PKH dan sembako tidak tepat sasaran
DPUPKP Sleman membagi tim pemeliharaan drainase di wilayah barat dan timur untuk menjaga saluran tetap berfungsi selama musim hujan.
Telkom membukukan pendapatan Rp113,5 triliun hingga September 2026, tumbuh 3,5% secara tahunan, didukung pertumbuhan bisnis data dan infrastruktur digital.
Realisasi pembangunan fisik Bantul baru 69,40% hingga Triwulan III 2026. DPRD meminta Pemkab mempercepat proyek infrastruktur, terutama perbaikan jalan.
BMKG tidak mendeteksi hujan saat bongkahan es merusak rumah di Pandak, Bantul. Asal-usul fenomena tersebut masih perlu dianalisis lebih lanjut.
Nelayan Gunungkidul mulai menangkap gurita. Sekali melaut, hasil tangkapan bisa mencapai 15 kilogram dengan harga hingga Rp100.000 per kilogram.