Bos Djarum Pimpin Daftar Orang Terkaya RI, Siapa Berikutnya?

Jumali
Jumali Jum'at, 06 November 2026 12:57 WIB
Bos Djarum Pimpin Daftar Orang Terkaya RI, Siapa Berikutnya?

Robert Budi Hartono / Forbes

Harianjogja.com, JOGJA—Robert Budi Hartono kembali menempati posisi teratas dalam daftar orang terkaya di Indonesia pada awal November 2026. Pemilik Grup Djarum tersebut mengungguli sejumlah konglomerat dari sektor energi, pertambangan, petrokimia, hingga industri makanan dan minuman.

Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires yang dilaporkan sejumlah media pada awal November 2026, kekayaan Robert diperkirakan mencapai US$12,2 miliar. Nilai tersebut setara sekitar Rp221,58 triliun dengan asumsi kurs Rp18.162 per dolar AS.

Perubahan peringkat menunjukkan bahwa posisi para miliarder Indonesia dapat bergerak mengikuti perkembangan nilai aset dan harga saham perusahaan. Karena itu, angka kekayaan dalam daftar Forbes merupakan estimasi yang dapat berubah, bukan jumlah uang tunai yang dimiliki masing-masing pengusaha.

Laporan CNBC Indonesia yang mengacu pada data Forbes per 2 November 2026 menyebut total kekayaan 10 orang terkaya Indonesia mencapai US$77,1 miliar. Berikut daftar 10 nama yang masuk jajaran teratas berdasarkan pembaruan Forbes pada awal November 2026, sebagaimana dilaporkan Fortune Indonesia.

10 Orang Terkaya di Indonesia November 2026

1. Robert Budi Hartono

Robert Budi Hartono berada di peringkat pertama dengan estimasi kekayaan US$12,2 miliar atau sekitar Rp221,58 triliun. Kekayaannya terutama ditopang kepemilikan di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan Grup Djarum.

Keluarga Hartono dikenal memiliki bisnis perbankan dan industri rokok. Dua sektor tersebut menjadi sumber utama kekayaan yang membuat Robert bertahan di jajaran teratas orang terkaya Indonesia.

2. Prajogo Pangestu

Prajogo Pangestu menempati posisi kedua dengan kekayaan sekitar US$10,6 miliar atau setara Rp192,52 triliun. Pengusaha ini membangun bisnis melalui Barito Group dengan portofolio yang mencakup energi, petrokimia, dan pertambangan.

Perkembangan nilai aset perusahaan-perusahaan dalam kelompok usahanya turut memengaruhi estimasi kekayaan Prajogo. Ia juga mengembangkan bisnis di sektor energi terbarukan.

3. Low Tuck Kwong

Pengusaha batu bara Low Tuck Kwong berada di posisi ketiga. Kekayaannya diperkirakan mencapai US$9,9 miliar atau sekitar Rp179,80 triliun.

Sumber utama kekayaannya berasal dari bisnis pertambangan batu bara melalui Bayan Resources. Perubahan nilai kepemilikan saham dan perkembangan bisnis energi menjadi faktor yang memengaruhi estimasi kekayaannya.

4. Anthoni Salim

Anthoni Salim menempati peringkat keempat dengan kekayaan sekitar US$9,1 miliar atau setara Rp165,27 triliun. Ia dikenal sebagai pemimpin Grup Salim yang memiliki portofolio usaha di berbagai sektor.

Bisnis kelompok ini antara lain mencakup makanan dan minuman, agribisnis, serta ritel. Sejumlah perusahaan yang berkaitan dengan kelompok usaha tersebut adalah Indofood dan Indomobil, sementara Anthoni juga memiliki kepentingan bisnis melalui First Pacific.

5. Tahir dan Keluarga

Tahir dan keluarga berada di urutan kelima dengan estimasi kekayaan US$9 miliar atau sekitar Rp163,46 triliun. Kekayaan keluarga ini berkaitan dengan bisnis Mayapada Group.

Kelompok usaha tersebut memiliki portofolio yang beragam, termasuk perbankan, jasa keuangan, layanan kesehatan, asuransi, properti, dan perhotelan. Diversifikasi bisnis menjadi salah satu penopang kekayaan keluarga Tahir.

6. Sri Prakash Lohia

Sri Prakash Lohia menempati posisi keenam dengan kekayaan sekitar US$8,4 miliar atau setara Rp152,56 triliun. Ia merupakan pendiri Indorama Corporation yang mengembangkan usaha di sektor petrokimia dan industri manufaktur.

Portofolio bisnis Indorama juga mencakup bahan baku tekstil, pupuk, dan produk industri. Perusahaan tersebut memiliki kegiatan usaha di berbagai negara.

7. Otto Toto Sugiri

Pendiri DCI Indonesia, Otto Toto Sugiri, berada di peringkat ketujuh dengan kekayaan sekitar US$5,7 miliar atau Rp103,52 triliun. Sumber kekayaannya berkaitan dengan bisnis infrastruktur digital, khususnya pusat data (data center).

Kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data terus meningkat seiring perkembangan layanan digital, komputasi awan, dan kecerdasan buatan. Kondisi tersebut membuat sektor pusat data menjadi salah satu bidang usaha yang mendapat perhatian investor.

8. Theodore Rachmat

Theodore Rachmat menempati posisi kedelapan dengan estimasi kekayaan US$4,4 miliar atau sekitar Rp79,91 triliun. Ia merupakan pengusaha yang membangun Triputra Group dengan lini bisnis di sektor agribisnis, energi, dan manufaktur.

Kekayaannya juga ditopang kepemilikan saham di sejumlah perusahaan, termasuk Alamtri Resource Indonesia. Portofolio tersebut membuat bisnis Theodore tersebar di beberapa sektor ekonomi.

9. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono

Lim Hariyanto Wijaya Sarwono berada di posisi kesembilan dengan kekayaan sekitar US$4,1 miliar atau setara Rp74,46 triliun. Ia dikenal melalui bisnis agribisnis dan pertambangan yang dikembangkan lewat Harita Group.

Kelompok usaha tersebut memiliki keterkaitan dengan sejumlah perusahaan, termasuk Bumitama Agri dan Cita Mineral Investindo. Bisnis perkebunan kelapa sawit dan pertambangan menjadi bagian penting dari portofolio kekayaannya.

10. Sukanto Tanoto

Pendiri Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto, melengkapi daftar 10 besar dengan estimasi kekayaan US$4 miliar atau sekitar Rp72,65 triliun.

RGE memiliki kegiatan usaha di sektor pulp dan kertas, kelapa sawit, serat rayon, agribisnis, serta energi. Kelompok usaha tersebut mengembangkan bisnis melalui sejumlah perusahaan, termasuk Asian Agri, Apical, Bracell, dan APRIL.

Kekayaan Taipan Berubah Mengikuti Pasar

Daftar orang terkaya Indonesia memperlihatkan beragam sektor yang menjadi sumber kekayaan para konglomerat. Perbankan, pertambangan, energi, petrokimia, industri makanan, hingga infrastruktur digital menjadi bidang usaha yang menopang nilai aset mereka.

Meski demikian, posisi dan jumlah kekayaan para miliarder tidak bersifat tetap. Forbes Real-Time Billionaires memperbarui estimasi kekayaan berdasarkan perubahan nilai aset, kepemilikan saham, dan perkembangan pasar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online