Bersaing dengan Perdagangan Kopi, Bisnis Mamin Berbasis Cokelat Makin Prospektif

M. Richard
M. Richard Jum'at, 03 Agustus 2018 07:30 WIB
Bersaing dengan Perdagangan Kopi, Bisnis Mamin Berbasis Cokelat Makin Prospektif

Pengunjung sedang menyaksikan koleksi Museum Coklat Monggo./Harian Jogja-Ujang Hasanudin

Harianjogja.com, JAKARTA—Direktur Penggunaan dan Pemasaran Produk Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Luther Palimbon mengatakan perkembangan bisnis cokelat tidak hanya terlihat dari ekspansi pelaku usaha besar hingga pelaku saha kecil dan menengah (UKM).

"Walau belum sebesar kopi, tetapi usaha [produk mamin berbasis] cokelat semakin ekspansif, bahkan hingga ke UKM, sudah banyak yang bisa produksi bubuk cokelat," katanya kepada Bisnis.com, Kamis (2/8/2018).

Bahkan, berdasarkan survei yang dilakukan otoritas perdagangan, pelaku UKM dapat melakukan penetrasi pasar dengan sangat baik. Dia menilai pelaku UKM sudah cukup kompetitif, karena telah dapat membuat produk cokelat dengan kualitas dan kemasan yang menarik.

"Kita tidak punya data, tetapi kita tanya, produksi cokelat mereka selalu habis terjual ke pasar, ini artinya sangat baik sekali," tuturnya.

Luther menambahkan Kementerian Perdagangan masih belum memiliki data yang cukup komprehensif untuk dapat menggambarkan potensi pasar dari produk mamin berbasis cokelat.

"Kami masih dalam proses penyususna untuk melihat potensinya, jadi sambil mempromosikan pelaku UKM cokelatnya, kami juga mengumpulkan data-datanya," katanya.

Senada dengan Luther, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya mengatakan pelaku industri kakao juga cukup optimistis dapat mengembangkan usahanya.

Dia memaparkan penyerapan cokelat bubuk dari industri mamin berbasis cokelat selalu naik setiap tahunnya, yakni dari sekitar 70.000 ton pada 2016 menjadi 80.000 ton pada 2017.

"Bahkan untuk tahun ini, kami lebih optimistis lagi, konsumsi bubuk cokelat tahun ini menjadi 90.000," kata Sindra kepada Bisnis.com, Kamis (2/7/2018).

Sindra menjelaskan tren peningkatan tersebut dipacu oleh semakin banyaknya penelitian yang menjelaskan konsumsi cokelat baik untuk kesehatan, variasi penggunaan cokelat untuk produk mamin, dan semakin banyaknya industri cokelat beskala kecil menengah dan usaha waralaba yang bermunculan.

Belum lagi, dari sisi konsumen. Dia menjelaskan semakin banyaknya tren-tren konsumsi cokelat dan maraknya konsumsi cokelat pada acara-acara penting membuat prospek industri cokelat makin cemerlang.

Hanya saja, Sindra mengeluhkan konsumsi yang meningkat tersebut belum dapat diikuti oleh rantai pasok yang baik, membuat pelaku industri bergantung pada bahan baku impor.

Selain itu, kebijakan fiskal pemerintah terkait bahan baku cokelat dinilai terlalu memberatkan ongkos produksi. "Di negara lain untuk impor bahan baku dibebaskan dari bea dan pajak, tetapi di Indonesia harus membayar bea masuk 5 persen, kalau bisa jadi 0 persen," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis Indonesia

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online