Akibat Gempa dan Tsunami, Industri Asuransi Umum Rugi Rp680 Miliar

Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi Senin, 08 Oktober 2018 14:37 WIB
Akibat Gempa dan Tsunami, Industri Asuransi Umum Rugi Rp680 Miliar

Kapal Sabuk Nusantra 39 yang terdampar ke daratan akibat gempa dan tsunami di desa Wani, Pantai Barat Donggala, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018)./ANTARA-Muhammad Adimaja

Harianjogja.com, JAKARTA-Akibat gempa dan tsunami di Palu, nilai kerugian industri asuransi umum diperkirakan Rp680 miliar atau empat kali dari perkiraan atas sesi klaim Maipark sebesar Rp170 miliar.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menuturkan, saat ini AAUI belum mendapatkan data kerugian akibat gempa dan tsunami di Palu. AAUI masih menunggu kuesioner yang baru diedarkan ke semua anggota AAUI pada pekan lalu.

Dia mengatakan, data Maipark pasti lebih akurat kalau berdasarkan laporan sesi klaim. Maipark menggunakan modelling berdasarkan statistik dan proteksi untuk menghitung prediksi klaim, sehingga diketahui Rp170 miliar atas sesi klaim Maipark.

"Karena sesi perusahaan asuransi ke Maipark adalah 25% dari nilai total pertanggungan, maka kerugian 100% dari modelling Maipark diperkirakan sekitar 4 kalinya," katanya kepada Bisnis.com, jaringan Harianjogja.com, Minggu (7/10/2018).

Sebagai informasi, penanggung yang menawarkan proteksi gempa bumi menyisihkan 25% sesi wajib gempa bumi kepada PT Reasuransi Maipark Indonesia. Hal ini sejalan kebijakan OJK untuk mengoptimalkan kapasitas reasuransi dalam negeri sebagaimana tertuang dalam POJK No.14/2015 tentang Retensi Sendiri dan Dukungan Reasuransi Dalam Negeri.

Sebelumnya, PT Reasuransi Maipark Indonesia memperkirakan klaim sementara akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala mencapai Rp170 miliar. Perkiraan ini dengan memperhitungkan tiga hal.

Pertama, nilai harta benda yang diasuransikan di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi senilai Rp2,29 triliun. Kedua, jumlah bangunan yang berisiko dijamin sebanyak 753 unit seperti mal, ruko, hingga rumah penduduk. Ketiga, karena intensitas dan bencana gempa, di mana terjadi gempa, tsunami, dan liquifaksi secara beruntun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis Indonesia

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online