IMF Soroti Pekerja Perempuan dari Risiko Disrupsi Teknologi

Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka Rabu, 10 Oktober 2018 10:10 WIB
IMF Soroti Pekerja Perempuan dari Risiko Disrupsi Teknologi

IMF./Binis Indonesia

Harianjogja.com, NUSADUA – International Monetary Fund (IMF) menyoroti pentingnya menjaga tenaga kerja perempuan dari risiko disrupsi teknologi.

Managing Director IMF, Christine Lagarde, menyoroti saat ini sedang menghadapi era teknologi tinggi (high-tech) yang tentu akan berpengaruh cukup besar terhadap keberadaan perempuan dalam angkatan kerja.

Efek ini lanjut dia, bukan karena perempuan bersifat minoritas, akan tetapi karena mereka bekerja dalam bidang pekerjaan yang dapat diotomatisasi. Sehingga teknologi mampu menimbulkan risiko besar terhadap jumlah pekerjaan yang diisi oleh perempuan.

Hal ini disampaikan dalam diskusi panel Empowering Women in the Workplace yang diselenggarakan IMF dalam rangkaian acara Annual Meetings IMF--World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018).

Diskusi panel ini diselenggarakan untuk menyoroti ketidakadilan gender yang telah mengakibatkan terhambatnya potensi pembangunan negara, ekonomi dan bahkan perusahaan dalam menghadapi tantangan dewasa ini.

Sementara, Executive Secretary UN Economic Commission for Africa, Vera Songwe mengatakan sangat penting untuk melindungi wanita dan apa yang mereka lakukan dengan ide mereka dan dengan siapa mereka ingin melakukan. Sehingga wanita dapat berkembang dan lebih meningkatkan peran ide intelektualnya.

Vera menceritakan bahwa mereka meningkatkan akses wanita di Tanzania terhadap listrik dan membuat tingkat tenaga kerja wanita menjadi naik. Menurutnya wanita membutuhkan akses terhadap pembiayaan, teknologi dan jasa.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawari menyatakan tanpa adanya bantuan dari kebijakan yang dapat meringankan beban para wanita, maka menggaungkan kesetaraan gender dalam angkatan kerja akan menjadi sangat sulit.

Sri Mulyani memaparkan kontribusi perempuan memberi manfaat baik untuk keluarga, untuk ekonomi dan untuk masyarakat. Di Indonesia, tidak ada larangan bagi perempuan untuk bekerja, tetapi masih ada pandangan patrialisme di masyarakat. Wanita masih dinilai sebagai sumber kedua pencari sumber penghasilan bagi keluarga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : bisnis.com

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online