Ukraina Buka Donasi NFT untuk Biayai Perang Lawan Rusia
Pemerintah Ukraina mengumumkan membatalkan proyek crypo namun menyiapkan NFT untuk menggalang donasi dari seluruh dunia.
Ilustrasi makanan dan minuman di swalayan./Bisnis Indonesia-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, JAKARTA—Lonjakan permintaan minuman ringan diperkirakan mulai akhir Mei seiring mulai dibayarnya gaji dan tunjangan hari raya (THR).
Ketua Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Pridjosoesilo menuturkan pihaknya mengharapkan penjualan sepanjang Ramadan menyumbang 30% sampai 40% target tahun ini.
"Ekspektasi kami, kenaikan penjualan akan terjadi mulai di akhir Mei atau saat gaji dan THR sudah mulai dibayarkan. Diharapkan penjualan juga akan meningkat," kata Triyono, Senin (14/5/2018).
Mengantisipasi lonjakan, kata dia, para produsen minuman siap saji mulai meningkatkan kapasitas produksi. "Harapan kami tahun ini bisa lebih baik dari tahun lalu, apalagi tahun ini Lebaran waktunya tidak bertabrakan dengan waktu pendafaran sekolah seperti tahun lalu. Sehingga uang yang beredar di masyarakat untuk digunakan dalam pembelian produk-produkn konsumsi akan bisa lebih banyak," katanya.
Dalam catatan asosiasi, volume produksi industri minuman ringan pabrikan lokal pada 2017 lalu sebesar 34,41 miliar liter. Jumlah tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan capaian 2016 sebesar 43,76 miliar liter. Total produksi tersebut adalah golongan minuman ringan yang termasuk dalam kategori nonalcoholic ready to drink (NARTD), seperti produk susu, jus, kopi, teh dan variannya.
Nilai Tukar
Melemahnya nilai tukar diharapkan segera dapat diatasi oleh pemerintah. Triyono menilai dalam jangka panjang pelemahan rupiah akan menekan industri minuman cepat saji. "Terutama terkait dengan packaging yang bahan bakunya ada yang masih impor seperti kemasan aluminium maupun PET resin," katanya.
Bagi industri yang dibutuhkan saat ini adalah nilai tukar yang stabil. Kenaikan suku bunga acuan yang akan mengerek bunga kredit sebagai stabilitator yang akan dipilih otoritas keuangan diharapkan dapat diikuti dengan menjaga inflasi tetap terkendali. "Sehingga diharapkan dapat mendukung dan menjaga daya beli masyarakat," katanya.
Stabilitas nilai tukar juga didesak oleh produsen hulu tekstil. Redma Gita Wiraswasta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menuturkan saat ini sebagian bahan baku industri tekstil dan produk tekstil masih impor. Bahan impor ini meliputi zat warna hingga mesin.
“Meski pelemahan rupiah menguntungkan untuk ekspor kalau bahan bakunya impor jadinya sama saja, tidak ada pengaruh. Malah kami repot mengurus fluktuasi agar tidak rugi. Industi butuh stabilitas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
Pemerintah Ukraina mengumumkan membatalkan proyek crypo namun menyiapkan NFT untuk menggalang donasi dari seluruh dunia.
Pertamina resmi mengubah harga BBM non-subsidi mulai 1 Juni 2026. Pertamax Turbo naik menjadi Rp20.750 per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex turun lebi
Liverpool resmi memecat Arne Slot usai finis kelima di Liga Inggris 2025/2026. Situasi ini membuka peluang Juventus untuk kembali memburu kiper utama Alisson Be
Nvidia dikabarkan segera meluncurkan PC Windows pertama dengan prosesor buatan sendiri. Langkah ini menjadi tantangan serius bagi Intel dan AMD sekaligus membuk
FIFA menghadapi ancaman gugatan hukum jelang Piala Dunia 2026 terkait rencana pelarangan bendera Iran era pra-revolusi. Polemik ini menambah persoalan Timnas Ir
Sate gosong ternyata dapat meningkatkan risiko kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Simak 11 bahaya sate gosong, mulai dari risiko kanker hingga gangguan pence