Advertisement
Soto & Kopi Bakal Diperkenalkan di Asian Games
Ilustrasi Asian Games 2018. - JIBI/Nicolous Irawan
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Penyelenggaraan acara olahraga berskala internasional Asian Games pada Agustus mendatang diyakini bakal mendongkrak sektor ekonomi kreatif Tanah Air, termasuk kuliner.
Direktur Pemasaran Dalam Negeri Deputi Pemasaran Bekraf Sappe Mangiring mengatakan terus berkoordinasi dengan Indonesia Asian Games 2018 Organizing Commitee (Inasgoc) untuk dapat mempromosikan subsektor kuliner dan fesyen ke delegasi asing.
Advertisement
“Untuk kuliner, rencana kami ingin memperkenalkan soto dan kopi, venue rencananya di Jakarta tapi masih dalam perbincangan,” ujarnya pekan lalu.
Selain itu, Bekraf juga menggelar pameran bertajuk Kreatifood untuk membuka akses pasar pelaku usaha kuliner. Sappe mengatakan pesertanya merupakan alumni dari program FSI yang berjumlah ratusan pelaku usaha kuliner.
BACA JUGA
Melalui sinergi program, katanya, nantinya usaha kuliner yang telah terlibat dalam program Food Start-up Indonesia (FSI) akan dilibatkan dalam pemasaran baik dalam negeri maupun luar negeri.
“Tugas kami di ranah hilir mencari akses pasar untuk produk yang dihasilkan agar sampai ke konsumen,” ujarnya.
Prioritas Permodalan
Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo mengatakan kuliner menjadi salah satu prioritas untuk program permodalan di Bekraf. Beberapa inisiatif permodalan yang dilakukan seperti Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) dengan total dana Rp6 miliar.
Selain itu, melalui FSI, Bekraf juga memfasilitasi pengusaha rintisan (start-up) di bidang kuliner untuk bertemu dengan investor. “Bekraf mencatat outcome dari FSI telah mengalirkan investasi sekitar Rp25 miliar dari berbagai investor ke tujuh start-up dari venture capital, angel investor, dan korporasi,” katanya.
Untuk target investasi dari penyelenggaraan FSI 2018, Fadjar mengatakan sangat situasional karena Bekraf hanya memfasilitasi. Adapun kesepakatan antara start-up dan investor tergantung kecocokan dari kedua belah pihak hingga akhirnya terjadi kesepakatan atau injeksi modal.
Namun, Bekraf terus berupaya melakukan kurasi pada start-up kuliner yang berpotensi menarik minat investor. Melalui program permodalan, dia menambahkan pelaku usaha kuliner dapat mengembangkan bisnisnya sehingga nantinya dapat meningkatkan kontribusi subsektor kuliner ke PDB ekonomi kreatif.
Seperti diketahui, subsektor kuliner tercatat berkontribusi paling tinggi dalam produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif. Data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat kontribusi subsektor kuliner pada PDB ekonomi kreatif pada 2016 mencapai 41,40% dengan pendapatan Rp382 triliun.
“Jika semakin banyak investasi ke ekosistem FSI maka akan semakin berkembang [usaha kuliner],” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








