Kepala BPS DIY Johanes De Britto Priyono ketika memberikan penjelasan mengenai inflasi di Jogja./Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
Harianjogja.com, BANTUL—Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat inflasi Jogja pada 2019 sebesar 0,42%. Andil terbesar yang mendorong inflasi adalah komoditas angkutan udara yang mengalami kenaikan sebesar 8,37%. Andil angkutan udara terhadap inflasi sebesar 0,13%. Hal ini dipicu tingginya harga tiket pesawat selama Januari.
Kepala BPS DIY Johanes De Britto Priyono mengatakan transportasi memiliki andil karena kenaikan tiket pesawat udara. Ia menjelaskan tamu wisatawan mancanegara maupun pengunjung yang ke Jogja datang pada Desember 2018, ketika pulang pada Januari, maka mereka kena harga tiket Januari yang mahal.
"Rata-rata tiket pesawat Januari lebih tinggi dibandingkan Desember. Misalnya tiket pesawat Jogja-Jakarta salah satu maskapai biasanya Rp600.000-an menjadi Rp800.000-an," kata dia ketika ditemui di Kantor BPS DIY, Bantul, Jumat (1/2).
Penyumbang inflasi kedua yakni beras yang dengan andil 0,07%; bawang merah dengan andil 0,04%; daging ayam ras dengan andil 0,03%; tukang bukan mandor, pemeliharaan/servis kendaraan, pasir, satai, semangga dengan andil 0,02%; dan bubur, cabai rawit dengan andil 0,01%.
Ia mengatakan selain komoditas penyumbang inflasi, ada pula komoditas penghambat inflasi seperti bahan bakar bensin dengan andil -0,05%; kacang panjang dengan andil -0,02%; buncis, salak, telur ayam ras, jeruk, cabai merah, lele, kol putih/kubis dengan andil -0,01%. Namun, penurunan itu tidak mampu mengimbangi kenaikan harga.
"Penurunan bensin itu kan pada 5 Januari. Tanggal satu sampai empat masih dengan harga lama. Sedikit harga lama dengan sebagian besar harga baru. Namun, tidak mampu menutupi tiket pesawat sehingga masih inflasi dan tidak deflasi," ujar dia.
Kondisi inflasi Januari 2019 memang masih lebih besar dibandingkan nasional. Namun, secara year on year inflasi Januari Jogja sebesar 2,53%. Sementara inflasi nasional untuk Januari terpantau 0,32%.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka inflasi tersebut menjadi awal yang baik di awal tahun. Dilihat dari month to month kondisi inflasi Januari 2019 lebih baik jika dibandingkan inflasi Januari 2017 yang sebesar 0,97% dan inflasi Januari 2018 sebesar 0,62%.
Secara year on year, kondisi 2019 juga lebih baik yakni sebesar 2,82%. Sementara inflasi year on year pada 2017 sebesar 3,49% dan pada 2018 sebesar 3,25%. "Ini modal yang baik di awal tahun dan diharapkan ke depan semakin bagus," ujar dia.
Transportasi & Pangan
Kepala Kantor Pewakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY Budi Hanoto menjelaskan inflasi DIY Januari 2019 month to month 0,42%, year to date 0,42%, dan year on year 2,53%. Inflasi pangan DIY month to month 0,62%, year to date 0,62%, dan year on year 1,98%.
Ia menyebutkan faktor penyebab inflasi DIY karena ada tekanan inflasi dari kelompok tarif transportasi angkutan udara sejalan dengan arus balik liburan di bulan Januari. "Kemudian, ada tekanan harga pada komoditas beras, seiring dengan masih berlangsungnya musim tanam. Dan ada peningkatan harga komoditas yang terkait dengan proyek konstruksi proyek strategis nasional di antaranya tukang bukan mandor dan besi beton," ujar dia.
Budi mengatakan secara umum, walaupun di atas nasional, pencapaian inflasi Januari 2019 lebih rendah dibandingkan Desember 2018 yang mencapai 0,57%. "Pencapaian ini masih on track, mengingat Januari masih terdapat imbas dari dampak arus balik liburan. Di sisi inflasi pangan, khususnya beras karena masih berlangsung musim tanam," ungkap dia.
Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia DIY Udhi Sudiyanto mengatakan kenaikan tiket pesawat tidak senapas dengan target pemerintah untuk menggaet wisatawan. "Wisatawan akan berpikir ulang untuk bepergian termasuk ke DIY karena biaya perjalanan akan menjadi lebih mahal, khususnya bagi wisatawan dari luar Jawa. Sudah tiket mahal, masih harus bayar extra luggage, semakin tidak terjangkau bagi masyarakat," ujar dia.
Udi menyebutkan hal ini juga akan berdampak pada sektor ekonomi lainnya. Menurutnya para wisatawan akan berpikir ulang apabila akan belanja barang-barang kerajinan dan suvenir dari DIY karena barang-barang itu akan menambah bagasi lebih berat dan akan lebih mahal tarifnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.