Advertisement

Ekspor Mebel DIY Kalah dari Vietnam

Kusnul Isti Qomah
Sabtu, 02 Februari 2019 - 11:30 WIB
Mediani Dyah Natalia
Ekspor Mebel DIY Kalah dari Vietnam Ilustrasi mebel - Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipandang memiliki potensi yang besar untuk kerajinan mebel atau berbahan kayu. Bahan baku di DIY cukup melimpah. Sayangnya, kondisi ekspor mebel DIY masih kalah dari Vietnam dan Malaysia.

Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana mengatakan Tiongkok merupakan eksportir terbesar di dunia dengan nilai US$52 miliar [Rp725,1 triliun]. "Sementara, Vietnam berada di urutan kelima. Negara tetangga, Malaysia berada di urutan ke-12. Lalu, Indonesia berada di urutan ke-18 dengan US$1,7 miliar [Rp23,7 triliun]," kata dia, Jumat (1/2).

Advertisement

Ia mengatakan Indonesia sebetulnya memiliki potensi untuk mengalahkan Vietnam. Namun, potensi yang ada masih belum dimanfaatkan dengan baik dan belum disinergikan. "Hal yang dibutuhkan adalah mengatur, mengolah, dan menyinergikan potensi tersebut. Bahan baku bukan menjadi kendala bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara lain," tutur dia.

Berbagai pihak harus bersatu menyelaraskan potensi itu dan promosi harus gencar dilakukan salah satunya dengan pameran. Adapun agenda pameran terdekat yakni Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2019 pada 13-16 Maret 2019. Ketua Committee Jiffina 2019 Endro Wardoyo mengatakan dengan kehadiran Jiffina ini diharapkan mampu mendorong ekspor Indonesia khususnya ekspor furnitur. "Pameran ini sangat potensial mendatangkan buyer dari berbagai negara selain dalam negeri," ujar dia.

Ia berharap kondisi perekonomian akan membaik 2019 sehingga target transaksi bisa tercapai. Pada 2018 nilai transaksi selama Jiffina memang di bawah target yakni US$64 juta [Rp892,4 miliar]. "Kami menargetkan selama pameran berlangsung akan terjadi transaksi on the spot sebesar US$80 juta [Rp1,1 triliun]. Selain itu ada pula target transaksi follow up. Transaksi follow up sebesar US$160 juta [Rp2,2 triliun]," ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Kambing dan Domba Jadi Andalan, UGM Genjot Ilmu Ratusan Peternak DIY

Kambing dan Domba Jadi Andalan, UGM Genjot Ilmu Ratusan Peternak DIY

Sleman
| Sabtu, 04 April 2026, 15:37 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement