Boeing 737 MAX 8 Dilarang Terbang, Lion Air Gunakan Pesawat Lain

Boeing 737 MAX 8 Dilarang Terbang, Lion Air Gunakan Pesawat LainPesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 beregister PK-LQP di apron bandara. - Jetphotos
22 Maret 2019 07:27 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Lion Air (kode penerbangan JT) member of Lion Air Group memastikan layanan penerbangan tetap normal setelah adanya penghentian sementara pengoperasian 10 unit pesawat Boeing 737 MAX 8 sejak 12 Maret 2019 sampai dengan waktu yang ditentukan kemudian. 

Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro mengungkapkan dengan adanya temporary grounded penerbangan Lion Air tetap beroperasi normal. Lion Air meminimalkan dampak yang timbul agar operasional dapat berjalan dengan baik dan tidak terganggu. Lion Air tetap melayani rute-rute yang selama ini dioperasikan Boeing 737 MAX 8 dengan menggunakan armada Lion Air lainnya. Lion Air mengoperasikan berbagai tipe pesawat, terdiri dari 70 Boeing 737-900ER (215 kelas ekonomi), 38 Boeing 737-800NG (189 kelas ekonomi) dan tiga Airbus A330-300 (440 kelas ekonomi).

"Lion Air senantiasa memberikan layanan terbaik kepada pelanggan dengan mengutamakan faktor keselamatan dan keamanan penerbangan [safety first]," kata dia dalam rilisnya, Kamis (21/3).

Ia mengatakan Lion Air melakukan berbagai strategi tepat bertujuan agar operasional penerbangan konsisten pada level terbaik, sehingga memberikan dampak positif terhadap tingkat ketepatan waktu penerbangan (on time performance/ OTP). Tingkat ketepatan waktu penerbangan Lion Air selama dua pekan di Maret 2019 mencatatkan rata-rata OTP 88,24%.

"Dalam upaya mempertahankan tingkat ketepatan waktu serta menjawab pergerakan penumpang dan pesawat, Lion Air melaksanakan koordinasi intensif bersama pihak terkait guna memastikan kelancaran operasional penerbangan setiap hari," kata dia.

Lion Air mengoptimalkan pesawat dengan menjalankan rotasi (pergerakan pesawat) disesuaikan jarak pada rute, infrastruktur bandar udara, tingkat keterisian penumpang (demand) dan lainnya. Lion Air menggunakan sistem yang terstruktur dan koordinasi yang berkesinambungan antara perawatan pesawat (maintenance), tim operasional serta keputusan yang cepat (quick action) dalam menentukan rotasi baru apabila ada hambatan yang terjadi di lapangan (irregularities) guna mengurai dampak keterlambatan penerbangan.

"Untuk pengaturan operasional pesawat, Lion Air memiliki utilisasi delapan hingga sembilan jam per hari, rata-rata enam pesawat menjalani perawatan [schedule maintenance] serta empat pesawat sebagai cadangan (stand by)," kata dia.

Lion Air menerapkan standar operasional prosedur pengoperasian pesawat udara sesuai aturan dan petunjuk dari pabrik pembuat pesawat, termasuk pemeliharaan pesawat, pengecekan komponen pesawat, pelatihan awak pesawat serta hal lainnya. Lion Air juga mengikuti prosedur yang diterapkan oleh DKPPU (Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara), Kementerian Perhubungan.

"Lion Air selalu melaksanakan budaya keselamatan (safety culture) di seluruh lini operasional penerbangan," jelas dia.