Revitalisasi Pecinan Bangkitkan Geliat Pariwisata

Revitalisasi Pecinan Bangkitkan Geliat PariwisataMahasiswa dan warga pegiat sejarah mendengarkan penjelasan tentang kampung Pecinan Ketandan di kawasan Malioboro saat mengikuti jalan-jalan sore, Malioberen di sepanjang jalan Malioboro, Jogja, beberapa waktu lalu./ JIBI/Harian Jogja - Desi Suryanto
21 Maret 2019 06:37 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Revitalisasi kawasan Pecinan rencananya lebih menonjolkan arsitektur-arsitektur Tionghoa. Selain itu, kawasan pecinan juga akan dijadikan kawasan semipedestrian untuk menarik lebih banyak pengunjung. Revitalisasi kawasan Pecinan dianggap akan membangkitkan geliat pariwisata di kawasan pecinan yang selama ini belum dikembangkan dengan baik.

 Sekadar diketahui, program revitalisasi kawasan Ketandan sebagai kawasan Pecinan yang kental dengan nuansa budaya Tionghoa dimulai sejak 2014 lalu. Sedikit demi sedikit bangunan fasad di kawasan itu menampilkan corak dan kekhasan bangunan Thionghoa. "Sebenarnya sudah ada grand design untuk menampilkan fasad-fasad bernuansa Tionghoa. Cuma harus jelas mana yang menjadi kewenangan pemerintah dan mana yang bisa dilakukan oleh warga. Jadi perlu diasosiasikan," kata Ketua Jogja Chinese Art And Culture Centre (JCACC) Harry Setio, Rabu (20/3).

Tahun ini, Pemkot Jogja melanjutkan revitalisasi tahap II yang difokuskan pada fasad bangunan dengan mengecat muka bangunan, memperbaiki teras rumah, mengganti kayu yang rusak, hingga mengganti jendela agar sesuai dengan gaya arsitektur bangunan asli. Pasalnya bangunan di kawasan Ketandan biasanya bergaya arsitektur yang khas yaitu gabungan arsitektur Tionghoa, Portugis, Belanda dan Jawa.

Rencananya jalan aspal di sepanjang Kampung Ketandan juga bakal diganti menjadi jalan batu. Materialnya dipilih yang mampu mencirikan kekhasan suasana budaya Tionghoa. Hal itu untuk mendukung wacana menjadikan Pecinan pedestrian atau semipedestrian. Apabila diganti dengan jalan batu, menurutnya, pengunjung yang datang akan makin merasa nyaman. Terlebih, parkir Pecinan kini sudah dialihkan ke daerah Suryatmajan.

 

Sejarah Bangunan

Menanggapi hal tersebut Ketua (Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies) Asita DIY, Udhi Sudiyanto, mengatakan revitalisasi Pecinan berpotensi membangkitkan geliat pariwisata di kawasan tersebut. Sebelumnya, menurut Udhi, wisata pecinan belum tergali dengan baik. "Dengan adanya revitalisasi yang akan menjadikan kawasan Pecinan jadi semipedestrian, harapannya nanti kawasan itu juga bisa jadi objek wisata," kata Udhi.

Udhi berharap nantinya di kawasan Pecinan yang semipedestrian juga dilengkapi dengan kios-kios perbelanjaan suvenir khas Tionghoa. Sehingga adanya kios-kios itu menandakan bahwa kawasan itu sudah menjadi objek wisata.

"Selama ini kami pelaku wisata memang belum terlalu sadar kalau kawasan Pecinan bisa menjadi objek wisata baru. Adanya revitalisasi ini sangat bagus buat pengembangan wisata di Pecinan. Apalagi kalau setiap bangunannya ditambahi storytelling yang menarik," kata Udhi.

Storytelling sejarah bangunan-bangunan di kawasan Pecinan, seperti bagaimana bangunan tersebut terbentuk dan awal mula orang-orang di kawasan Pecinan bermukim dinilai akan menegaskan kawasan Pecinan sebagai wisata budaya. "Kalau jadi semipedestrian pascarevitalisasi jelas merupakan penawaran yang menarik bagi pelaku wisata," kata Udhi.