Wow .. THR Tahun Ini Kebanyakan untuk Leisure, Tanda-Tanda Kian Sejahtera?

Wow .. THR Tahun Ini Kebanyakan untuk Leisure, Tanda-Tanda Kian Sejahtera?Ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam
10 Juni 2019 07:17 WIB Puput Ady Sukarno Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai pada libur Lebaran tahun ini terjadi perubahan tren belanja masyarakat. Jika sebelumnya dana yang ada untuk membeli kebutuhan sandang kini justru mengarah ke kebutuhan leisure.

"Perubahannya ada. Belanja pakaian jadi mulai berkurang bergeser ke belanja leisure, seperti rekreasi, perhotelan, makanan minuman, oleh-oleh dan restoran," ujarnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Minggu (9/5).

Menurutnya, pergeseran tersebut terjadi karena harga baju atau pakaian, saat ini dinilai semakin terjangkau, sehingga tradisi membeli baju baru saat Lebaran mulai ditinggalkan. "Sekarang beli bajunya bisa kapan saja," ujarnya.

Apalagi, lanjut Bhima, saat ini juga ditambah dengan semakin masifnya belanja online di kalangan masyarakat, seiring penetrasi dan akses Internet yang makin merata di wilayah Indonesia.

"Tren belanja online perlahan menggeser omzet di toko konvensional. Banjir diskon dan potongan ongkir (ongkos kirim) di toko online saat Lebaran juga efektif menaikkan pembeli," ujarnya.

Menurutnya, pola konsumsi lebaran tahun ini makin di-drive generasi milenial yang menginginkan lebih banyak belanja leisure dan online.

Kendati demikian, lanjut dia, saat ini masyarakat juga sudah mulai banyak memilih menyisihkan sebagian dananya untuk disimpan, dari pada jor-joran untuk belanja. "Saat ini juga mulai banyak yang disimpan uangnya buat investasi dan persiapan untuk bayar uang sekolah anak," ujarnya.

 

Penggunaan THR

Sebelumnya, Bhima mengatakan dana Tunjangan Hari Raya (THR) diperkirakan dapat mendorong konsumsi secara seasonal atau musiman, karena bertepatan dengan puncak permintaan masyarakat.

"Peningkatan THR PNS bisa dorong belanja, khususnya di daerah sepanjang arus mudik lebaran. Konsumsi rumah tangga diprediksi tumbuh 5%-5,1% year on year (yoy)," ujarnya kepada JIBI, Jumat (24/5).

Meski tumbuh positif, konsumsi tidak mengalami perubahan yang signifikan jika dibanding kuartal II/2018 yakni 5,16% yoy. Menurutnya, faktor pertumbuhan konsumsi tidak signifikan meski ada THR, lantaran sebagian masyarakat kelas menengah dan atas tidak langsung membelanjakan uang THR-nya.

"Waktu lebaran yang mendekati tahun masuk ajaran baru sekolah juga membuat sebagian masyarakat melakukan saving," ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, kondisi politik paska pilpres juga bakal ada pengaruhnya, meskipun tidak dominan dalam kepercayaan konsumen berbelanja saat lebaran. "Kejadian rusuh pada 22 Mei 2019 membuat pusat perbelanjaan terganggu dan arus distribusi logistik di Jabodetabek terpengaruh," ujarnya.

Sementara, sisi inflasi cenderung stabil tetapi perlu dicek inflasi bahan makanan masih jadi ancaman jelang lebaran. "Jadi harus ada antisipasi inflasi juga mendekati Lebaran sehingga daya beli tetap terjaga," ujarnya.

Diketahui sebelumnya pencairan secara serentak dana THR pada Mei dan gaji ke-13 untuk aparatur sipil negara (ASN) pada Juni, diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa selain agar dapat dimanfaatkan PNS, TNI, Polri dan pensiunan untuk merayakan hari raya Idulfiti, pencairan THR juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Tanah Air terutama dari sisi konsumsi, baik dari first round effect maupun second round effect.

"Kami berharap dengan adanya THR ini dan nanti bulan depan juga ada gaji ke -13, itu akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi jauh lebih tinggi," ujarnya.

Sumber : Bisnis Indonesia