Perajin Songket dan Tenun Diminta Tak Tergantung pada Bahan Baku Impor

Perajin Songket dan Tenun Diminta Tak Tergantung pada Bahan Baku ImporSejumlah siswa melihat proses pembuatan tenunan kain songket Batubara saat berkunjung di Batubara, Sumatera Utara, Rabu (3/8/2016). Sebanyak 19 pelajar berprestasi asal Sulawesi Barat tersebut melakukan perjalanan ke Sumut sebagai bagian dari program Siswa Mengenal Nusantara yang bertujuan seluruh siswa dapat mengenal budaya, adat istiadat dan memberikan wawasan yang lebih luas dalam mengenal nusantara. - Antara/Septianda Perdana
09 November 2019 07:27 WIB Ropesta Sitorus Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pelaku UKM yang memproduksi kain tenun dan songket di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), diminta untuk jangan terlalu tergantung pada bahan baku impor.

Hal itu disampaikan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat berkunjung dan berdialog dengan ke pelaku UKM yang memproduksi tenun dan songket yakni Fikri Collection Kota Palembang, Jumat (8/11/2019).

“Saya mendapati ternyata bahan baku untuk tenun dan songket 60-70 persen masih impor,” kata Teten seperti dikutip dari keterangan tertulis. 

Material seperti benang emas yang menjadi elemen penting dalam songket sebagian besar masih diimpor dari Thailand dan China.

Oleh karena itu, Teten mengusulkan dan mengupayakan jalan keluar dengan beberapa langkah yang telah dilakukan misalnya di Mongolio di mana ada UKM di negara itu yang membudidayakan ulat sutera dengan memberinya makanan berupa tanaman jenis tertentu sehingga mampu menghasilkan kokon berwarna emas.

Hal seperti itu, kata dia, dapat direplikasikan di Indonesia sehingga konten lokal untuk bahan baku songket dan tenun dapat diperbesar.

Teten Masduki menegaskan akan membangun iklim usaha yang kondusif bagi para pelaku UKM di tanah air sehingga ketika iklim produksi sudah terbentuk dengan baik pengembangannya bisa semakin mudah dan cepat.

Pada kesempatan itu, dia berdialog dengan pemilik galeri songket Fikri yang memulai usahanya sejak 1997 dan mencari tahu kendala yang dihadapi di lapangan.

Fikri mengajak Teten untuk melihat langsung produksi songket di galerinya yang kerap kali memakan waktu hingga tiga bulan untuk selembar kain.

Salah satu songket andalan Fikri adalah motif Naga Besaung yang cirinya adalah memuat banyak unsur warn emas dipadupadankan dengan warna-warna lembut seperi biru langit atau abu muda.

"Ini terinspirasi dari budaya masa lalu karena Palembang juga banyak pengaruhnya dari budaya Tionghoa," kata Fikri.

Selain Naga Besaung, ada pula motif cantik manis, yang tidak terlalu ramai, tidak terlalu banyak benang emas dan biasa digunakan dalam kesempatan acara yang tidak terlalu formal.

“Biasa dipakai di acara adat Palembang atau Medan,” lanjut Fikri.

Harga selembar songket di galeri Fikri beragam mulai dari Rp500.000. Bahkan ada yang dibanderol harga Rp75 juta yakni songket yang proses pembuatannya sama sekali tidak menggunakan mesin. Pembuatan satu pasang songket yang terdiri dari satu helai selendang dan bawahan, bisa sampai tiga bulan.

Sumber : bisnis.com