Harga Cabai Kembali Merangkak Naik

Harga Cabai Kembali Merangkak NaikPetani memanen cabai rawit di area penanaman cabai di Pondok Wonolelo II, Widodomartani, Ngemplak, Selasa (4/9 - 2018). Beberapa tanaman terlihat mengering karena dibiarkan oleh petani. Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
10 Desember 2019 20:27 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Harga cabai untuk semua jenis terpantau mengalami kenaikan pada Senin (9/12). Permintaan pasar yang meningkat disinyalir menjadi penyebab kenaikan harga cabai. 

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag DIY Yanto Apriyanto mengungkapkan berdasarkan pantauan di lapangan, harga rata-rata cabai untuk semua jenis mulai merangkak naik. Kenaikan tertinggi dialami cabai rawit merah, mencapai 18% dari Rp27.333 per kilogram (kg) menjadi Rp33.000 per kg. “Harga cabai merah keriting kenaikannya 8,06 persen dari Rp19.000 per kg menjadi Rp20.667 per kg, cabai merah besar naik 4,84 persen dari Rp19.667 per kg menjadi Rp20.667 per kg, sedangkan cabai rawit hijau naik 1,52 persen dari Rp21.667 per kg menjadi Rp22.000 per kg," kata dia, Senin.

Ia mengungkapkan komoditas bahan pangan khususnya cabai memang mengalami kenaikan harga cukup besar. Kenaikan ini dipengaruhi permintaan pasar yang meningkat dan pengaruh cuaca hujan. Menurutnya, kenaikan ini tidak terpengaruh semakin dekatnya musim liburan Natal dan Tahun Baru.

"Untuk pengaruh Natal dan Tahun Baru sebenarnya bukan sebagai indikator karena hanya satu komoditas yang mengalami kenaikan. Natal dan Tahun Baru belum berpengaruh," kata dia.

Dia mengungkapkan untuk menjaga kestabilan harga bahan pangan di pasaran terutama menyambut Nataru, Disperindag DIY akan menggelar pasar murah. Pasar murah ini akan diadakan di halaman kantor Disperindag DIY pada 19 dan 20 Desember. Sementara untuk operasi pasar beras dilaksanakan pada 27 November hingga 16 Desember 2019. "Kami mengalokasikan 20,5 ton beras medium untuk OP beras murni di empat kabupaten dan kota. Apabila dipandang perlu kita tingkatkan kembali jumlah OP beras murninya," ujar dia. 

Pangan Mencukupi

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Sasongko mengungkapkan untuk padi meskipun musim hujan mundur, beberapa daerah tetap panen. Karena itu ketersediaan padi hingga Tahun Baru aman. "Selain itu, untuk daging ayam dan sapi juga sudah siap. Berdasarkan data di lapangan, produksi bawang merah dan cabai merah cukup banyak. Sampai Tahun Baru masih aman dari sisi produksi," kata dia, Senin.

Dari sisi konsumsi ia mengatakan tetap akan ada peningkatan, tetapi tidak setinggi ketika Lebaran. "Untuk Natal tetap ada peningkatan tetapi tidak banyak karena paling wisatawan yang semakin banyak," kata dia.

Sasongko mengungkapkan musim hujan mundur dan memengaruhi musim tanam terutama daerah yang kekurangan air. Namun, ia menjamin tidak terjadi tidak akan mengganggu target produksi tahun ini.

"Terjadi pergeseran tanam. Kami berharap tidak berpengaruh di tahun akan depan. Mundurnya musim hujan berpengaruh pada masa tanam. Kita kehilangan satu musim tanam karena mundurnya luar biasa," kata dia.

Ia menyebutkan ada tiga jenis daerah berdasarkan masa taman di DIY yakni satu kali masa tanam, dua kali masa tanam dan tiga kali masa tanam. Mundurnya musim hujan diakui berdampak pada musim tanam terutama daerah yang satu kali masa tanam dan dua kali masa tanam.

"Untuk daerah yang tiga kali masa tanam justru lebih stabil karena ketersediaan air yang selalu melimpah. Yang mundur biasanya di daerah Gunungkidul terutama daerah tadah hujan dan lahan padi gogo," terang dia. 

Kepala Kanwil Perum Bulog DIY Juaheni sempat mengungkapkan ketersediaan beberapa komoditas pangan yang di kuasai oleh Bulog, seperti beras, minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, bahkan daging semua dalam kondisi cukup. Karena itu masyarakat tidak perlu khawatir akan ketersediaan bahan pangan selama Nataru. “Masyarakat tidak perlu khawatir dengan pasokan stok pangan di DIY dan sekitarnya. Kami sudah siapkan stoknya cukup untuk wilayah DIY dan sekitarnya,” jelas dia.

Ia menjelaskan stok cadangan beras Pemerintah di Gudang Bulog di seluruh wilayah kerja DIY yang meliputi eks Karesidenan Banyumas dan Kedu mencapai 40.000 ton. Jumlah ini cukup untuk empat bulan ke depan sambil menunggu masa panen pertama awal tahun 2020.

Stok komoditas selain pangan pokok seperti gula pasir, minyak goreng, tepung terigu dan daging pun sangat memadai yang rata-rata mencukupi untuk tiga hingga empat bulan ke depan.