Topang Ekonomi DIY dengan Gotong Royong

Topang Ekonomi DIY dengan Gotong RoyongKepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan ketika memberikan keterangan mengenai Pekan QRIS Nasional dalam jumpa pers di RM Mang Engking, Jogja, Selasa (10/3)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
08 Mei 2020 09:37 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai upaya menopang pertumbuhan ekonomi di DIY di tengah pandemik Covid-19 ini, Bank Indonesia menilai diperlukan gotong royong seluruh lapisan masyakarat. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan mengatakan pada triwulan I/2020, ekonomi DIY mengalami tekanan seperti provinsi lainya di Indonesia. Realisasi pertumbuhan PDRB DIY pada Triwulan I/ 2020 mencatatkan kontraksi 0,17% (year on year/yoy) atau turun 5,48% (quartal to quartal/qtq). Kinerja perekonomian DIY lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi nasional maupun Jawa, yang tumbuh sebesar 2,97% (yoy) dan 3,42% (yoy). "Beberapa hal telah dilakukan untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih besar, antara lain konsumsi masyarakat kelas menengah ke bawah terus dijaga," kata dia, Kamis (7/5).

Ia mengatakan Pemda DIY telah menyiapkan bantuan tunai jaminan hidup (jadup) sebesar Rp600.000 per kepala keluarga bagi masyarakat yang tidak mampu. Jadup ini melengkapi Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang semakin diintensifkan. "Sementara itu gotong royong aksi sosial yang terus dilakukan kepada masyarakat yang membutuhkan sangat diapresiasi, karena mampu menjaga roda ekonomi masyarakat menengah kebawah terus berputar," kata dia.

Ia menjelaskan Bank Indonesia melakukan quantitative easing secara prudent yakni menambahkan likuiditas di perbankan melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM), pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, term-repo perbankan, FX Swap dan pembebasan tambahan giro bagi perbankan yang tidak memenuhi ketentuan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM). Hingga Mei 2020 Bank Indonesia telah menginjeksi likuiditas ke perbankan dengan total mencapai Rp503,8 triliun.

Dengan quantitiative easing tersebut, perbankan saat ini telah memiliki likuiditas yang lebih dari cukup, sehingga perbankan mampu untuk mendorong perbankan dalam pembiayaan maupun restrukturisasi kredit kepada UMKM dan pelaku usaha dalam rangka pemulihan ekonomi.

Bank Indonesia  akan terus memperkuat koordinasi ini dengan Pemerintah dan OJK untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian. "Perumusan kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh akan selalu dilakukan secara prudent dan akuntabel, sehingga dapat menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi DIY tetap baik dan berdaya tahan," ujar dia.

Penurunan ekonomi tersebut utamanya disebabkan oleh statistical base effect. Setelah mengalami rekor pertumbuhan tertinggi di 2019 (PDRB DIY 6,60% yoy) maka secara statistik pertumbuhan ekonomi pada 2020 akan rendah. Dari lapangan usaha, statistical base effect mempengaruhi kontraksi di sektor konstruksi dan pertanian.

 

Ditopang Proyek

Pada 2019 ekonomi DIY tumbuh ditopang konstruksi Proyek Strategis Nasional (PSN) Yogyakarta International Airport (YIA), pembangunan underpass dan jalan lainnya. Sejak berakhirnya konstruksi YIA di 2019, ruang pertumbuhan akan semakin terbatas karena belum terdapat proyek konstruksi besar lainnya yang berjalan. 

Sementara itu produksi sektor pertanian pada triwulan I umumnya meningkat, utamanya disumbang oleh panen raya padi secara nasional. Namun sebagai akibat dari mundurnya musim hujan 2019/2020, masa panen raya padi turut bergeser dari Maret menjadi April 2020.

Fenomena ini terjadi di hampir seluruh daerah sentra produksi secara nasional. Sebagai catatan, apabila pertumbuhan ekonomi DIY mengecualikan statistical base effect dari sektor konstruksi dan pertanian, maka ekonomi DIY triwulan I/ 2020 mampu tumbuh 1,72% (yoy).

Sementara itu efek ekonomi dari Covid-19 mulai berdampak pada penurunan kinerja sektor pariwisata dan industri pengolahan di penghujung triwulan. Secara umum kinerja pariwisata DIY pada awal tahun 2020 relatif masih baik. Namun sejak konfirmasi pasien Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020, kinerja pariwisata di berbagai destinasi menurun. Pada Maret 2020, jumlah wisatawan asing maupun domestik yang menginap di hotel berbintang di DIY turun 30,8% (yoy) dibanding tahun sebelumnya.

Sementara itu jumlah penumpang angkutan udara juga menurun 30,2% (yoy) dibanding Maret 2019. Penurunan kinerja pariwisata ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi sektor akomodasi makan minum, sektor transportasi, hingga industri pengolahan makanan minum tidak dapat tumbuh sebesar periode sebelumnya.

Dari sisi kelompok pengeluaran, kondisi ekonomi global yang juga menurun menjadi momentum DIY untuk mencatatkan net-ekspor. Hal ini menjadi catatan positif bagi kinerja DIY dalam peran nyata perbaikan defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) yang dialami Indonesia. Pada triwulan I/ 2020 DIY mampu mendorong ekspor untuk tumbuh positif sebesar 5,25% (yoy) dengan pertumbuhan impor hanya sebesar 2,01% (yoy).

Namun perlu diwaspadai, dampak ekonomi dari Covid-19 yang terus memburuk di berbagai negara dapat mengakibatkan penurunan kinerja ekspor DIY di masa yang akan datang.

 

Inflasi DIY

Sementara itu, kinerja Inflasi DIY masih tercatat baik. Pada April 2020, inflasi DIY tercatat deflasi 0,24% (month to month/mtm). Dengan capaian tersebut inflasi DIY laju inflasi DIY secara akumulatif sampai dengan April 2020 tercatat 0,50% (year to date/ytd) atau secara tahunan yakni 2,34% (yoy). Capaian inflasi DIY masih berada pada sasaran yang ditetapkan, yakni 3,0%±1% (yoy). Terkendalinya inflasi DIY pada April 2020 disebabkan oleh deflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food), sebagai dampak dari kecukupan stok pangan untuk memenuhi kebutuhan hingga Lebaran.

Selain itu inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) juga menurun. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan udara, akibat dari upaya pembatasan aktivitas masyarakat sehingga permintaan terhadap angkutan udara menurun.

 Kondisi tersebut juga memengaruhi prakiraan inflasi pada saat Ramadan dan Idulfitri yang lebih rendah daripada  data historisnya. Bank Indonesia meyakini sampai dengan akhir 2020, inflasi akan terkendali dan rendah di kisaran sasaran 3% kurang lebih 1%.