Masjid Siti Djirzanah, Salah Satu Simbol Akulturasi Budaya di Jogja

Masjid Siti Djirzanah, Salah Satu Simbol Akulturasi Budaya di JogjaMasjid Siti Djirzanah yang berada di Jl. Malioboro, Ngupasan, Gondomanan, Kota Jogja, seperti tampak pada Rabu (27/5/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
27 Mei 2020 22:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kehadiran Masjid Siti Djirzanah yang berada tepat di tengah-tengah pertokoan Malioboro menjadi oase tersendiri bagi pengunjung, karyawan pertokoan, pedagang kaki lima (PKL) di kawasan tersebut. Masjid dengan arsitektur yang kental unsur budaya Tionghoa itu bisa jadi simbol akulturasi budaya di Jogja.

Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DIY, Lie Sioe Fen mengatakan pembangunan Masjid Siti Djirzanah diinisiasi oleh mantan Wali Kota Jogja Hery Zudianto. Masjid dibangun dengan menggunakan konsep pecinan dan indische. "Letaknya sangat strategis. Di Malioboro dan dekat juga dengan Ketandan," ujar Lie kepada Harianjogja.com, Rabu (27/5/2020).

Tak berlebihan, Lie menambahkan, peran mantan Wali Kota Jogja itu terhadap Masjid Siti Djirzanah memang sangat besar. Terbukti, nama masjid itu pun diambil dari mendiang ibunda Hery Zudianto.

Kehadiran masjid di tengah-tengah pertokoan Malioboro memang jadi angin segar bagi umat muslim, khususnya yang keturunan Tionghoa. Bahkan, PITI DIY, kata Lie, juga pernah merayakan malam pergantian tahun dalam budaya Tionghoa yang merupakan perayaan yang cukup sakral untuk dilakukan. "Kami juga pernah merayakan Imlek di Masjid Siti Djirzanah dengan dibalut dengan acara pengajian dan keagamaan," kata Lie.

Masjid seluas 120 meter persegi yang berada di antara toko alat-alat elektronik Sumber Cahaya dan gerai batik Soenardi itu dari depan tampak tidak seperti masjid biasanya. Terdapat tulisan berbahasa mandarin Qingzhensi yang artinya masjid di tengah-tengah tulisan masjid dalam bahasa Arab di sebelah kanan dan masjid dalam bahasa Inggris (mosque). Di bawah tulisan itu, terdapat atap berwarna merah hijau dan biru yang biasa dijumpai di bangunan kelenteng.

Di bagian dalam, lantai marmer putih menjadi alas bagi masyarakat yang beribadah di masjid. Tembok masjid di dalam didominasi dengan warna biru yang tidak mengurangi kekhasan budaya Tionghoa.

Untuk tempat wudu bagi laki-laki di ada sisi kiri, sedangkan untuk wanita di sebelah kanan. Masjid itu dibuka untuk umum mulai pukul 11.00 WIB dan ditutup bakda Salat Isya.

“Biasanya yang salat di sini kebanyakan adalah umat muslim keturunan Tionghoa. Tetapi banyak juga warga sekitar masjid yang datang beribadah. Semoga masjid ini memudahkan masyarakat yang sedang berada di Malioboro untuk beribadah," kata Lie.

Lie juga berharap Masjid Siti Djirzanah menjadi simbol akulturasi dari toleransi masyarakat Jogja. Dengan begitu masyarakat juga diharapkan bisa lebih terbuka melihat perbedaan.

 

Pencegahan Covid-19

Koordinator Staf Operasional Masjid Siti Djirzanah Muhammad Yunus menjelaskan masjid yang tersebut merupakan masjid wakaf yang diatasnamakan mendiang ibunda Hery Zudianto yang bernama Siti Djirzanah. "Masjid dibuka pada 10 Agustus 2018, langsung dimanfaatkan untuk ibadah bagi masyarakat maupun pedagang yang ada di sekitar Malioboro," ujar Yunus.

Selama masa pandemi Covid-19, Masjid Siti Djirzanah tetap dibuka untuk umum. Tetapi protokol pencegahan penularan Covid-19 tetap diterapkan oleh pengurus masjid tersebut. "Kami sudah menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19 sejak dua bulan yang lalu ketika pandemi Covid-19 ini sudah mulai ramai diperbincangkan. Di tiap-tiap tempat wudhu juga kami siapkan hand sanitizer," kata Yunus.