Rupiah Tertekan, Pekan Depan Bisa Tembus Rp17.950
Rupiah diprediksi bergerak di Rp17.800–Rp17.950 per dolar AS, tertekan sentimen fiskal dan arus modal asing.
Teknisi beraktivitas di dekat pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019). /Reuters-Willy Kurniawan
Harianjogja.com, JAKARTA — Belum lama ini, Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan garis besar krisis keuangan yang dialami PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. ini diawali oleh permasalahan dengan 36 lessor.
Lessor adalah perusahaan yang menyediakan jasa leasing atau menyewakan barang dalam bentuk guna usaha. Lessor tidak hanya menyediakan barang sewa dalam bentuk fisik, tetapi juga merek dagang hingga kekayaan intelektual.
Dalam kasus Garuda Indonesia, aktivitas leasing yang dilakukan adalah pengadaan armada pesawat. Praktik ini bukan hal janggal, karena banyak perusahaan menyewa barang produksi hingga kendaraan operasional.
Lalu berapa kerugian emiten bersandi GIAA ini dari kegiatan leasing tersebut?
Berdasarkan keterangan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra pada awal tahun ini, GIAA telah memutuskan mengakhiri kontrak secara dini atau early termination dengan lessor Nordic Aviation Capital (NAC) yang sebetulnya jatuh tempo pada 2027. Pemutusan kontrak secara dini itu membuat perseroan hemat hingga lebih dari US$220 juta.
Adapun dalam kontak dengan Garudan Indonesia, lessor NAC memberikan sewa berupa pesawat CRJ-1000. Namun selama 7 tahun mengoperasikan pesawat tersebut, perusahaan pelat merah ini justru rugi lebih dari US$30 juta per tahun atau Rp427,85 miliar (kurs Rp14.261).
Dengan asumsi kurs sekitar Rp14.000, setiap bulannya Garuda Indonesia mendera kerugian sekitar Rp35 miliar. Sementara itu tarif sewa untuk 12 pesawat tersebut US$27 juta atau Rp385,07 miliar.
GIAA sebelumnya juga telah menegaskan akan mengurangi penggunaan pesawat seperti Bombardier dan ATR lantaran dianggap tidak cocok dengan Garuda. Irfan menjelaskan pesawat itu biasanya digunakan untuk penerbangan bolak-balik yang tidak cocok dengan karakter orang Indonesia.
BACA JUGA: Vaksinasi Difabel di DIY Diminta Dipercepat
"Jadi gini kaya Bombardier itu kan kaya pesawat commuting, commuting itu artinya orang terbang dengan itu kalau bolak-balik. Pesawat itu bagus kalau 3 jam-an terbang sementara di Indonesia orang commuting cuma ke Bandung di luar itu orang nginep nggak commute," kata Irfan.
Garuda pun berupaya mengembalikan pesawat yang tidak sesuai kepada pihak lessor. Diantaranya tipe CRJ-1000 bombardier dengan kondisi saat ini sebanyak 18 pesawat yang sudah dikandangkan. Kesepakatan terkait dengan pesawat CRJ-1000 telah diselesaikan saat Singapore Airshow pada Februari 2012 silam.
Pada saat itu, Garuda Indonesia awalnya setuju untuk memperoleh enam pesawat CRJ-1000, dengan opsi untuk menerima pengiriman 12 jet tambahan. Kontrak tersebut senilai US$1,32 miliar. Garuda Indonesia menerima pengiriman jet regional pertama buatan Kanada itu pada Oktober 2012. Bombardier mengirimkan CRJ1000 terakhir ke Garuda tersebut pada Desember 2015.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pemerintah targetkan 40.000 Kopdes Merah Putih beroperasi Oktober 2026 untuk dorong ekonomi desa dan distribusi bantuan.
Jadwal KRL Jogja–Solo Minggu 5 Juli 2026 lengkap dari Jogja hingga Palur. Tarif Rp8.000, cek jam keberangkatan terbaru.
Polda Lampung gagalkan peredaran 5 kg sabu dan ekstasi di Bakauheni. Empat tersangka diamankan, termasuk oknum aparat.
Pascal Wehrlein menang di Formula E Shanghai 2026. Kemenangan ke-10 musim ini, kukuhkan dominasi dan peluang juara dunia.
Dua bayi ditemukan di Solo dalam sehari, satu selamat di kereta, satu meninggal di selokan. Polisi lakukan penyelidikan.