Advertisement
Harga Beras Terancam Meroket, Ternyata Ini Penyebabnya
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Penghentian ekspor beras non-Basmati oleh India berisiko membuat negara produsen beras yang lain mengikuti jejak restriksi tersebut.
Pengamat Pertanian Asosiasi Penggiat Ekonomi Politik Indonesia, Khudori menyebut restriksi ekspor pada dasarnya bak penyakit menular alias mudah diikuti oleh negara lainnya. Aksi India membatasi ekspor beras bukan kali ini terjadi, pada 2022 India yang menyumbang 40% pasar ekspor beras dunia juga menerapkan kebijakan pengenaan bea keluar 20% terhadap sejumlah jenis beras mereka dan melarang penjualan beras pecah ke luar negeri.
Advertisement
"Aksi ini sebagai respons atas iklim ekstrem yang diperkirakan akan menekan produksi [beras]," kata Khudori, Minggu (23/7/2023).
Khudori mengatakan, restriksi ekspor beras oleh India membuat peluang mengimpor dari negara tersebut sangat kecil. Adapun, negara lain yang selama ini diandalkan Bulog untuk mengimpor yakni Thailand, Vietnam dan Pakistan.
BACA JUGA: Ini Penyebab Harga Beras di Jogja Sekarang Mahal
Itulah sebabnya, bila negara-negara alternatif pengekspor beras itu mengikuti jejak India untuk membatasi beras keluar, maka harga beras berisiko besar terkerek naik.
Oleh karena itu, pengadaan beras impor sebanyak 2 juta ton oleh Bulog harus dipastikan datang secara gradual. Hal itu, sebagai upaya mengamankan cadangan beras pemerintah tetap tersedia dan mengendalikan harga beras di dalam negeri. "Akan tetapi, sejak 2022 terlihat tidak mudah mengimpor beras," ucap Khudori.
Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi memastikan Indonesia memiliki stok beras yang cukup meskipun pasar beras global terguncang karena aksi pelarangan ekspor beras India.
Musababnya, importasi yang dilakukan Bulog bukan berasal dari India. Bahkan, dia membeberkan bahwa pemerintah India justru menawarkan trade balancing dengan Indonesia. India meminta pemerintah Indonesia mengimpor sejumlah produk dari mereka untuk menyeimbangan jumlah pembelian mereka terhadap CPO Indonesia yang jauh lebih besar. "Kami optimistis beras aman," ujar Arief, Sabtu (22/7/2023).
Sumber: Bisnis.com
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Long Weekend Paskah, Penumpang KA Daop 6 Jogja Capai 36 Ribu Orang
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement






