Advertisement
BI DIY Optimistis Pertumbuhan Ekonomi DIY 2025 Capai 4,8 hingga 5,6 Persen
Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo. - dok istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia (BI) Perwakilan DIY optimis ekonomi DIY pada 2025 bisa melanjutkan tren pertumbuhan positif pada kisaran 4,8-5,6% (year-on-year/yoy). Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo mengatakan ada beberapa faktor pendorong pertumbuhan ekonomi DIY.
Di antaranya kenaikan UMP 2025 sebesar 6,5% yoy, kemudian implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan akan mendorong kinerja pertanian dan industri pengolahan. Sebab berpotensi meningkatkan permintaan kebutuhan bahan baku. Faktor lainnya adalah kondisi cuaca yang lebih kondusif seiring dengan berakhirnya El Nino.
Advertisement
"Mencermati kondisi terkini, BI DIY optimis pertumbuhan ekonomi DIY pada 2025 diperkirakan akan melanjutkan pertumbuhan positif pada kisaran 4,8-5,6% yoy," ucapnya, Selasa (6/5/2025).
BACA JUGA: Ekonomi DIY Triwulan I 2025 Tumbuh 5,11 Persen
Meski optimis, ada beberapa tantangan yang perlu diantisipasi baik perekonomian global dan domestik, agar pertumbuhan ekonomi DIY yang berkualitas dan berkesinambungan tetap terjaga.
Ia mengatakan sinergi dan kolaborasi antara Pemerintah Daerah (Pemda), BI, dan instansi terkait lainnya akan terus diperkuat guna meningkatkan perekonomian DIY. Beberapa langkah sinergi yang akan terus diperkuat diantaranya akselerasi konektivitas antar daerah, integrasi transportasi, dan penguatan promosi pariwisata.
Kemudian diversifikasi produk ekspor dengan mengidentifikasi produk lokal yang memiliki potensi pasar internasional. "Dan terakhir pemberian insentif dan kepastian berusaha dalam rangka menarik minat calon investor," jelasnya.
Sri Darmadi mengatakan ekonomi DIY di awal 2025 masih melanjutkan tren pertumbuhan positif. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 5,11% yoy, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,07% yoy.
"Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa dan Nasional masing-masing sebesar 4,99% yoy dan 4,87% yoy," ucapnya.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi DIY utamanya didorong oleh LU industri pengolahan, pertanian, dan penyediaan akomodasi & makan minum. Menurutnya peningkatan mobilitas penduduk ke DIY pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1446 H, Isra Mi'raj, Imlek, serta Nyepi menjadi faktor pendorong pertumbuhan LU industri pengolahan.
Adapun Lapangan Usaha pertanian tumbuh seiring dengan peningkatan produksi tanaman pangan yang cukup tinggi pada triwulan I 2025. Tercermin dari peningkatan produksi padi 147% yoy dan peningkatan produksi jagung 220% yoy. Produksi tanaman perkebunan juga mengalami peningkatan, antara lain pada komoditas kelapa, cengkeh, dan kopi, serta meningkatnya produksi perikanan darat dan perikanan laut yang menjadi pendorong peningkatan kinerja sektor perikanan.
Sedangkan Lapangan Usaha penyediaan akomodasi & makan minum juga tumbuh positif sejalan dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan konsumsi masyarakat selama periode Ramadan dan Idul Fitri 1446 H. Meski demikian, pertumbuhan LU ini tertahan oleh dampak efisiensi anggaran pemerintah yang menekan aktivitas Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) di hotel. "Tercermin dari penurunan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel sebesar 2,7 poin yoy," katanya.
Dari sisi permintaan pertumbuhan ekonomi DIY didorong oleh kinerja konsumsi rumah tangga yang tumbuh akseleratif sejalan dengan momen libur panjang dan cuti bersama pada Januari. Sehingga menyebabkan peningkatan pengeluaran untuk makanan dan minuman, transportasi/angkutan, komunikasi, rekreasi, dan penginapan.
Momen Ramadan dan Idul Fitri yang berlangsung selama Maret 2025 turut meningkatkan pengeluaran untuk makanan dan minuman, disertai dengan pencairan THR ASN/TNI/POLRI/Pensiunan/Karyawan Swasta yang meningkatkan daya beli masyarakat. Komponen PMTB masih melanjutkan pertumbuhan positif, seiring berlanjutnya proyek pembangunan jalan tol Jogja-Solo, tol Jogja-Bawen, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), dan Jembatan Pandansimo.
BACA JUGA: IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 4,7 Persen Pemerintah Tetap Optimistis
"Konsumsi pemerintah juga tetap tumbuh positif, sejalan dengan pembayaran THR yang diberikan penuh pada triwulan I 2025, serta belanja barang dan jasa APBD yang mengalami kenaikan 11% dibandingkan tahun lalu," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Ratusan Ribu Pemudik Belum Pulang, GT Purwomartani Siap-siap Ramai Lag
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Lonjakan Arus Balik, InJourney Airports Siapkan Ribuan Extra Flight
- Harga Emas Pegadaian Naik Hari Ini 26 Maret, UBS Tembus Rp2,86 Juta
- Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan, Nilai Buyback Justru Merosot
- Okupansi Hotel di DIY Turun, Wisatawan Pilih Solo dan Magelang
- Ekspor Batu Bara Kena Pungutan Baru, Berlaku Mulai 1 April 2026
- Rupiah Menguat Tipis Saat Pasar Menunggu Sinyal Damai Iran
- Pemerintah Berupaya BBM Subsidi Tetap Aman Saat Dunia Bergejolak
Advertisement
Advertisement





