Advertisement
Perkuat Ekosistem Pertanian Kopi dan Kakao Berkelanjutan, Indonesia Gandeng 16 Negara
Kakao. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, BANDUNG—Memperkuat ekosistem pertanian kopi dan kakao berkelanjutan antarnegara, Indonesia menjalin kerja sama dengan 16 negara.
Penguatan kerja sama dilakukan melalui forum yang diprakarsai Kementerian Luar Negeri dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, serta didukung Indonesian Aid.
Advertisement
Kepala Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University, Damayanti Buchori, mengatakan forum tersebut berupaya untuk memberikan pemahaman mendalam tentang rantai pasok kopi dan kakao berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
“Kami mengajak peserta mengunjungi kebun kopi dan kakao milik petani rakyat yang telah menerapkan prinsip agroforestri, intercropping, dan pertanian regeneratif yang bebas bahan kimia,” katanya, dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.com jaringan Harianjogja.com, Sabtu (14/6/2025).
Menurut dia, kunjungan tersebut penting untuk menunjukkan bahwa praktik pertanian tanpa deforestasi telah dilakukan oleh petani kecil dengan pendekatan lokal yang adaptif.
Dia memaparkan selama kegiatan Capacity Building for Like-Minded Countries: Sustainable Coffee and Cacao 2025, sebanyak 36 peserta dari 16 negara sehaluan (LMCs) akan mempelajari aspek teknis dan sosial dari ahli IPB dan praktisi industri.
BACA JUGA: Driver Grab Kena Potongan Tarif Aplikasi 20 Persen, Ini Penjelasan Rincinya
Adapun perwakilan 16 negara tersebut meliputi, yakni Argentina, Bolivia, Brazil, Ekuador, Ghana, Guatemala, Honduras, Kolombia, Malaysia, Meksiko, Nigeria, Pantai Gading, Peru, Republik Dominika, St. Lucia, dan Thailand.
Mereka juga akan mengunjungi Kebun Raya Bogor dan Teaching Factory Coffee di Sekolah Vokasi IPB untuk melihat proses pengolahan kopi.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, Dindin Wahyudin, menerangkan petani rakyat adalah tulang punggung industri kopi dan kakao Indonesia.
“Petani menyumbang lebih dari 90% produksi nasional. Mereka berperan krusial dalam pencapaian SDGs, terutama SDGs 1 dan 2, pengentasan kemiskinan dan kelaparan,” katanya.
Oleh karena itu, Indonesia mendorong sinergi antarnegara produsen untuk membangun tata kelola global yang inklusif dan mengutamakan kesejahteraan petani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Tocantins Mengamuk di Maguwoharjo, PSS Sleman Pesta Gol Tanpa Ampun
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Pasokan Minyak Terancam, Uni Eropa Siapkan Skenario Darurat
- Indosat Hentikan Iklan IM3 Soal Zakat yang Viral dan Menuai Protes
- Update Harga Emas Hari Ini, UBS dan Galeri24 Ikut Melemah
- Stok Beras Digenjot, Bulog Siapkan Langkah Hadapi Kemarau Panjang
- Harga Pangan dan BBM Tekan Inflasi Jogja Saat Lebaran
Advertisement
Advertisement








