Polda DIY Bangun Sumur Bor dan Salurkan Air Bersih di Gunungkidul
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Foto ilustrasi anggaran/APBN - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Sepanjang 2025 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatatkan defisit beruntun dari triwulan I hingga III 2025. Berdasarkan laporan NPI Bank Indonesia (BI) defisit transaksi finansial selama sembilan bulan disebabkan oleh rendahnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Rijadh Djatu Winardi mengatakan kondisi ini bukan mencerminkan masalah fundamental domestik, tetapi lebih menggambarkan respons pasar terhadap ketidakpastian global yang sedang tinggi. Menurutnya defisit yang berulang menjadi sebuah peringatan untuk memastikan ekonomi domestik tetap stabil.
"Defisit yang berulang tetap menjadi sinyal bahwa kita harus memperkuat kepercayaan investor dan memastikan ekonomi domestik tetap stabil," ujarnya.
Dia menjelaskan ada faktor eksternal yang mempengaruhi defisit, di antaranya kenaikan harga minyak global yang meningkatkan defisit neraca perdagangan Migas karena tingginya biaya impor. Rijadh menyampaikan selain itu, faktor global yang menjadi penentu adalah aliran keluar modal di pasar obligasi yang menyebabkan transaksi modal dan finansial defisit besar.
Lebih lanjut dia mengatakan, kendati demikian kepercayaan investor jangka panjang terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga, tercermin dari Investasi Langsung Asing (FDI) yang konsisten surplus. Menurutnya arus modal panas yang keluar lebih besar menjadi penyebab utama NPI secara total berada dalam posisi negatif.
"Defisit dipicu derasnya arus keluar modal asing di obligasi dan saham dan membuat defisit neraca transaksi finansial membengkak."
Rijadh menyampaikan beberapa langkah yang harus dilakukan agar defisit NPI tidak berlanjut. Pertama, memperkuat transaksi berjalan dengan berfokus pada peningkatan daya saing ekspor barang dan jasa, serta pengembangan sektor pariwisata yang intensif untuk memperkecil defisit neraca jasa dan pendapatan primer.
Kedua menurutnya menarik lebih banyak FDI untuk mengatasi kerentanan pada transaksi modal dan finansial, secara bersamaan pendalaman pasar keuangan domestik harus didorong untuk menyediakan sumber pembiayaan internal yang lebih besar, mengurangi ketergantungan pada modal asing.
"Terakhir, otoritas perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan cadangan devisa memadai sebagai bantalan terhadap arus modal keluar yang tiba-tiba," jelasnya.
Menurutnya langkah-langkah ini harus dikoordinasikan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih konsisten untuk membangun kepercayaan pasar investor global. Ia mengatakan langkah ini harus didukung koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih erat dan konsisten untuk membangun kepercayaan pasar, serta memperkuat persepsi risiko Indonesia di mata investor global.
"Pada akhirnya membantu menahan capital outflow," lanjutnya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Gerbang Tol Trihanggo Tol Jogja-Solo mulai dibangun. Desainnya mengusung siluet Situs Kraton Ratu Boko dan ornamen Aksara Jawa.
MORAZEN Yogyakarta sukses menyelenggarakan Run For Fun 2026 pada Minggu (5/7/2026) di area Parkiran Barat MORAZEN Yogyakarta
UEFA mengecam keputusan FIFA mencabut sanksi kartu merah Folarin Balogun dan menilai langkah itu mengancam integritas Piala Dunia 2026.
Said Iqbal membatalkan kunjungan ke ByteDance setelah DPR, pemerintah, dan Tokopedia-TikTok sepakat menghindari PHK sekitar 1.250 karyawan.
PSS Sleman resmi berpisah dengan Nuri Fasya. Manajemen mengapresiasi dedikasi, semangat juang, dan karakter pantang menyerah sang bek.